Ibu, Sumber Cinta Kasih

Ibu ialah segala – galanya. Ia penghibur kita dalam kesedihan, tumpuan harapan kita dalam penderitaan, dan daya kekuatan kita dalam kelemahan. Ia sumber cinta kasih, belas kasihan, kecenderungan hati, dan ampunan. Barangsiapa kehilangan ibunya, hilang pula jiwa murni yang memberkati dan menjagainya siang malam…

(Taken from Kahlil Gibran)

Advertisements

Kesetiaan dan Kehormatan

Berkali – kali aku telah membuat perbandingan antara keluhuran pengorbanan dan kebahagiaan pemberontakan, untuk menemukan mana yang lebih luhur dan lebih indah, namun hingga kini aku telah terpaku hanya pada suatu kebenaran dalam seluruh persoalan itu; dan kebenaran itu ialah kesetiaan, yang membuat seluruh perilaku kita jadi indah dan terhormat…

(Taken from Kahlil Gibran)

When I’m So Lonely

aku merasa…
duka,
sepi,
sesal,
sendiri,
sunyi,
hampa,
senyap,
gelap,
rapuh,
jatuh,
berdarah,
terinjak,
terluka,
tertunduk,
penat,
pahit,
perih,
berat,
sakit,
takut,
hina,
hitam,
hilang,
renta,
rindu,
biru,
malu,
sendu,
haru,
sedih,
merintih,
menangis,
patah,
resah,
marah,
pecah,
rendah,
salah,
terbelah,
gelisah,
mendung,
hujan,
cemas…
tanpa kamu disini

aku tenggelam dalam kegalauan..

pulanglah…

rindu ini menantimu…

 

– LK –

Cinta…menurut mereka

M. Rozak Alifianto bilang kalau cinta itu adalah, “Suatu ungkapan rasa sayang kepada satu orang atau lebih yang tidak dibuat-buat. Rasa cinta yang ada di dalam lubuk hati yang paling dalam. Cinta yang tidak akan mengkhianati orang yang disayanginya untuk selamanya.”

Desri Kartika bilang kalau, ”Cinta itu anugerah. Tapi bisa disebut juga cinta itu musibah. Hehehe.”

“Menurutku..cinta itu tanda Tanya? :D”, Raja Muda Fadli.

“Cinta..suatu rasa dalam hati yang dapat mengubah kepribadian seseorang yang terkena virus cinta. Virus ini dapat membuat orang bahagia dan bisa membuat orang menderita. Cinta bisa indah asal tepat orang yang merasakan cintanya”, Putri Yunita Sari.

Ita Rosita bilang, “Cinta itu anj***. Kenapa kata orang cinta itu bisa membuat kita bahagia? Tapi buktinya Ta sakit karena cinta.”

“Cinta adalah emosi yang ada di setiap diri manusia. Lebih baik mengenal kasih sayang dibandingkan cinta”, Fitri Nursiam.

Radita Ahadunnisa bilang, “Cinta itu kata benda.”

“Cinta = give and share in my life”, Yovy Shelviani.

“Aku juga masih bingung apa itu cinta, tapi yang pasti cinta adalah perasaan saling menyayangi dan berbagi”, Aulia Nur Firdausi.

Dika Rizka Darmawan bilang, “Ooo ia. Cinta itu buta.hhe.”

Wildansyah Syahid bilang kalau cinta itu, “Emosi manusia yang unik.”

Andhika Ardi Kresna bilang kalau cinta itu, “Sesuatu yang indah.”

Endah Lestari bilang kalau, “Cinta itu bulshit.”

“Cinta itu suatu hal yang sakral dan nyata tapi nggak ada bentuk cuma bisa dirasakan.”, Lesley Tamira.

“Saling menerima..setia, pengertian..dan bisa buat aku nyaman.”, Maya Febrianti.

I Gede Ferry Bagus Sriartha (kak Ferry) bilang, “Cinta itu Ayu. Yang kasi kakak cinta cuma Ayu, yang ngerti cinta kakak cuma Ayu, yang kasi arti cinta sebenernya cuma Ayu, cinta itu Ayu. Semua pertanyaan cinta buat kakak, jawabnya  ada di Ayu semua :). Cinta bikin kebahagiaan. 🙂 Find your love, get it, hug it, until u die.”

“Cinta itu kejujuran.”, Latif Hanggoro.

“Cinta itu adalah bahasa yang bisa didengar orang tuli dan bisa dilihat orang buta..hheu.. Cinta adalah ketulusan, pengorbanan, kasih sayang dan kesetiaan.” Kurnia Effendi (Fendi Kurnia).

“Cinta itu hanya tentang kasih sayang dan kebahagiaan.”, Elka Feni Marlina.

“Apa yang Ka dengar dan katakan tentang cinta, itu semua hanya kulitnya aja. Inti dari cinta itu adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan.”, M. Abu Bakar (a Kakay).

 

– LK –

Cinta hanyalah cinta

Sampai kapanpun cinta itu hanya akan menjadi sebuah renungan dalam hidup manusia..

Dan semua pertanyaanku tentang cinta akan menambah keindahan renungan itu sendiri..

Berapapun jawaban dan penjelasan yg diberikan oleh para ahli atau pakar terkait,

tapi cinta akan tetap menjadi cinta itu sendiri,

dan tidak akan pernah terjawab dengan wujud yang lain,

selain cinta..

 

-elkafeni-

Kisah tentang Pengendali Delman

Suatu hari, saya bersama seorang sahabat saya bernama Dewi mengadakan satu perjalanan menuju suatu daerah yang agak (atau bisa dibilang) jauh dari pusat kota tempat kami tinggal. Setelah kurang lebih sembilan puluh menit perjalanan kami habiskan di dalam bus antarkota, kami harus melanjutkan lagi perjalanan kami menuju satu desa yang berada beberapa ratus meter dari tempat kami turun. Kami hanya disuguhkan ojek dan delman sebagai angkutan umum menuju ke tempat tujuan kami. Dan tanpa pikir panjang, otak ekonomis kami memilih delman.

Satu delman bisa memuat sebanyak enam orang (bertubuh normal tentunya) yang terdiri dari lima orang penumpang dan seorang pengendali delman. Setelah berjalan beberapa lama dengan jarak yang cukup jauh, seorang penumpang di samping pengendali delman dan seorang lagi yang duduk di depan kami turun. Salah satu dari mereka memberikan ongkos perjalanan sebesar Rp 2.000,- (untuk dua orang) kepada si bapak. Saya terbengong-bengong ketika bapak pengendali itu…yang dengan tangan bergemetar…menerima ongkos jalan tanpa merasa ongkosnya kurang. Hal serupa terjadi pada penumpang selanjutnya. Setelah delman melaju lagi, seorang ibu tua di depan kami juga turun setelah memberikan selembar uang Rp 1.000,- pada pengendali delman. Betapa tidak manusiawi…menurut saya.

“Ongkosnya memang segitu, Wi?”, saya mencoba bertanya pada Dewi ketika kami baru saja menuruni kereta kuda itu.

“Kenapa? Tarifnya nggak pantas, ya?”, dengan senyum getir ia balik bertanya sekaligus menangkap apa yang saya maksud.

Saya mengangguk. Tersenyum dengan senyum yang tak kalah getir dari senyuman Dewi tadi.

Terlintas di pikiran saya, pendapatan seorang PNS bahkan masih kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Lalu bagaimana dengan pendapatan puluhan, bahkan mungkin ratusan atau ribuan pengendali delman yang mangkal di luar sana? Apa dengan pendapatan harian mereka, kebutuhan keluarga dapat terpenuhi? Lalu bagaimana dengan tunjangan pendidikan dan kesehatan yang kini hanya bisa didapat oleh orang-orang dari kalangan “menengah ke atas”? Apakah mereka juga dapat merasakan nikmatnya makan dengan menu-menu sehat dan bergizi? Dan bagaimana mereka bisa mendapatkan tempat tinggal dan fasilitas hidup yang layak?

Meskipun saya tahu Allah adalah ‘manager dunia’ yang paling adil dan paling bijaksana, tapi hati nurani saya masih selalu mengkhawatirkan keadaan orang-orang seperti mereka. Semoga Allah selalu ada di sisi mereka semua. Amin.

 

– LK –

Memberi dan Kembali

Kita senantiasa meminta sesuatu kepada orang lain. Sayangnya kita sering lupa untuk memberi. Kita tak sadar bahwa apapun yang kita berikan sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri,  bukan untuk siapa-siapa. Kita selayaknya meneladani sang surya yang memberi tanpa mengharap imbalan. Kita hanya perlu percaya bahwa apapun yang kita berikan suatu ketika pasti kembali kepada kita. Ini merupakan keniscayaan suatu hukum alam yang sudah ditetapkan Allah SWT..

(taken from Bukan di Negeri Dongeng)