Kisah tentang Pengendali Delman

Suatu hari, saya bersama seorang sahabat saya bernama Dewi mengadakan satu perjalanan menuju suatu daerah yang agak (atau bisa dibilang) jauh dari pusat kota tempat kami tinggal. Setelah kurang lebih sembilan puluh menit perjalanan kami habiskan di dalam bus antarkota, kami harus melanjutkan lagi perjalanan kami menuju satu desa yang berada beberapa ratus meter dari tempat kami turun. Kami hanya disuguhkan ojek dan delman sebagai angkutan umum menuju ke tempat tujuan kami. Dan tanpa pikir panjang, otak ekonomis kami memilih delman.

Satu delman bisa memuat sebanyak enam orang (bertubuh normal tentunya) yang terdiri dari lima orang penumpang dan seorang pengendali delman. Setelah berjalan beberapa lama dengan jarak yang cukup jauh, seorang penumpang di samping pengendali delman dan seorang lagi yang duduk di depan kami turun. Salah satu dari mereka memberikan ongkos perjalanan sebesar Rp 2.000,- (untuk dua orang) kepada si bapak. Saya terbengong-bengong ketika bapak pengendali itu…yang dengan tangan bergemetar…menerima ongkos jalan tanpa merasa ongkosnya kurang. Hal serupa terjadi pada penumpang selanjutnya. Setelah delman melaju lagi, seorang ibu tua di depan kami juga turun setelah memberikan selembar uang Rp 1.000,- pada pengendali delman. Betapa tidak manusiawi…menurut saya.

“Ongkosnya memang segitu, Wi?”, saya mencoba bertanya pada Dewi ketika kami baru saja menuruni kereta kuda itu.

“Kenapa? Tarifnya nggak pantas, ya?”, dengan senyum getir ia balik bertanya sekaligus menangkap apa yang saya maksud.

Saya mengangguk. Tersenyum dengan senyum yang tak kalah getir dari senyuman Dewi tadi.

Terlintas di pikiran saya, pendapatan seorang PNS bahkan masih kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Lalu bagaimana dengan pendapatan puluhan, bahkan mungkin ratusan atau ribuan pengendali delman yang mangkal di luar sana? Apa dengan pendapatan harian mereka, kebutuhan keluarga dapat terpenuhi? Lalu bagaimana dengan tunjangan pendidikan dan kesehatan yang kini hanya bisa didapat oleh orang-orang dari kalangan “menengah ke atas”? Apakah mereka juga dapat merasakan nikmatnya makan dengan menu-menu sehat dan bergizi? Dan bagaimana mereka bisa mendapatkan tempat tinggal dan fasilitas hidup yang layak?

Meskipun saya tahu Allah adalah ‘manager dunia’ yang paling adil dan paling bijaksana, tapi hati nurani saya masih selalu mengkhawatirkan keadaan orang-orang seperti mereka. Semoga Allah selalu ada di sisi mereka semua. Amin.

 

– LK –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s