Kasih Dalam Gelap

Jangan takut akan kegelapan. Biar kunyalakan lilin-lilin ini dan menggenggam mereka hingga lelehan panasnya mendera jemariku. Aku akan tetap tenang dan tersenyum – tanpa peduli akan prahara dalam batinku. Tangan-tangan kita akan terangkai meski satu sama lain saling meratap. Rengkuhlah ragaku selagi kaki-kaki kita yang berbayang tipis beradu dalam gelap. Segala yang ada dalam dirimu tertulis dalam aksara keakmalan. Biar kucicipi semua lewat citramu.

Bila kau rindu, datangilah wanita bersalib itu dan bawakan padma untuknya. Rindu yang kau bagi takkan membuat hatiku raras seluruhnya. Lalu pergilah kembali – ke dalam gelap – setelah kau lihat lengkungan manis di sudut bibirnya. Isilah lagi ruang-ruang kosong ini hingga seluruh penjuru dalam tubuhku. Rekatkan jarum-jarum kasih bersama darah yang mengalir dari – dan menuju bilik jantungku. Acah bersama abun-abun yang terlahir dari buah pikiran kita.

Kita susuri lagi gelap ini. Berjalan di antara deru tawa dan bisikan dalam bahasa kita – hanya kita yang tahu, Rayu senyum dalam rautmu memantapkan langkahku. Percepat langkahmu. Gua ini sudah mulai rengat. Aku masih tersenyum dalam gelap yang memekat. Merangkai hati di antara jalinan kasihmu. Di ujung lorong, kita akan segera meraup musim semi yang adiwarna – layaknya taman-taman di dalam adnan milik Allah.

 

Tuesday, April 05, 2011 (7.09 p.m)

– LK –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s