Halaman Terakhir

Membawa payung yang terkembang meneduhkan kepalanya dari rintik hujan yang turun, dengan tangan yang terulur menggenggam handle keranjang dagangannya yang belum habis. Donat-donat polos masih berbaris rapi di dalam sana menunggu sang penjual menukarkannya dengan satu koin berharga lima ratus rupiah untuk setiap buahnya, mata uang yang bernilai sangat kecil, namun begitu dinanti dalam setiap langkahnya. Langit enggan beranjak dan masih setia menemaninya meski telah berubah menjadi gelap, sama seperti kegigihannya yang masih terlihat meski tertutup oleh rambut yang kian memutih dan topi lawas yang menjadi mahkotanya. Entah berapa waktu dalam usianya yang ia habiskan untuk berjalan menyusuri gang-gang kecil ini. Tapi selama apapun itu, ketegaran masih ada padanya. Biar ku sapa sosok lelaki itu, dan menuliskannya dalam halaman terakhir buku ini. Karena bagiku, ini adalah satu lagi pelajaran yang pantas aku ceritakan…

Jangan biarkan langkahmu surut karena malam…

Jangan biarkan semangatmu pudar karena lelah…

Jangan biarkan dirimu terus menunggu dalam derasnya hujan…

Cita tetaplah cita…

Angan yang harus digenggam meski jari berlumur darah karena luka…

Thursday, May 12, 2011 (9. 30 p.m.)

– LK –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s