Cosmological Coincidence 1

Aku ingat akan seseorang berikut beberapa peristiwa dengannya sebulan lalu. Ketika hari – seperti biasa – kujalani tanpa ingin bertanya ‘akan terjadi apa?’ atau ‘akan bertemu siapa?’, hingga berjalan ringan dan berlalu seperti kapas tersibak angin. Ternyata hari itu berbeda dari yang biasa kulalui. Satu pertemuan yang mengejutkan, memaksaku untuk mengejar selagi hati masih bertanya-tanya. Tapi, rasa ingin tahu itu makin lama jauh memudar, beralih menjadi sebuah kesenangan. Ya, aku menemukan. Mungkin lebih tepatnya ‘mengira’ telah menemukan, karena ternyata kesenangan itu bertahan lebih singkat dari yang pernah kukira dan kuharapkan.

 

Masing-masing dari kita punya garis kehidupan yang telah digambarkan. Dan masing-masing dari kita, kalau diizinkan, akan saling bersinggungan (Raditya Dika).

 

Bersama segala ketidak tepatan, rupanya aku sudah bersinggungan dengannya yang juga bersinggungan dengan orang yang pernah bersinggungan denganku. OMG! Aku bahkan nggak pernah mengerti. Sekian banyaknya penduduk Jawa Barat, kenapa harus aku yang harus mengenal dia yang juga harus mengenal orang yang sama? Satu detik setelah aku tahu hal itu, semuanya berubah jadi asing.

 

Bagaimana orang bertemu memang aneh, absurd, kompleks (Raditya Dika).

 

Aku tahu itu, tapi rasa terkejut yang bercampur aduk dengan kekecewaan dan kemarahan nggak mungkin bisa disembunyikan. Meski begitu, dia tetap nggak akan pernah tahu bagaimana persisnya perasaanku ketika itu. Tentu saja karena aku yang terlalu naif untuk menunjukkannya. Namun, sepandai apapun lidah ini berkelit, di balik pandangan semua orang, aku selalu berkata jujur.

Hari itu hingga hari-hari berikutnya, kubaca kalimat-kalimat harapan dan penantiannya. Puisi, ungkapan, pantun, bahkan sebuah lagu tampak begitu kontras ditujukan pada siapa – tanpa dia tahu – semua itu membuatku kembali merasa dikalahkan, bahkan sebelum aku sempat berniat untuk bersaing. Rahasia itulah juga yang memaksaku untuk diam-diam menjauh, (supaya) dia nggak akan pernah tahu, karena dia terlalu peduli dengan perasaannya sendiri – sama halnya denganku.

Seperti yang sudah dia perkirakan,  akan ada seseorang yang hilang diam-diam tanpa kabar.

“Hahaha, rupanya akulah orangnya!” teriakku pada cangkir-cangkir kopi yang sudah kosong.

Cosmological coincidence, dirancang pertemuan pun perpisahannya-kah?

 

1 = kebetulan yang dirancang oleh alam semesta (Raditya Dika).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s