Kisah di Dasar Jurang

Aku adalah tokoh yang kalah dalam drama. Terhempas karena watakku sendiri. Terlalu dingin dan laif pada perasaan. Antagonis, berhasil mendamparkanku pada jurang tak berlandas. Kedua kakiku membelah dan mererobos angin di lubang yang buta. Sama butanya seperti aku. Semua warna yang pernah kulihat, bebauan yang pernah kucium, dan segala bentuk yang selama ini kuraba, hilang tanpa sisa, selain tebing dan bebatuan tajam yang menikam. Seperti orang hidup yang menjalani kehidupannya dalam peti mati. Jangankan masa depan, masa kini pun bayangan hidupnya masih abstrak. Tak ada keinginan, cita-cita, dan ambisi. Segala keindahan yang pernah kudapat, kulepas begitu saja demi menghanyutkan diri dalam curamnya masa lalu.

Aku menyerah pada bulan-bulan yang sendu. Hidupku seolah tiada masa. Malam dan pagi, hujan dan kemarau, semua meninggalkanku dalam ratapan. Sampai aku diguncang oleh suara indah yang alunannya menggema, menjalari bebatuan tajam yang membangun tebing ini.

“Bukankah kita pernah saling mengenal?”

“Betul, kita pernah saling mengenal.” Balasku dengan senyum yang terkembang begitu tulus dari kedua belah bibirku.

Aku gembira, hingga aku merasa bahwa kerumitan dan ketegangan ini akan segera berakhir. Meski tak ada wujud yang bisa kupandangi, aku tetap tahu bagaimana dirinya. Lembut dan sempurna, walau hanya suaranya yang nampak.

Aku yang mengaguminya, perlahan mampu mewarnai lembar-lembar hati yang abu-abu dengan warna merona darinya. Jingga dan biru mulai terlihat berbeda. Bebatuan runcing di antara tebing yang  menghimpitku, mulai terasa longgar. Pagi dan malam mulai kubangun kembali dalam hidupku.

Ada banyak macam hal yang mulai kupercayakan padanya. Tentang kebodohan, dan egonya seorang manusia; juga sebuah pengakuan tentang semua hal itu. Dan hal indah yang bisa kunikmati dari hal itu adalah tawa dan nasehatnya.

“Kekeliruan memang terjadi pada siapa saja. Suasana dan keadaan kadang mendorong untuk bertindak. Hati , kadang jangan terlalu diikuti. Hidup itu keras, jatuh itu sakit. Tapi yakinlah dan tegar, kita masih punya Tuhan untuk pegangan.”

Kalimatnya terdengar seperti nyanyian yang alunannya menggema ke seluruh tebing itu. Begitu merdu…dan bisa kurasakan senyumnya yang hangat dan menenangkan. Dialah kawan terbaik yang pernah dan ingin kumiliki – yang dengan lembut mampu mengembalikan ketegaran yang sudah lama pergi, hingga segala haru biru yang menggunjing jiwaku…semuanya hanyut dan larut. Dan ucapan ‘terimakasih’ ku mengantarkannya kembali pada malam dalam dunianya.

*       *       *

Aku memang manusia yang mudah menyerahkan diri pada cinta, yang ketika bahagia akan melupakan kesedihan, dan ketika menderita akan melupakan kesenangan. Tak pernah aku berpikir bahwa aku akan menaruh hati pada lelaki yang dia sendiri telah memberikan hatinya untuk dewi yang lain – dewi yang begitu ingin kucaci maki sepuas hati. Yang pernah menjadi anjing setia, lalu menjelma seperti singa yang mengancam.

“Sedekat apa kamu dengannya?”

“Awalnya begitu dekat. Kaki kami selalu berpijak di atas jalan yang sama, kami membangun mimpi dan harapan yang sama. Aku adalah bayangannya, dan dialah bayanganku – setidaknya aku dan dia pernah mengalami itu. Tapi kemudian kami begitu marah dan pernah ingin menghabisi satu sama lain.” Ucapku.

“Haruskah itu? Dia juga temanku.”

Suara merdu itu tiba-tiba menjelma jadi gelegar petir. Aku tertawa sendiri, tak percaya dengan apa yang kudengar. Namun hatiku terus bertanya…bertanya pada diriku yang juga tak mampu memberikan jawaban apapun. Mataku nyalang memandang ke seluruh penjuru tebing. Mencari-cari sesosok yang hanya bisa kudengar suaranya. Bisakah kau menatapku? Tidakkah kau lihat betapa pucat wajahku?

“Teman? Benarkah?” tanyaku dengan suara yang bergetar menahan marah yang entah tertuju pada siapa.

Aku mengharap bisa mendengar jawaban yang berbeda.

Tapi rupanya, “Ya” dan dunia ini benar-benar telah hancur rasanya.

Aku begitu tegang menghadapi kenyataan pelik itu. Benar-benar ingin marah, tapi pada siapakah kuarahkan semua itu? Takdir bukanlah lawan yang imbang untuk perdebatan ini. Dunia begitu angker, menyeramkan. Membuatku takut dan ingin segera mati.

Banyak kata yang berdesakan dalam hatiku. Amarah-amarah itu tak pernah bersuara, mereka semua hanyalah pengecut yang hanya mampu diam dalam damainya kebingungan.

“Mungkin dia akan membenciku jika kamu tidak meminta maafnya. Selain tentang hal itu, untuk sementara aku tidak ingin membicarakan apapun denganmu. Seburuk apapun keadaan  itu, tetaplah memandangnya dari segi yang positif. Bila pesan itu bisa kamu terima, aku akan bangga padamu – sampai mati.”

Suaranya hilang dan menjadikan tebing curam ini makin lengang dan mengerikan. Benarkah dia pergi dan meninggalkanku yang sungguh putus asa ini? Seorang diri dan tergeletak pada sebuah batu – tanpa segores pun luka, namun dengan hati yang berdarah dan pedih.

“Segini sajakah?” aku bergumam dengan tawa yang tertuju untuk diriku sendiri.

Tak ada jawaban. Aku tahu dia pergi, tapi aku menunggu.

Tidakkah dia lihat apa yang kurasakan dalam hatiku? Sosok seperti apakah dirimu, menghakimi lalu meninggalkanku tanpa kau tau apa yang terjadi? Kenapa harus dirimu? Kenapa bukan orang lain yang kutemui? Bisakah kau jawab pertanyaan ini?

Aku memandang cahaya yang berada jauh di atas sana – di mulut jurang tempat dimana aku memenjarakan diri dan putus asa. Kucoba mengulurkan tangan, meraih setitik cahaya yang sangat jauh hingga terlihat seperti sebuah bintang dalam kisah kehidupan nyata yang indah. Namun kemudian aku tersadar dan merasakan lututku yang menjadi lemah. Aku terduduk, lalu berteriak sekencang yang kubisa. Sayangnya sakit itu takkan mudah lepas. Ia begitu nyata dan terasa lebih memilukan dari yang pernah terjadi padaku sebelumnya.

Mereka saling bersahutan – dendam dan ketulusan bergumul dalam jiwa ini – menjadikanku merasa lebih lelah lagi. Kubiarkan mereka saling menyalahkan sementara dengan lemahnya, aku kembali tergeletak. Bahuku bergetar, dadaku mulai bernafas sesak. Aku berbaring dan mulai merintih. Kurasakan pendar-pendar air mata di antara wajahku. Kulihat mereka mulai berjatuhan…melengkapi kesendirianku yang makin pilu berkat mereka. Tak terdengar apapun lagi dalam tebing itu selain tangisanku sendiri.

*       *       *

Hatiku yang enggan disapa

          Tiba-tiba ingin pula ceritera diri

          Kembali damba akan suaramu

          Dalam angan sendiri

Aku masih terkulai dalam keangkuhan sekaligus ketidakberdayaanku melawan garis hidup. Padahal aku ini adalah seorang pembangkang sejati yang selalu mampu memungkiri kenyataan, bahkan perasaanku sendiri. Di balik lemahnya ragaku, tak sedikitpun aku berhenti memikirkan ketidakadilan ini – tentang kemarahanku, tentang rasa benci ini – kenapa semuanya seolah sedang menyalahkanku? Padahal aku sendiri dibuatnya terdampar, berada di sudut paling curam dan dalam, tapi kenapa pula mereka masih berusaha menyudutkanku?

Aku makin tak berdaya ketika kenyataan menuntunku pada kidung penantiannya pada dewi itu. Ungkapan-ungkapan cinta yang menenangkan, bait-bait ketulusan…mengalir begitu saja dari mulutnya. Tanpa ada yang tersembunyi, diungkapkan seluruh perasaannya. Suara-suara itu bersatu padu dan bergema agung di sekitar penderitaanku, terdengar sumbang dan menyakitkan. Namun tak ada hal lain yang kuingat selain kemalanganku sendiri. Tubuh yang selalu utuh ini tak mampu menyembunyikan jiwa yang kotor dan rapuh.

Lagi-lagi hati ini tak mau bicara

          Dan dunia enggan pula dirayu

          Terserah..!

          Seakan semua itu tak peduli

          Dan aku bernyanyi tanpa nada

*       *       *

Tanpa dia tahu, aku mulai meninggalkannya. Bukan keinginanku untuk mundur selangkah demi selangkah. Tapi siapa yang akan tetap bertahan dalam keadaan menyedihkan seperti ini? Aku tidak ingin berkecimpung lebih lama lagi di antara cinta orang yang kukagumi pada orang yang kubenci. Aku juga tidak ingin menjadikan cinta dan takdir sebagai korban dari konspirasi ini. Mereka bekerja bersama Tuhan dan rahasia-rahasia-Nya.

Aku menertawai diri yang masih belum bisa menerima kenyataan yang baru saja kuterima. Lalu apa? Rasa sakit ini tidak akan hilang dengan semudah itu. Kebencian yang tersimpan bukanlah rasa yang kutanamkan dengan sengaja, ia tumbuh begitu saja karena salahnya – ‘dewi’-mu itu – walaupun memang aku sendiri yang tidak pernah mencoba ikhlas menerima perkataan-perkataan yang menyakitkan dari seseorang yang dulu pernah menjadi sahabatku itu. Tapi lelaki itu – dirimu – yang sanggup kau katakan hanyalah pembelaan untuk pihak yang kau cintai. Dan aku? Tentu saja diabaikan, tanpa dia peduli seburuk apa hidup yang kujalani selama ini bersama rasa pahit menggenggam kebencian. Ataukah dia pikir hidupku berjalan normal dengan penuh bahagia?

“Jika kamu cukup bodoh untuk meninggalkanku, semoga aku cukup pintar untuk merelakanmu.” Tiba-tiba dia datang bersama kalimat itu.

Apalagi kali ini? Kupikir kehadiranku tidak lagi menjadi keinginannya. Meski belum sepenuhnya mempercayai ini semua, aku tak kuasa menahan diriku untuk menyapanya. Aku benar-benar merasa rindu hingga tersenyum karena suara itu terdengar lebih nyata dari sebelumnya. Apa yang kau rasakan? Bukankah kau juga menginginkanku?

“Bukan itu maksudku, masih terlalu dini untukmu bisa mengerti. Bisakah pikirkan kembali? Kali ini pikirkan lagi dengan hatimu. Pahami aku, pahami perasaan, juga keinginanku. Jangan terlalu buru-buru. Hati ini butuh waktu, beri dia waktu. Hati ini butuh ruang, beri dia sedikit ruang. Untuk tersenyum, lalu tenang, hingga benar-benar sanggup melupakan semua hal yang menyakitkan.” Seketika kuucapkan semua kemarahanku itu untuk menyambut kedatangannya.

Dia tertawa, dan kubayangkan senyumannya setelah itu. Aku ikut tersenyum dan kembali mendengar kisah-kisahnya lagi. Tapi rasanya kegembiraan itu amat canggung jika aku mengingat kembali bagaimana isi dalam hatinya.

“Aku ingin tidur, tapi kegelisahan terus menakutiku.”

Dia-kah yang ingin kamu ceritakan?”

“Jika ‘ya’, kamu akan membenci ini?” tanyanya.

“Jika ‘ya’ kamu tetap takkan peduli.”

Hening sejenak.

“Aku sedang berusaha untuk tidak membencinya.” Ucapku lagi.

“Aku mendengarnya…dia menangis.” Suaranya berubah, terdengar lebih sayu dari sebelumnya.

“Lalu apa yang kamu lakukan? Bukankah kamu bisa mengobati luka siapa saja?” tanyaku, lalu kembali teringat pada petuah-petuah yang diucapkannya untukku dulu.

“Ya, kecuali dia.”

Jurang istanaku kembali menjadi hening.

“Aku begitu peduli tentang dirinya. Tapi aku merasa salah jika harus terus-menerus membayangi dia. Dalam masa-masa sulit, tentu saja dia selalu menanti perhatian dan pengertian dari seseorang, sayangnya bukan aku orang yang dia inginkan untuk memberikan itu semua. Aku jadi lumpuh.”

“Rupanya kita berdua sama.” Ucapku dalam hati.

Aku mendengar kalimat-kalimat yang dia kisahkan. Aku tersenyum sesekali dan melontar tanya meski hanya sepatah kata. Batinku mulai heran tentang kenyataan dan garis takdir-Nya. Seperti air yang mengisi sungai-sungai, kami mengalir begitu saja mengikuti likuan arahnya. Seperti pula halnya sebuah kotak dadu, tak ada yang tahu berapa titik yang akan muncul setelah ia dilambungkan dan jatuh.

Berhari-hari dia terus bercerita. Meski seringkali aku ingin tahu tentang bagaimana perasaannya, pada akhirnya semua itu hanya menjadi sebuah pertanyaan. Kadang aku berpikir, mungkin seperti itu akan lebih baik. Tetap tidak tahu apa yang dirasakannya, daripada harus mendengar penjelasan itu dan membuat ruang hidupku makin sesak. Tetap diam atau mengetahuinya, kita takkan pernah untuk saling memiliki.

Aku tetap setia mengikuti setiap naskah yang sudah menjadi bagianku. Kadang aku merasa terhibur karena suara indahnya yang menyapaku. Tapi seringkali aku mengalami detik-detik dimana aku merasa dicambuk oleh emosi dan perasaanku sendiri. Namun aku tak ingin berada lebih lama lagi dalam tempat yang menyedihkan ini. Aku enggan menelan luka yang lebih pahit dari ini.

Aku pun berlalu tanpa beranjak dari tempatku. Aku menyerah pada pertanyaan yang masih ingin kucari jawabnya hingga kini. Tapi biarlah, biar saja menjadi teka-teki. Supaya aku bisa dengan setulus hati mengakhiri apa yang belum dimulai terlalu jauh. Supaya aku bisa dengan setulus hati menertawai kekalahan dan perasaan ini.

-lk.. (Dec 6, 2011 – latepost)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s