A Storytelling: Sebuah Pertemuan

Tidak pernah ada dalam sejarah, Tuhan tidak pernah mendikte setiap langkah dalam gerak kita. Semua jalan yang kita tapaki adalah karena Dia memilihkan jalan itu untuk kita. Seperti halnya aku…disini…bercerita…

Suatu hari di tempat kerja saat aku mau tidak mau harus lembur untuk ikut memonitor hasil print produksi. Aku bekerja di sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan beberapa perusahaan garment yang mengeksport beberapa brand pakaian ternama. Kalau tidak salah hari itu adalah hari ke sepuluh mesin automatic yang baru kami beli, beroperasi. Seperti halnya bayi yang baru bisa berjalan, mesin ini harus selalu diawasi cara kerjanya, termasuk pula operator yang mengatur kerjanya mesin. Memang lelah saat harus ikut memonitor kualitas hingga larut malam, tapi toh lebih baik mencegah daripada memperbaiki hasil print yang rusak.

Hari itu kebetulan turut pula beberapa teknisi mesin untuk lembur. Meski begitu jam lembur tetap terasa membosankan. Sampai aku tahu ada seseorang yang mulai menarik perhatianku. Salah satu teknisi yang, ehm, ‘kutandai’ ternyata datang kembali untuk ikut lembur. Hehehe. Tentu jadi penyemangat tersendiri dong. Namun saat itu mungkin karena aku belum terlalu ‘gimana’ jadi semua yang kurasakan bisa terkontrol oleh akal sehat.
Beberapa kali aku balas menyapa saat ia terlebih dulu menyapaku. Hanya sapaan biasa dari seorang supplier pada customernya. Belum terasa lebih.

Kadang kami berbicara sedikit melenceng tentang ini dan itu. Bukan masalah, karena aku pun biasa begitu dengan customer maupun supplierku yang lain. Hanya salah satu bentuk hospitality yang biasa kami -para marketer- lakukan.

“Jadi biasanya teteh ini yang cari order sendiri?” tanyanya di tengah kegiatan kami yang mengawasi berputarnya mesin. Dia tetap memanggil ‘teteh’ meskipun tahu bahwa aku lebih muda darinya.

“Saya nggak terlalu sih…dari awal saya masuk, semua customer memang sudah ada… Tinggal berjalan aja.” jelasku.

“Ohhh, tapi kalau ada order atau semacamnya bisa langsung contact siapa? Teteh? Kali aja saya ada bakal order gitu.. Hehehe.”

“Boleh boleh…”

“Oiya, ada kartu nama gitu nggak?” tanyanya seolah tau seorang sepertiku selalu memiliki kartu nama untuk memudahkan orang menghubungiku.

“Ada ada…” ucapku sambil melangkah pergi menuju sebuah meja dimana kusimpan notebookku yang terdapat beberapa kartu nama persediaan disana.

Semenjak menjadi seorang marketer, aku mulai membiasakan diri untuk menyimpan beberapa buah kartu nama di dalam dompet, notebook, bahkan tasku. Supaya kalau satu barang lupa terbawa, aku masih bisa mendapatkan kartu nama dari tempat penyimpanan yang lain. Hehehe.

“Ini..” ucapku saat aku kembali.

Dia menerimanya dengan sikap yg normal seperti customer-customerku yang lain.

“Oiya, mau pin bbm? Kalau mau biar ditulis sekalian.”

“Oh boleh boleh teh..” diserahkannya kembali kartu namaku untuk ditulisi pin bbm.

Entah kenapa aku sendiri menawarkan pin bbm, padahal biasanya aku tidak pernah senang ada orang yang tidak kukenal memiliki kontak pribadi denganku.
Mungkin aku hanya sedikit penasaran dengan pria ini. Mungkin…

to be continue..

story & posted by : elkafeni

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s