Review : Gadget – Cahaya yang Membutakan

Wohoo! Dari headline-nya aja udah…hmmm…

Bicara tentang cahaya unik ini memang sulit. Apalagi kalau kita sebagai pengguna sudah mulai membicarakan tentang manfaat dan kekurang manfaatan (mari kita jangan disebut kerugian) dari gadget ini. Saya sendiri kalau ditanya mengenai peran gadget dalam kehidupan sehari-hari pun akan menjawab ‘sangat penting dan sangat dibutuhkan’. Apalagi bagi kita yang sudah terbiasa hidup bersama gadget pasti akan sangat sulit jika satu hari saja -satu hariiiii saja- harus tidak menggunakannya untuk beberapa alasan (misal hilang atau rusak, dsb).

Gadget sudah menempati urutan pertama dalam kehidupan sehari-hari dan memang kalau ditanya manfaatnya pun banyak sekali. Bagi kita yang sering pergi keluar kota, akan sangat rumit jika harus membawa-bawa peta dalam bentuk lembaran kertas berwarna-warni, membuka lembaran besar itu di dalam mobil. Belum lagi harus menghentikan kendaraan saat kita akan kembali melihat jalanan dan hal-hal lain yang membuat kita merasakan betapa tidak praktisnya menggunakan peta. Sebenarnya menyediakan peta di dalam mobil tidak masalah dan menggunakan peta sebagai penunjuk jalan pun bisa dijadikan satu pilihan, tapi kalau gadget kita memiliki fasilitas yang lebih praktis, kenapa tidak gunakan saja gadgetnya?

Awal saya bekerja sebagai marketing saya sering pergi keluar kota. Mengunjungi Bogor, Jakarta, Bekasi, Tangerang dan beberapa tempat di sekitarnya untuk silaturahim dengan customer. Daerah yang ‘mana saya tau’ karena saya tidak pernah tinggal disana. Memang tidak nyetir sendiri, karena ada driver. Tapi setidaknya ada gadget yang biarpun saya hanya dibekali alamat dari selembar kartu nama, saya toh bisa juga bertatap mata dengan customer.
Pernah suatu waktu saya dan driver salah belok dan membuat kami muter-muter di sekitar daerah Setiabudi
-Jakarta, tau sendiri Jakarta, salah belok nyasar deh (buat yang nggak tau jalan). Beberapa kali kami tanya penduduk sekitar mengenai arah menuju tempat tujuan kami, tapi ya ehm, beberapa orang yang ditanyai jawabannya kurang ramah. Merasa tidak ada pilihan lain, akhirnya saya keluarkan jurus terakhir, handphone… Waktu itu sebenarnya nggak langsung buka Map yang merupakan salah satu aplikasi milik Google, tapi nelpon bos yang lebih sedikit tau jalanan Jakarta. Tapi jawaban yang saya dapat nggak kalah kecutnya dari jawaban beberapa orang sebelumnya, “Ribet amat sih lu? Buka Google Map aja.”

Ok. Dan akhirnya jurus terakhir (serius, ini jurus terakhir) saya adalah menggunakan Google Map.
Begitu leganya kami saat sampai di tempat tujuan sampai driver yang mengantar bicara, “Untung ya mbak, ada itu…” katanya tanpa tahu aplikasi ajaib apa yang sudah mengantarkan kami ke jalan yang benar.

Itu adalah salah satu manfaat besar dari gadget atau secara luas saya lebih senang menyebutnya teknologi, hanya salah satu dari banyaaaak sekali manfaatnya; stalkingin mantan, stalkingin gebetan, stalkingin ibunya mantan, stalkingin ibunya gebetan, stalkingin tukang batagor sebelah, stalkingin website belanja online…banyak sekali.

Sebenarnya gadget ini apa sih?
Pengertian yang saya kutip dari , secara estimologi, gadget adalah sebuah istilah dalam bahasa Inggris yang berarti perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Tetapi dari penjelasan diatas akan membuat kita lebih bertanya, “Apa perbedaan gadget dengan perangkat elektronik lainnya?”. Yang paling mencolok dari perbedaan tersebut adalah unsur “pembaharuan”. Simple-nya. gadget adalah alat elektronik yang memiliki pembaharuan dari hari ke hari sehingga membuat hidup manusia lebih praktis.

Sampai di point itu sebenarnya sudah cukup jelas kan? Bahwa ‘gadget adalah alat elektronik yang memiliki pembaharuan dari hari ke hari sehingga membuat hidup manusia lebih praktis’
Menyenangkan bukan? Mungkin di masa depan gadget akan berperan banyak dalam membantu kita mencari pendamping hidup atau bahkan hanya sekedar pacar. Mungkin ya, mungkin. Untuk para jones tolong jangan berharap banyak soal ini.
Kembali lagi ke gadget, contoh yang saya gunakan di awal pembahasan mengenai peta dan Google Map jelas sudah sesuai dengan tujuan penciptaan gadget. Setiap orang -termasuk saya, lho- jika disuguhkan banyak cara untuk pergi Jonggol pasti akan memilih cara yang paling praktis. Nggak mungkin kan ada yang memilih naik bis jurusan Bandung-Solo untuk pergi ke daerah Jonggol? Maunya apa coba??? Kecuali salah bis, itu mungkin.

Ibarat kata mawar indah pun punya duri, begitu juga halnya dengan gadget. Setiap hal memiliki sisi positif dan negatif. Seiring pertumbuhan ekonomi dunia, gadget kini semakin mudah didapat dengan semakin menunjangnya provider yang mendukung akses sebuah gadget ke jaringan internet. Well, seperti Bandung misalnya, bahkan memiliki taman yang menyediakan fasilitas wifi gratis. Cafe-cafe dan hotel tidak ada yang tidak dilengkapi fasilitas wifi. Tidak mau ketinggalan, bis kota pun menyediakan fasilitas yang sama dalam armadanya.
Sebenarnya, jika dilihat dari segi sosialnya, hal seperti ini sedikit mengganggu perilaku sosial yang seharusnya bisa berjalan normal jika setiap pemegang gadget tahu batasan-batasan penggunaannya. Sangat disayangkan juga bahwa anak balita pun diajarkan untuk ‘mengkonsumsi’ gadget yang saya pikir belumlah waktunya untuk mereka tahu.
Begitu juga teknik-teknik pengajaran yang diaplikasikan pada pelajar sekolah menengah. Semakin banyak pelajar yang sudah dibekali oleh laptop sehingga tidak sedikit tugas-tugas yang diberikan untuk diselesaikan yang sebenarnya jika para pengajar itu sendiri tahu, para siswa hanya meng-copy-paste apa yang ada dari website sumber. Bahan tugas tersebut pun hanya diedit sekilas tanpa membaca atau mengkaji ulang konten di dalamnya. Saya lebih suka jika materi tersebut dirangkum sendiri oleh pengajar, yang copy-nya kemudian dibagikan kepada para siswa untuk selanjutnya mereka salin pada buku catatan masing-masing. Dengan teknik tersebut -yang juga menjadi cara yang saya aplikasikan pada saat saya sekolah dulu- siswa bisa membaca saat mereka menyalin konten dari rangkuman tersebut.

Juga tentang menjadikan gadget sebagai ‘pegangan’ hidup -yang membuat kita seolah menjadikan gadget satu-satunya fokus dimanapun dan kapanpun itu- membuat konsep sosial agak sedikit kacau. Kan nggak lucu saat orang sedang berkumpul lantas setiap dari mereka malah memperhatikan gadget masing-masing. Belum lagi kalau berhadapan dengan social media. Sedikit-sedikit update status; sedang sedih update, sedang sakit perut update, sedang sakit kepala update, banyak hutang update, banyak istri update, beli mobil baru update sampai-sampai dia dikira berubah jadi transformer. Sebelum makan foto sama makanan, sedang jalan-jalan foto kaki (ini termasuk saya), sedang hamil foto hasil usg, setelah melahirkan foto bayi, sedang tidur foto iler…semuaaa serba diupdate dan share ke media.
Pasti merasa sebal kan? Karena gadget ini pula akhirnya sedikit demi sedikit terjadi kesenjangan sosial yang bla bla bla detailnya mungkin bisa diterka oleh masing-masing orang.

Mengenai fungsi yang seperti itu, sebenarnya gadget tidak bisa dikambing hitamkan yang lantas membuat kita menutup diri terhadap gadget. Seperti istilah ‘menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh’, sebenarnya hal tersebut masih bisa dihindari mengingat bahwa kita memiliki kendali penuh terhadap gadget yang kita gunakan.
Tergantung seberapa pandai kita mengendalikan diri terhadap ego diri kita sendiri.

Semoga saja ya, kita selalu mendapat hikmah dari semua hal yang kita jalani.

-lk.. (August 25, 2015)

Advertisements

2 thoughts on “Review : Gadget – Cahaya yang Membutakan

  1. Gadget emang penting… tapi kepekaan naluri, insting dan manusia sebagai mahluk sosial pelan-pelan mulai tergantikan 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s