Coffee…helping to make a friend

Weekend ini adalah salah satu dari beberapa weekend yang paling mengesankan yang pernah saya lewati. Ditemani salah seorang yang special menghabiskan waktu jalan-jalan dan bercerita — meskipun semua gadget harus saya sita dulu sebelum akhirnya kami bisa fokus bicara. Bersyukur karena saya seolah memiliki teman langganan…teman kontrak yang siap melangkah pergi berpetualang ke tempat yang sama. Untungnya dia punya hobi yang sama. Bermusik, photography, berwisata, olahraga (walaupun malas), dan…kopi
Hanya beberapa hal kecil dari puluhan hal yang kami berdua senangi.

Sayangnya sebuah komitmen membuat saya sedikit -hanya sedikit- membatasi dan memilih dengan siapa saya pergi. Bukan sebuah peraturan yang dibuat oleh sebelah pihak, tapi saya sudah terbiasa setia dengan komitmen tidak tertulis yang saya ciptakan sendiri. Meskipun terkadang saya rindu melakukan banyak hal sendirian; berjalan sendirian di Braga, mendapatkan satu tiket nonton film action sendirian, ngopi sendirian, bengong sendirian, menjelajah Semarang sendirian, dan semua hal yang aneh-aneh yang biasa saya lakukan sendirian juga. Kadang juga saya rindu dengan teman-teman baru yang saya dapat dari kesendirian itu… Teman baru saat camping di Pulau Semak Daun-Kepulauan Seribu yang menjadi teman menatap langit dengan musik ombak lautan, teman baru saat saya mengunjungi Gedung Kesenian Rumentang Siang yang juga menjadi teman ngopi dan bercerita ini itu, teman satu organisasi sukarelawan yang jadi teman saya mendaki Gn. Burangrang, teman sesama jomblo yang selalu siap siaga menjemput saat saya pulang kerja kemalaman… Pergaulan yang luas dan saya tidak pernah membuat batasan apapun.

Berawal dari rasa penasaran teman saya untuk mencicipi manual coffee yang prosesnya menggunakan teknik Vietnam Drip *katanya*, akhirnya salah satu teman pecinta kopinya merekomendasikan sebuah tempat yang akhirnya kami datangi. Awalnya hanya berdua hingga si rekomendator *bener gak sih istilahnya?* itu datang.
Setelah beberapa lama bicara ngalor ngidul, baru hari ini (lagi) saya seolah mendapatkan satu teman baru yang juga menyenangi hal yang sama. Ini membuat saya lebih bersemangat selain karena kami mencoba rasa kopi ‘hasil percobaan’ di salah satu coffee house di Bandung: Cultivar Coffee House, dari barista nya langsung *eh barista kan ya? Tolong koreksi kalau salah. hehe*
Bercerita banyak pula tentang bagaimana saat dia -yang kebetulan juga- pernah belajar membuat kopi; tentang mesin-mesin yang digunakan untuk bla bla bla… Ah…saya paling suka bertanya dan bangga saat bisa mendengarkan penjelasan dari apa yang saya tanyakan.

Senang karena hari ini tidak hanya kami berdua yang tertawa, melainkan ada satu dua tiga orang lain juga. Menyadari bahwa dunia tidaklah sepi, saya bersyukur masih ada orang-orang yang asik (dalam tanda kutip) dan tidak alay di mata saya.

Tulisan pendek ini hanya salah satu bentuk kesuka-riaan saya untuk sore ini. Berharap semua orang juga bisa menemui hari-hari special mereka sendiri dan menandai bahwa hari itu adalah hari yang sangat berharga.

Saya menyenangi hal baru, karena itu membuat pandangan kita bertambah luas
-lk..

Advertisements

2 thoughts on “Coffee…helping to make a friend

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s