Seorang teman…

Aku bertemu dengannya begitu saja, karena sejak saat itu yang kutahu dia adalah seorang teman.

Baru kali ini lagi kutemukan yang seperti dia.
Tatapan yang hangat, wajah yang lembut, tutur yang manis…namun sayangnya saat itu aku masih saja memikirkannya sebagai seorang teman.

“Hei, Mil!” dia berteriak sampai-sampai aku sedikit terguncang. Padahal kupikir di kedai kopi sekecil itu ia tak perlu memanggilku dengan keras.

Tapi toh aku senang-senang saja dan langsung menghampiri dia yang duduk di depan gelas yang isinya sudah hilang setengah. Mungkin sekitar setengah jam yang lalu dia menungguku datang, jadi sudah pasti kopi dalam gelasnya berkurang.

Kukenalkan, namanya Donni, tapi dia sering dipanggil Ipin. Entahlah mungkin karena dia sedikit botak. Hehehe. Tapi apapun itu, yang dipanggil Ipin toh tidak pernah menolak, malah dia menganjurkanku menggunakan nama panggilan yang sama yang juga digunakan teman-teman baristanya.

“Udah lama?” tanyaku sambil menggantungkan jaket pada punggung kursi dudukku.

“Gapapa, nyantai aja..” jawabnya tenang sambil menghisap batang rokoknya lalu menghembuskan asapnya jauh-jauh dariku.

Dia memang begitu…menghargai setiap teman yang bukan perokok dan menjaga agar mereka semua tidak menjadi perokok pasif.

“Ada cerita apa hari ini?” aku mengawali pembicaraan.

“Banyak. Hahaha. Lu mau cerita apa dulu?” candanya.

“Ihhh. Gila. Bisa berapa jam nanti kita disini? Hahaha.”

Begitulah kami. Aku berusaha menjadi pendengar yang baik untuknya dan dia tahu aku menginginkan itu. Baginya bercerita adalah makanan sehari-hari. Dan untuk ukuran seorang laki-laki, dia cukup cerewet…dan mengagumkan.

Tanpa perlu repot-repot, aku hanya perlu menyiapkan segelas ice cafe latte, menatap mata dan mendengar suaranya. Sederhana. Tapi cerita-ceritanya selalu ingin kudengar dan kudengar lagi.

Saat kamu jatuh cinta, kamu akan lebih sering memandang matanya. menunggu dia tersenyum dam berdebar saat dia menatapmu dalam sunyi.
Dalam matamu kamu akan berkata rindu dengan berjuta ketakutan dan risau. Tiap lisan yg terucap dari bibirnya adalah segala keindahan malam dan bintang.
Kamu akan mencuri waktu meski hanya untuk melirik apa yg digenggam dalam tangannya.

Diam-diam hatimu takjub, karena tahu kekaguman adalah yg km rasakan malam itu.

Kemudian hari kami bertemu lagi. Namun kali itu aku menunggunya. Juga menunggu cerita tentang hari-harinya. Dia bilang hari ini akan datang sedikit terlambat karena akan menyelesaikan beberapa hal, tapi aku hanya ingin datang lebih awal dan mencoba bagaimana rasanya menunggu.

Baru 15 menit saja jenuh langsung menyerang. Apalagi saat salah seorang barista datang mengantar pesananku dan bertanya tentang Donni. Kukatakan dia masih dalam perjalanan. Dan untungnya akhirnya dia benar-benar datang.

“Duh duh sorry-sorry lama ya?”

Jenuh itu seketika membuyar diusir sapaan dan senyumnya. Masih dengan kemeja kerja yang lengannya dilipat hingga siku, dia berteriak pada salah seorang barista dan memesan manual coffee dari olahan biji kopi Kintamani.

“Tau nggak Mil, uh barusan gue udah mulai pendekatan ke Siska.” ucapnya dengan penuh semangat.

“Siska?”

“Iya…cewek yang gue pernah ceritain, yang dulunya pernah satu kantor sama gue.”

Aku berkedip mencoba mencerna kata-katanya.

“Oh gitu, trus gimana?” tanyaku.

“Kok ‘gitu’? Ini kemajuan kan Mil?” desaknya.

Aku meneguk ice cafe latteku melalui sedotan yang tertancap di antara es batu bulat-bulat.

“Tapi lu nggak pernah cerita, Pin. Lu bilang pendekatan?”

Malam itu dia bercerita lagi. Banyak sekali. Aku benar-benar menjadi pendengar yang baik. Sangat baik.

* * *

Pada malam yang lain kami berbincang lagi. Menghabiskan waktu di tempat yang sama dengan isi gelas yang sama. Ada langit yang memayungi cafe outdoor dengan barista sekaligus waitress yang ramah-ramah ini. Bougenville merah muda merambat menghiasi pagar-pagar yang membatasi cafe dengan tempat lain. Ada papan dengan tulisan dari kapur yang berwarna, juga lampu temaram yang selama ini selalu menemaniku memandanginya.

Selama itu aku masih jadi penggemarnya, masih jadi orang yang selalu menantikannya.

Aku masih datang, dengan dinginnya kopi dan udara malam di bawah pohon Pterocarpus indicus. Meskipun hari itu adalah kali terakhir aku mendengar suaranya dan aku takkan lagi bertemu kepulan-kepulan asap rokok yang dihisapnya, namun beruntung aku masih bisa melihatnya, saling menyapa walau hanya dengan lambaian tangan, meski ia duduk di seberang mejaku dengan teman cerita yang berbeda, memegang tangannya dan menatapnya dengan mata yang hangat.
Siska.

-lk..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s