A Storytelling: Sebuah Pertemuan (2)

Kadang kami berbicara sedikit melenceng tentang ini dan itu. Bukan masalah, karena aku pun biasa begitu dengan customer maupun supplierku yang lain. Hanya salah satu bentuk hospitality yang biasa kami -para marketer- lakukan.

“Jadi biasanya teteh ini yang cari order sendiri?” tanyanya di tengah kegiatan kami yang mengawasi berputarnya mesin. Dia tetap memanggil ‘teteh’ meskipun tahu bahwa aku lebih muda darinya.

“Saya nggak terlalu sih…dari awal saya masuk, semua customer memang sudah ada… Tinggal berjalan aja.” jelasku.

“Ohhh, tapi kalau ada order atau semacamnya bisa langsung contact siapa? Teteh? Kali aja saya ada bakal order gitu.. Hehehe.”

“Boleh boleh…”

“Oiya, ada kartu nama gitu nggak?” tanyanya seolah tau seorang sepertiku selalu memiliki kartu nama untuk memudahkan orang menghubungiku.

“Ada ada…” ucapku sambil melangkah pergi menuju sebuah meja dimana kusimpan notebookku yang terdapat beberapa kartu nama persediaan disana.

Semenjak menjadi seorang marketer, aku mulai membiasakan diri untuk menyimpan beberapa buah kartu nama di dalam dompet, notebook, bahkan tasku. Supaya kalau satu barang lupa terbawa, aku masih bisa mendapatkan kartu nama dari tempat penyimpanan yang lain. Hehehe.

“Ini..” ucapku saat aku kembali.

Dia menerimanya dengan sikap yg normal seperti customer-customerku yang lain.

“Oiya, mau pin bbm? Kalau mau biar ditulis sekalian.”

“Oh boleh boleh teh..” diserahkannya kembali kartu namaku untuk ditulisi pin bbm.

Entah kenapa aku sendiri menawarkan pin bbm, padahal biasanya aku tidak pernah senang ada orang yang tidak kukenal memiliki kontak pribadi milikku.
Mungkin aku hanya sedikit penasaran dengan pria ini. Mungkin…

Atau mungkin aku sedikit demi sedikit mulai membuka mata untuk sebuah hati?

Ada kalanya saat sedang berjalan, kita pun melihat-lihat dan tanpa sengaja tertarik pada sesuatu. Walau hanya sekedar berhenti melangkah dan menatapnya lebih lama, aku rasa itu bisa disebut sebuah ketertarikan

Hari tidak pernah menunda mentari dan bulan bintang untuk berganti. Semua tetap berjalan. Tanpa rencana, tanpa dugaan apapun bahwa dia akan melakukan suatu hal yang membuatku sedikit shock.
Tepatnya Jumat, aku kebetulan berhalangan hadir ke tempat kerja karena merasa kesehatanku kurang baik. Dia yang…saat itu sudah mulai intens bercakap denganku via messenger, tak luput bertanya tentang rencana apa yang akan kulakukan pada hari itu.
Kujelaskan bahwa aku sedang sakit dan dia menawarkan untuk datang menjenguk yang serta merta kutolak mentah-mentah.

Meski begitu lantas tidak menyurutkan tujuannya untuk tetap bertemu denganku. Siang harinya, saat aku baru saja bangun dari tidur, kulihat banyak panggilan tak terjawab begitu juga pesan-pesan di messenger darinya.

“Saya udah di deket masjid yang deket terminal angkot” ucapnya di salah satu pesan.

Cepat-cepat kubalas pesannya setelah tahu pesan itu dikirimkan kira-kira 2 jam sebelum kubaca.

“Dimana?”

“Eh, lagi di customer.. Hehe”

“Maaf ya tadi lagi tidur. Kenapa nggak ngasih tau kalo mau kesini? Kasian banget nungguin.”

“Hehe nggak apa-apa teh. Lain kali kesana lagi. Cepet sembuh ya.”

Cukup senang tapi merasa ngeri juga saat tau bahwa dia bisa sampai datang ke dekat-dekat rumahku. Bagaimana dia tahu akupun belum mengerti.

Tapi kegagetanku tidak berhenti disana, karena esok harinya dia benar-benar datang lagi dan berhasil bertemu denganku walau tidak di rumah melainkan di masjid dekat rumah.

to be continue..

story & posted by : elkafeni

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s