Untuk kamu yang (mungkin) sedang berpikir…

Aku adalah orang yang tidak pernah sedikitpun akan goyah dengan apapun itu yang menjadi pilihanku. Dan kamu…telah memilih aku yang seperti itu. Ini bisa saja menjadi sebuah kesalahan atau mungkin tidak…hanya tergantung dari bagaimana kamu memiliki sudut pandang tentang itu.

Mungkin kamu tahu, bagaimana aku pernah melakukan kesalahan itu dengan baik di masa lalu. Tapi…jika aku diberi kesempatan untuk bisa memperbaiki hal-hal dalam hidupku, aku akan membiarkan hal yang sama terjadi pada bagian yang salah itu, keep what I have choosen.

Semakin masa itu berlalu, aku tahu bahwa saat itu bukan hanya ketakutan yang membuatku bertahan dalam masa sulit itu, tapi aku bertahan karena keteguhan dan keyakinan kalau semua hal pasti bisa diperbaiki, semua masalah pasti bisa diselesaikan sebelum akhirnya kita bisa hidup tenang, bahagia, dan dengan bangga bisa mengenang semua hal yang telah dilalui; menghunuskan pedang pada ilalang.

Kalau kamu bilang aku keras kepala, aku akan sangat bangga dengan kebatuan itu. Sungguh. Karena kamu tidak perlu cemburu atau ragu dengan apapun yang mungkin orang katakan. Ini adalah tentang keyakinan dan sejauh mana kita bisa saling mempercayai.

Biarkan aku bertanya 2 hal saja; Bagaimana kamu percaya dengan hubungan ini? Dan sejauh apa kepercayaan tertinggimu?

Bagaimana aku percaya dengan hubungan ini adalah karena aku menjalaninya dengan kamu, dan dimana letak kepercayaan tertinggiku terhadap kamu? Well, dulu mungkin kesetiaan…

Apapun itu, walaupun mungkin kita terlahir sebagai orang yang — menurut orang lain– adalah mangkok dan tutupnya, semua tetap akan berakhir saat mangkok tidak percaya pada dirinya sendiri bahwa ia telah memilih tutup yang pas. Bagaimana cerita tentang seekor keledai, kakek tua dan cucunya berakhir? Itu akan menjadi lelucon bagi siapapun yang tahu.

Dan aku…jika aku memilih jalan yang sama setelah apa yang kudengar dari orang lain, mungkin aku sedang menertawakan keputusanku sekarang. Apapun keputusannya, meskipun itu menyakitkan, setidaknya itu adalah sebuah keputusan yang kamu buat sendiri. Disitu aku nggak akan pernah goyah dengan dan karena apapun.

Aku tidak pernah tahu apa yang mereka dengar tentang aku. Mungkin saja maksud dari semua sikapku bisa mereka terima dengan baik, atau bahkan mereka tidak bisa menemukan kebaikan sama sekali. Semua keadaan, hanya kita yang tahu, atau mungkin hanya aku atau kamu yang tahu.

Mungkin ini seperti saat aku memberikan uang 1 juta untuk kamu. Tanpa bicara atau apapun, aku hanya memberikannya. Apa yang harus kamu lakukan? Menyimpan semua uang? Atau menghabiskan semuanya? Semua hal bisa terjadi tanpa komunikasi. Bisa saja kita saling mengerti, atau mungkin saling membenci.

Kamu ingin memikirkan kembali karena ini?

Buatku wajar kalau dua orang yang berbeda, saling berdebat tentang ini dan itu, kadang memaki satu sama lain. Tapi toh selalu ada titik dimana kita akan saling mencari, karena aku tahu, satu orang yang kubutuhkan adalah musuh, teman, kekasih, partner in crime, pria yang baik tapi juga seorang pengecut…satu orang yang memiliki paket yang lengkap, satu orang yang tanpa topeng apapun, ia menjadi sebagaimana dirinya…dan membuatku tidak perlu menyembunyikan apapun darinya.

Tidak ada pujian. Ini bukan tentang kamu sempurna atau tidak sebagai manusia. Ini adalah sebesar apa kita saling membutuhkan, saling menggantikan, saling mencari dan menemukan.

Aku mungkin wanita ter-kasar, ter-galak, ter-harimau, ter-judes, ter-bawel, dan ter ter yang jelek lainnya di matamu. Sebagai orang yang perfectionist, mungkin aku sering mengeluh tentang banyak hal kecil tanpa sebuah penyampaian yang baik. Aku akan marah-marah saat kita sedang jalan di mall dan memperdebatkan seorang wanita dengan baju hitam-hitam yang menurutmu adalah security, tapi menurutku dia hanya karyawan biasa. Kita akan bertengkar sepanjang jalan karena hal sebesar upil itu. Atau kamu akan banyak mengomel saat aku lebih suka nonton film Korea dibanding harus masak. (Bagiku) Itu semua adalah hal terbodoh yang sangat wajar terjadi.

Kamu akan memikirkan kembali karena ini?

Setelah kita hidup dengan ‘banyak anak’, pertarungan akan semakin panjang. Bukan hanya tentang perut buncit, atau tentang kamu yang menggoda hidungku yang pesek, atau tentang makanmu yang berisik, atau tentang kentut sembarangan, kita akan mulai memperdebatkan tentang bagaimana caramu mengorok membuatku tidak bisa tidur, atau bagaimana tidak teraturnya caramu menggantung baju, atau bahkan protes tentang kamu yang tidak pernah mengembalikan gunting kuku ke tempat asalnya. Kamu juga akan sangat membenci aku yang selalu mengeluh repot untuk hal-hal yang sangat kecil.

Lalu, pada saat-saat seperti itu, apakah kita harus berpisah saat semua temanmu memintamu begitu?

Untuk kamu yang (mungkin) sedang berpikir…pasangan lain punya jutaan alasan yang lebih serius sebelum memutuskan untuk berpisah..

 

 

-elkafeni

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s