Cerpen : Terlambat – Part 1

Ketakutan terberat yang dirasakan seorang manusia adalah saat ia harus jatuh cinta. Bagi orang sepertiku, cinta hanyalah wujud lain dari sebuah penyiksaan yang abstrak. Menanti untuk ditemukan, kemudian mulai meracuni tiap sela nadi dan nafas hingga akhirnya rasa itu benar-benar membunuh setiap jiwa yang menemukannya. Kita tidak tahu bagaimana dan kapan cinta akan ditemukan, bagaimana kita akan percaya atau hanya meninggalkannya pergi.

 

Di tempat ini, angin berhembus indah tidak seperti biasanya. Aku tidak peduli meski awan menjadi agak sedikit cengeng belakangan ini. Sedikit-sedikit hatinya gelap dan menangis menjerit-jerit di awan biru. Apa dia juga sedang menangisi sebuah keterlambatan? Apa dia juga merasa menyesal?

Aku di tengah hari yang sangat berangin, sendiri, dan hanya ingin bercerita pada angin. Tak peduli air mata seperti apa yang akan hadir, aku takkan khawatir selagi danau indah itu tak berkeberatan menampung semua sedih dan duka. Tak peduli jika rumput-rumput menjadi kering, aku hanya ingin tersenyum, mencium semua wangi yang hinggap, jika saja masih ada aroma tubuhnya yang tertinggal. Detik adalah anugerah, sekalipun langit mengamuk di atas sana, tapi aku tak peduli, karena aku ingin merasakan hidupku, setidaknya hanya satu hari ini – satu hari dimana aku akan menerima sebuah cinta dan menyesali sebuah keterlambatan.

            Aku mengundang…sebuah hati untuk menemani, sebuah senyum untuk menghangatkan – bukan jiwa – melainkan  hanya seonggok daging yang nyawanya bahkan tak lebih berharga dari sebuah kotak pembungkus emas. Jauh dalam batinku aku bertanya, mungkinkah jika hati yang sama datang saat ini? Jika saja…mungkin…

 

November 2014

 

Suasana tempat kerjaku selalu riuh ramai saat malam hari. Tempat itu adalah tempat paling menyenangkan – setidaknya setiap orang yang kutemui selalu berkata begitu. Sedangkan menurutku tidaklah selalu seperti yang mereka katakan. Meski semua yang ada disana adalah keluarga dan sudah menjadi bagian dari hidupku, tapi sedikit banyak aku mulai merasa lelah dan jenuh. Sampai pada awal November…sesuatu yang tak biasa telah kutemui – sesuatu yang membunuh semua kebosanan yang terkutuk.

Dengan berani, aku beranjak dari zona nyamanku dan berjalan mendekati Han – tentu saja saat itu aku belum tahu namanya – yang sedang bincang santai dengan kawan-kawannya. Mereka menyambutku dengan ramah – ya, semua orang memang selalu senang saat bertemu denganku.

Saat kami sedang berbicara, diam-diam kupandangi dia. Dan entah kenapa aku pun menangkap Han yang – sengaja atau tidak – tengah menatapku hingga kami bertemu pandang. Aku selalu menunggunya untuk tersenyum, memamerkan tiap detail deretan giginya yang agak berantakan. Memperhatikan bagaimana matanya mengedip, bagaimana ia memandangi dan mengajakku bicara dengan sopan – berbeda dengan lelaki lain, bagaimana saat tangannya menggenggam gelas…apa yang dilakukan olehnya adalah yang berbeda, berbeda dari yang biasa dilakukan oleh pria lain, dan itu tak pernah jadi membosankan.

Waktu terus berjalan, sayangnya aku tak bisa banyak berbincang dengan mereka semua – termasuk Han – karena saat itu aku harus segera kembali melakukan pekerjaan yang sudah hampir empat tahun kulakoni disini. Tapi betapa beruntungnya aku saat Han sempat menyerahkan selembar kartu nama miliknya padaku sesaat sebelum aku beranjak pergi.

 

“Ha – ha – lo ?” saat itu aku benar-benar nervous ketika mendengar suaranya saat menjawab telponku.

“Ya? Siapa?” ia balik bertanya padaku dan itu tentu saja membuatku bingung untuk menjelaskannya.

“Saya…kemarin…em, kartu nama…” jelasku tergagap-gagap.

“Ah! Angel? Hei! Kamu masih ingat saya? Hahaha, saya pikir kamu nggak akan pernah nelpon saya.” Jelasnya diselingi tawa yang ringan.

Aku menghembuskan nafas, merasa lega karena justru ia masih ingat tentangku. Apalagi saat aku tahu bahwa dia seolah menunggu telepon dariku.

Setelah perbincangan di telepon itu berlalu, kami memiliki lebih banyak hal untuk dibicarakan. Aku tahu siapa namanya…bagaimana semua orang memanggilnya, seperti apa pekerjaannya, darimana ia berasal dan beberapa hal yang aku pikir itu adalah privasinya. Beberapa minggu setelah kami saling mengenal, ia juga sering mengajakku pergi walau hanya pada jam makan siang.

 

“Jujur, saya masih agak aneh juga karena kamu mau pergi makan siang dengan saya.” tanyanya pada satu kesempatan di kali pertama kami makan siang.
Aku hanya tersenyum, merasa konyol, karena tidak biasanya aku menemani tamu di luar jam kerja.

“Apa karena itu saya?” tanyanya lagi, kali ini dengan sangat percaya diri.

“Hmmm, mungkin karena kali ini kamu beruntung?” aku balik menanyakan pendapatnya.

Lalu kami tertawa, meski harus terhenti saat seorang pedagang bakso datang membawa pesanan kami. Aku menikmati setiap waktu dengannya, di setiap kesempatan makan siang atau berbincang dengan kopi di sore hari.

 

Meski lewat perkenalan yang sangat singkat, namun sejak saat itu aku tahu Han telah menghidupkan kembali sebuah hati. Aku merasakan sebuah rindu…rindu yang sedari dulu sangat aku takuti. Meski di lain sisi, aku telah menemukan jiwaku seolah terjebak di dalamnya dan enggan untuk beranjak kemanapun – hingga saat ini.

 

“Angel… Kamu pernah nggak sih berpikir untuk hidup dan mencintai pria yang hati kamu sendiri cintai?” ucapnya pada – seingatku beberapa hari yang lalu saat kami bertemu.

“Kenapa?” aku balik bertanya, karena apa yang dia tanyakan itu mulai terdengar aneh.

“Aku pikir setiap dari diri kita selalu punya waktu untuk berhenti ‘mencari’…” jelasnya.

 

Aku hanya diam. Menatapnya yang justru sedang menatap ke arah yang lain – mungkin danau biru yang saat itu berada tepat di depan kami. Tidak ada yang tahu bagaimana perasaanku saat itu. Layaknya dicekik oleh tali sutera, aku tidak berani untuk merasa bahagia setelah kalimat itu meluncur dari bibirnya.

 

“Kamu nggak pernah memikirkan itu?” pertanyaan itu lalu membuyarkan lamunanku.

“Kamu bilang…’berhenti mencari’?” tanyaku tak berani menatap wajahnya.

“Angel…” ucapnya seraya merengkuh kedua pundakku dengan tangannya, “…perempuan yang membawa mimpi baru dalam hidupku…aku mau kamu nggak lagi tinggal disana. Aku juga ingin membawa harapan baru untuk hidup kamu. Bolehkan aku, Angel..”

“Han…Meskipun sebelumnya aku selalu kecewa karena ayahku sendiri adalah orang yang membuat aku terlibat dengan pekerjaan ini, aku selalu bersyukur karena aku punya kesempatan untuk tahu kalau laki-laki seperti kamu ini nyata. Seandainya aku tahu lebih awal, aku akan keluar dari dunia ini segera. Tapi aku rasa, ini udah terlambat Han… Aku terlanjur masuk terlalu dalam sampai aku nggak akan pernah bisa keluar lagi.” Jelasku yang saat itu benar-benar merasa menyesal atas diriku sendiri setelah bertahun-tahun aku menyia-nyiakan waktuku untuk mengkhianati kenyataan bahwa sebenarnya dunia masih memiliki pria yang baik seperti Han.

 

“Angel…” Han menyentuh kedua pundakku. Aku mendengar apa yang dikatakannya hingga ia selesai berbicara. Pikiranku melayang hinggap di awan. Menggantung-gantung kegirangan, ingin menerima dengan tulus tentang semua yang diucapkan Han. Tapi aku segera menyadarkan diriku sendiri dan mengambil kedua tangannya untuk kugenggam.

 

“Han, sejak aku bertemu kamu, aku tahu bahwa sepertinya kamu akan bawa banyak perubahan untuk hidupku. Tapi Han, aku bahkan nggak pernah menginginkan lebih dari sekedar waktu kamu untuk aku. Kamu juga harus berhenti bermimpi. Apa yang kita punya sekarang bukan seperti apa yang kamu bayangkan. Kita nggak bisa jadi seperti apa yang kamu inginkan. Terlalu sulit untuk aku.”

“Angel, kamu nggak harus jawab sekarang… Kamu bisa pikirkan lagi nanti.” Ucap Han seolah memohon.

“Han, kita nggak bisa bermimpi…kita nggak pernah tertidur. Inilah kenyataan. Kita nggak bisa jadi yang lebih dari ini. Kamu harus sadar…”

 

Han diam. Angin menyentuh pepohonan menciptakan bunyi yang bergemerisik. Aku tak pernah tahu bahwa mungkin saja saat itu sebenarnya mereka sedang berusaha mengirim ilham buatku.

 

“Nggak akan mudah untuk aku pergi dari sana. Kamu pikir aku nggak pernah mencoba? Memutuskan untuk berhenti itu sama aja seperti aku menukar kebebasan dengan sebuah nyawa Han…” jelasku dengan penuh harap bahwa Han akan mengerti tentang pemikiranku.

 

Ucapannya itu membawa memoriku kembali pada satu tahun yang lalu, saat – mungkin – seorang pria lain juga memiliki niat yang sama dengan yang Han utarakan, namun dia harus mengganti semua itu dengan seluruh hidupnya. Tidak ada siapapun yang berani mengganggu atau menyentuh ‘wanita-wanita’ yang dilindungi seperti kami – setidaknya selama masih ada big boss.

 

Han masih diam. Tak ada jawaban untuk apa yang baru saja kutanyakan, seolah ia sedang menikmati dirinya berada dalam keheningan.

 

“Nggak mungkin juga kan kalau aku meminta kamu membayar kebebasanku dengan nyawa?” tanyaku kemudian, kali ini dengan sedikit senyuman.

 

Suasana tidak berubah sedikitpun. Masih hening. Angin berganti, membelai permukaan danau pada sore yang temaram. Matahari tahu waktu, setelah sepanjang hari tadi bercermin pada danau biru, ia akhirnya pergi berganti dengan awan-awan gelap.

 

Bersambung di  Cerpen : Terlambat – Part 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s