Cerpen : Terlambat – Part 2

Ucapannya itu membawa memoriku kembali pada satu tahun yang lalu, saat – mungkin – seorang pria lain juga memiliki niat yang sama dengan yang Han utarakan, namun dia harus mengganti semua itu dengan seluruh hidupnya. Tidak ada siapapun yang berani mengganggu atau menyentuh ‘wanita-wanita’ yang dilindungi seperti kami – setidaknya selama masih ada big boss.

 

Han masih diam. Tak ada jawaban untuk apa yang baru saja kutanyakan, seolah ia sedang menikmati dirinya berada dalam keheningan.

 

“Nggak mungkin juga kan kalau aku meminta kamu membayar kebebasanku dengan nyawa?” tanyaku kemudian, kali ini dengan sedikit senyuman.

 

Suasana tidak berubah sedikitpun. Masih hening. Angin berganti, membelai permukaan danau pada sore yang temaram. Matahari tahu waktu, setelah sepanjang hari tadi bercermin pada danau biru, ia akhirnya pergi berganti dengan awan-awan gelap.

Aku mengundang…sebuah hati untuk menemani, sebuah senyum untuk menghangatkan – bukan jiwa – melainkan  hanya seonggok daging yang nyawanya bahkan tak lebih berharga dari sebuah kotak pembungkus emas. Jauh dalam batinku aku bertanya, mungkinkah jika hati yang sama datang saat ini? Jika saja…mungkin…beberapa waktu yang lalu bisa dihadirkan kembali saat ini, kembali pada saat aku tengah duduk disini bersama Han, dan aku tak akan pernah berpaling dari hatinya.

Sekali lagi aku mengingat bagaimana Han memperlakukanku dengan berbeda; caranya menyentuhku, caranya memandangku…hati akan lebih mengerti bagaimana ketulusan yang sebenarnya. Han membuatku selalu merasa nyaman dengan semua yang dilakukannya. Tak peduli bagaimana aku hidup atau siapa saja yang hidup bersamaku, dia tetap tahu cara menghargai seorang manusia.

Sebuah tumpukan koran dengan salah satu headline mengerikan yang sedari tadi menunggu untuk dijamah akhirnya kusentuh juga. Air mata mulai menetes melewati kedua pipiku. Aku gagal. Tidak bisa menyembunyikan apa yang ada di hatiku. Aku tidak mampu meninggalkan apa yang tadinya ingin kubuang. Akhirnya dengan perasaan penuh sesak, aku memeluk lembaran-lembaran koran yang kudapat pagi ini seolah-olah itu adalah Han.

Lagi-lagi ingatanku terjebak pada setiap kenangan tentang Han. Dengannya, aku tidak perlu menjadi orang lain. Hanya memandangi dan tertawa bersamanya, aku terlupa akan semua masalah, dan bisa…paling tidak mensyukuri setiap kesempatan yang bisa kulewati bersamanya. Dia tak pernah lupa mengingatkanku tentang ini dan itu, juga selalu menjadi orang pertama yang mengagumiku. Meskipun akhirnya aku sendirilah yang menjauhkan hidupku darinya.

Aku tak pernah merasa tak berguna dan marah sedalam apa yang kurasakan saat ini, begitu sesak yang kurasakan hingga aku merasa tak pantas meski hanya menyimpan sebuah kenangan tentang Han. Aku benar-benar malu terhadap semua kebodohan yang meskipun kusesali, ini takkan membuatnya ingin kembali. Apa yang kuingat tentang Han telah mencabik-cabik ke-keras kepala-anku hingga aku berada pada titik dimana aku ingin membuang semua memori yang ada, tanpa berbekas, tanpa berjejak.

Angin berbisik lagi. Aku ingin akui bahwa aku mencintainya dan mempercayai bahwa ia pergi adalah karena kesalahannya yang telah mencintaiku. Namun tak ada lagi yang bisa diperbuat olehku, karena aku sendiri-lah yang telah menghempaskannya dengan sangat jauh dari hidupku – terlalu jauh – hingga takkan bisa kusentuh lagi.

Aku kembali teringat satu malam sebelumnya saat ia menemuiku di club. Malam di saat aku tak menghiraukan semua ucapannya dan malah memintanya untuk segera pergi dari lingkungan kerjaku. Seandainya saat itu aku tahu bahwa rasa penyesalanku akan sebesar ini, aku tak akan pernah mengacuhkan atau bahkan meninggalkannya.

Malam itu semua orang berlarian dengan panik. Tadinya kupikir semua berjalan seperti biasa, karena hal seperti ini bukanlah yang pertama terjadi. Setiap orang yang kalah berjudi atau sedang dalam pengaruh alkohol bisa melakukan apa saja disini. Karena itu pula aku sendiri tak beranjak sedikitpun, masih duduk bersama teman-temanku menemani minum beberapa tamu yang datang.

Mungkin sekitar lima belas menit berlalu, tiba-tiba Amanda datang padaku dengan tergesa-gesa. Amanda adalah seorang ‘pendatang baru’ yang kisah hidupnya tak jauh berbeda dengan diriku yang akhirnya tak mampu lari dari dunia suram ini. Amanda datang dengan tak lupa tersenyum pada semua tamuku sebelum ia berbisik di samping telingaku.

 

“Prang!” tanpa bisa kukira, seketika tangan kananku melemah melepas gelas dalam genggamannya, membuat salah seorang seniorku memandang dengan penuh amarah bercampur tanda tanya.

 

Dengan gemetar, segera aku berdiri meninggalkan semua tamu tanpa basa-basi setelah sebelumnya meminta Amanda segera mengantarku ke tempat dimana ia menemukan Han. Tidak pernah kubayangkan bahwa langkahnya akan berada pada titik sejauh ini. Dari Amanda aku mendengar tentang Han yang baru saja mencoba untuk berbicara dengan big boss untuk membawaku pergi. Sempat aku tak mengerti apa yang ada dalam pikiran Han hingga kemudian ia terlibat dalam masalah seperti ini dengan para bodyguard berdarah dingin itu. Kuakui aku masih tak percaya dengan apa yang kudengar sampai aku sendiri melihat Han tergeletak berlumuran darah berada di depan pintu masuk club.

Setiap orang yang melalui kami hanya melihat sekejap lantas pergi seolah tak mengerti. Tak ada yang menghampirinya kecuali aku yang berusaha membangunkan Han yang saat itu aku terus berharap dia hanya pingsan. Tanpa bisa melakukan hal lain untuk menyelamatkan Han, aku terus mengguncang-guncangkan tubuhnya. Tidak ada yang bisa menolong meski hanya memanggil sebuah ambulance termasuk aku dan Amanda, karena tak ada satu pun di antara kami yang diperkenankan membawa alat komunikasi selama kami bekerja.

Tak peduli meski kedua tanganku terkena darah yang mengalir dari sekujur tubuhnya aku tak mampu berhenti menggoyang-goyangkan tubuh Han. Banyak memar dan luka sobek karena pukulan yang bertubi-tubi di wajahnya. Juga sebuah luka tusuk di pinggangnya yang membuatku makin kebingungan tentang apa yang bisa kulakukan. Aku terus menangis, menggila di samping Han. Berkali-kali aku menepuk-nepuk wajahnya, menatapi matanya, meratap di hadapannya, tapi  yang kulakukan adalah sesuatu yang tanpa hasil. Semua itu jelas takkan bisa membawa Han kembali.

“Angel…” Amanda menangis sambil mendekat dan memelukku yang masih saja mencoba membangunkan Han.

 

Membutuhkan waktu lama untuk mencerna semua yang kulihat, hingga sesaat kemudian aku membatu di depan Han, yang tanpa jiwa, tanpa ruh.

 

“SEORANG LELAKI MUDA TEWAS DIPUKULI, DIDUGA KARENA TIDAK MAMPU BAYAR WANITA”

 

Aku kembali terngiang pada pertanyaanku saat itu, “Nggak mungkin juga kan kalau aku meminta kamu membayar kebebasanku dengan nyawa?”

“Tentu saja. Kamu telah membayarnya, Han.” Gumamku seraya menatap sebuah bangunan dengan aksen abu-abu dan hitam, juga tulisan berwarna kuning di depannya. Beberapa mobil dengan ciri khas sirine di atasnya telah terparkir rapi di halaman yang cukup luas dengan sebuah tiang bendera bercat putih yang menjadi centralnya.

Aku berjalan masuk melewati beberapa petugas yang salah satu di antaranya berkenan mengantarkanku masuk ke sebuah ruangan.

 

“Angel…kamu adalah wanita hebat yang memiliki banyak hal yang aku impikan. Kemandirian, ketegaran dan keberanianmu bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki oleh wanita lain. Bukan juga karena satu kesalahan gugur semua pesonamu.. Ada yang jauh lebih berharga dari sekedar selaput. Itu adalah hati, cinta yang tulus.Kamu wanita yang hebat yang ingin aku lindungi.” Setidaknya itu adalah salah satu yang selalu terngiang di sisi telingaku. Saat terakhir kami bertemu, di danau itu, di hari yang berangin itu.

 

Januari 2015

 

Aku tidak pernah tahu bagaimana sebuah ucapan tulus bisa membawa kehidupan baru yang lebih baik bagi seseorang. Juga bagaimana cinta masih mampu tetap bertahan dalam jiwa manusia, meskipun manusia itu sendiri mengerti bahwa cinta akan melahapnya hidup-hidup, menjadikannya mangsa yang empuk dalam setiap hari-harinya.

Namun karena ucapan tulus itu aku bisa dengan mudah mengalahkan cinta yang tadinya kuanggap kejam. Semua hal akan menjadi benar jika jatuh pada pilihan yang tepat dan akan menjadi salah jika jatuh pada pilihan yang salah. Jika kebahagiaan hanyalah soal waktu, mungkin aku telah melewatkan wujudnya, tapi dalam hatiku, kebahagiaan itu masih hidup dengan Han di dalamnya. Aku merasa hidup dengan adanya dia. Bersyukur karena dia mampu membayarku, meski aku harus kembali membayarnya dengan semua penyesalan yang aku tahu pasti ini tak pernah dia inginkan.

 

“Angel…” Amanda memanggilku. Tanpa kusadari ia telah duduk di samping meja bundar kecil yang memisahkan jarak duduk kami berdua.

“Eh, sorry Manda, aku nggak tau kamu disitu.” Ucapku. Amanda hanya tersenyum kecil, seolah sudah lumrah dengan sikapku.

 

Ada nampan di tangannya yang segera ia taruh di atas meja kecil itu, dengan dua cangkir teh hangat yang selalu kami minum kala sore, saat aku, dia, dan beberapa pekerja kami telah selesai mempersiapkan semua makanan untuk usaha catering baru kami.

Aku mengambil satu, begitu juga dengannya. Membiarkan angin merasuk menyejukkan jiwa kami yang tak lagi harus ketakutan tentang malam. Berterima kasih pada jiwa yang pergi setelah menyelamatkan puluhan raga yang tersiksa selama bertahun-tahun dalam tempat itu. Tempat dimana aku digariskan untuk menemukan dan kehilangan.

Aku menatap pada awan dan menunggu jika saja ada satu dari ribuan bisikan angin yang membawa pesan Han untukku. Dimana saat itu pula akan ku sampaikan bahwa aku telah percaya pada cintanya. Aku akan mengakui satu kebenaran bahwa cinta bukanlah keraguan, tapi keyakinan. Sama sepertinya yang tidak pernah takut untuk ‘membayarku’ yang kini harus membayar kembali semua keterlambatan ini untuknya.

 

Han…jika aku menerimamu hari itu…akankah hal seperti ini tidak terjadi? Jika saja aku sedikit lebih berani untuk mengakui cinta itu, akankah kamu bahagia? Jika saja aku meminta maafmu, maukah kamu kembali – menjadi sosok yang sama seperti sebelumnya?

Maafkan, karena aku begitu menganggap semua ucapanmu adalah kebohongan. Aku tak pernah tahu bahwa lelaki seperti kamu adalah sesuatu yang nyata.

Han…

Ada banyak hal yang ingin kusampaikan, ku harap aku belum terlambat.

END

 

Well done ^^

Cerpen ini adalah salah satu cerpen yang pernah saya kirimkan ke sebuah kompetisi menulis kira-kira sekitar satu tahun ke belakang. Mungkin masih ada part-part yang kurang dan belum sesuai dengan kriteria penilaian, jadi cerpen ini tidak terpilih.

Lalu kenapa saya post cerpen ini? Sampai hari ini, buat saya tokoh Angel masih begitu mengagumkan dengan semua yang dia miliki. Terlepas dari semua hal buruk yang melekat pada hidupnya, Angel memiliki keberuntungan dan karunia yang (kalau dia bisa sedikit percaya) tidak semua orang bisa miliki.

Ini hanya sebuah cerita fiksi, yang setiap detail perasaannya melibatkan apa yang pernah atau sedang saya rasakan. Berkiblat dari cerita ini, saya harap readers juga bisa percaya kalau ketulusan itu masih ada bagi setiap orang yang mau percaya. Begitulah..

Have a nice holiday!! ^^

 

Kembali ke Cerpen : Terlambat – Part 1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s