Cerpen : Terlambat – Part 2

Ucapannya itu membawa memoriku kembali pada satu tahun yang lalu, saat – mungkin – seorang pria lain juga memiliki niat yang sama dengan yang Han utarakan, namun dia harus mengganti semua itu dengan seluruh hidupnya. Tidak ada siapapun yang berani mengganggu atau menyentuh ‘wanita-wanita’ yang dilindungi seperti kami – setidaknya selama masih ada big boss.

 

Han masih diam. Tak ada jawaban untuk apa yang baru saja kutanyakan, seolah ia sedang menikmati dirinya berada dalam keheningan.

 

“Nggak mungkin juga kan kalau aku meminta kamu membayar kebebasanku dengan nyawa?” tanyaku kemudian, kali ini dengan sedikit senyuman.

 

Suasana tidak berubah sedikitpun. Masih hening. Angin berganti, membelai permukaan danau pada sore yang temaram. Matahari tahu waktu, setelah sepanjang hari tadi bercermin pada danau biru, ia akhirnya pergi berganti dengan awan-awan gelap.

Aku mengundang…sebuah hati untuk menemani, sebuah senyum untuk menghangatkan – bukan jiwa – melainkan  hanya seonggok daging yang nyawanya bahkan tak lebih berharga dari sebuah kotak pembungkus emas. Jauh dalam batinku aku bertanya, mungkinkah jika hati yang sama datang saat ini? Jika saja…mungkin…beberapa waktu yang lalu bisa dihadirkan kembali saat ini, kembali pada saat aku tengah duduk disini bersama Han, dan aku tak akan pernah berpaling dari hatinya.

Sekali lagi aku mengingat bagaimana Han memperlakukanku dengan berbeda; caranya menyentuhku, caranya memandangku…hati akan lebih mengerti bagaimana ketulusan yang sebenarnya. Han membuatku selalu merasa nyaman dengan semua yang dilakukannya. Tak peduli bagaimana aku hidup atau siapa saja yang hidup bersamaku, dia tetap tahu cara menghargai seorang manusia.

Sebuah tumpukan koran dengan salah satu headline mengerikan yang sedari tadi menunggu untuk dijamah akhirnya kusentuh juga. Air mata mulai menetes melewati kedua pipiku. Aku gagal. Tidak bisa menyembunyikan apa yang ada di hatiku. Aku tidak mampu meninggalkan apa yang tadinya ingin kubuang. Akhirnya dengan perasaan penuh sesak, aku memeluk lembaran-lembaran koran yang kudapat pagi ini seolah-olah itu adalah Han.

Lagi-lagi ingatanku terjebak pada setiap kenangan tentang Han. Dengannya, aku tidak perlu menjadi orang lain. Hanya memandangi dan tertawa bersamanya, aku terlupa akan semua masalah, dan bisa…paling tidak mensyukuri setiap kesempatan yang bisa kulewati bersamanya. Dia tak pernah lupa mengingatkanku tentang ini dan itu, juga selalu menjadi orang pertama yang mengagumiku. Meskipun akhirnya aku sendirilah yang menjauhkan hidupku darinya.

Aku tak pernah merasa tak berguna dan marah sedalam apa yang kurasakan saat ini, begitu sesak yang kurasakan hingga aku merasa tak pantas meski hanya menyimpan sebuah kenangan tentang Han. Aku benar-benar malu terhadap semua kebodohan yang meskipun kusesali, ini takkan membuatnya ingin kembali. Apa yang kuingat tentang Han telah mencabik-cabik ke-keras kepala-anku hingga aku berada pada titik dimana aku ingin membuang semua memori yang ada, tanpa berbekas, tanpa berjejak.

Angin berbisik lagi. Aku ingin akui bahwa aku mencintainya dan mempercayai bahwa ia pergi adalah karena kesalahannya yang telah mencintaiku. Namun tak ada lagi yang bisa diperbuat olehku, karena aku sendiri-lah yang telah menghempaskannya dengan sangat jauh dari hidupku – terlalu jauh – hingga takkan bisa kusentuh lagi.

Aku kembali teringat satu malam sebelumnya saat ia menemuiku di club. Malam di saat aku tak menghiraukan semua ucapannya dan malah memintanya untuk segera pergi dari lingkungan kerjaku. Seandainya saat itu aku tahu bahwa rasa penyesalanku akan sebesar ini, aku tak akan pernah mengacuhkan atau bahkan meninggalkannya.

Malam itu semua orang berlarian dengan panik. Tadinya kupikir semua berjalan seperti biasa, karena hal seperti ini bukanlah yang pertama terjadi. Setiap orang yang kalah berjudi atau sedang dalam pengaruh alkohol bisa melakukan apa saja disini. Karena itu pula aku sendiri tak beranjak sedikitpun, masih duduk bersama teman-temanku menemani minum beberapa tamu yang datang.

Mungkin sekitar lima belas menit berlalu, tiba-tiba Amanda datang padaku dengan tergesa-gesa. Amanda adalah seorang ‘pendatang baru’ yang kisah hidupnya tak jauh berbeda dengan diriku yang akhirnya tak mampu lari dari dunia suram ini. Amanda datang dengan tak lupa tersenyum pada semua tamuku sebelum ia berbisik di samping telingaku.

 

“Prang!” tanpa bisa kukira, seketika tangan kananku melemah melepas gelas dalam genggamannya, membuat salah seorang seniorku memandang dengan penuh amarah bercampur tanda tanya.

 

Dengan gemetar, segera aku berdiri meninggalkan semua tamu tanpa basa-basi setelah sebelumnya meminta Amanda segera mengantarku ke tempat dimana ia menemukan Han. Tidak pernah kubayangkan bahwa langkahnya akan berada pada titik sejauh ini. Dari Amanda aku mendengar tentang Han yang baru saja mencoba untuk berbicara dengan big boss untuk membawaku pergi. Sempat aku tak mengerti apa yang ada dalam pikiran Han hingga kemudian ia terlibat dalam masalah seperti ini dengan para bodyguard berdarah dingin itu. Kuakui aku masih tak percaya dengan apa yang kudengar sampai aku sendiri melihat Han tergeletak berlumuran darah berada di depan pintu masuk club.

Setiap orang yang melalui kami hanya melihat sekejap lantas pergi seolah tak mengerti. Tak ada yang menghampirinya kecuali aku yang berusaha membangunkan Han yang saat itu aku terus berharap dia hanya pingsan. Tanpa bisa melakukan hal lain untuk menyelamatkan Han, aku terus mengguncang-guncangkan tubuhnya. Tidak ada yang bisa menolong meski hanya memanggil sebuah ambulance termasuk aku dan Amanda, karena tak ada satu pun di antara kami yang diperkenankan membawa alat komunikasi selama kami bekerja.

Tak peduli meski kedua tanganku terkena darah yang mengalir dari sekujur tubuhnya aku tak mampu berhenti menggoyang-goyangkan tubuh Han. Banyak memar dan luka sobek karena pukulan yang bertubi-tubi di wajahnya. Juga sebuah luka tusuk di pinggangnya yang membuatku makin kebingungan tentang apa yang bisa kulakukan. Aku terus menangis, menggila di samping Han. Berkali-kali aku menepuk-nepuk wajahnya, menatapi matanya, meratap di hadapannya, tapi  yang kulakukan adalah sesuatu yang tanpa hasil. Semua itu jelas takkan bisa membawa Han kembali.

“Angel…” Amanda menangis sambil mendekat dan memelukku yang masih saja mencoba membangunkan Han.

 

Membutuhkan waktu lama untuk mencerna semua yang kulihat, hingga sesaat kemudian aku membatu di depan Han, yang tanpa jiwa, tanpa ruh.

 

“SEORANG LELAKI MUDA TEWAS DIPUKULI, DIDUGA KARENA TIDAK MAMPU BAYAR WANITA”

 

Aku kembali terngiang pada pertanyaanku saat itu, “Nggak mungkin juga kan kalau aku meminta kamu membayar kebebasanku dengan nyawa?”

“Tentu saja. Kamu telah membayarnya, Han.” Gumamku seraya menatap sebuah bangunan dengan aksen abu-abu dan hitam, juga tulisan berwarna kuning di depannya. Beberapa mobil dengan ciri khas sirine di atasnya telah terparkir rapi di halaman yang cukup luas dengan sebuah tiang bendera bercat putih yang menjadi centralnya.

Aku berjalan masuk melewati beberapa petugas yang salah satu di antaranya berkenan mengantarkanku masuk ke sebuah ruangan.

 

“Angel…kamu adalah wanita hebat yang memiliki banyak hal yang aku impikan. Kemandirian, ketegaran dan keberanianmu bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki oleh wanita lain. Bukan juga karena satu kesalahan gugur semua pesonamu.. Ada yang jauh lebih berharga dari sekedar selaput. Itu adalah hati, cinta yang tulus.Kamu wanita yang hebat yang ingin aku lindungi.” Setidaknya itu adalah salah satu yang selalu terngiang di sisi telingaku. Saat terakhir kami bertemu, di danau itu, di hari yang berangin itu.

 

Januari 2015

 

Aku tidak pernah tahu bagaimana sebuah ucapan tulus bisa membawa kehidupan baru yang lebih baik bagi seseorang. Juga bagaimana cinta masih mampu tetap bertahan dalam jiwa manusia, meskipun manusia itu sendiri mengerti bahwa cinta akan melahapnya hidup-hidup, menjadikannya mangsa yang empuk dalam setiap hari-harinya.

Namun karena ucapan tulus itu aku bisa dengan mudah mengalahkan cinta yang tadinya kuanggap kejam. Semua hal akan menjadi benar jika jatuh pada pilihan yang tepat dan akan menjadi salah jika jatuh pada pilihan yang salah. Jika kebahagiaan hanyalah soal waktu, mungkin aku telah melewatkan wujudnya, tapi dalam hatiku, kebahagiaan itu masih hidup dengan Han di dalamnya. Aku merasa hidup dengan adanya dia. Bersyukur karena dia mampu membayarku, meski aku harus kembali membayarnya dengan semua penyesalan yang aku tahu pasti ini tak pernah dia inginkan.

 

“Angel…” Amanda memanggilku. Tanpa kusadari ia telah duduk di samping meja bundar kecil yang memisahkan jarak duduk kami berdua.

“Eh, sorry Manda, aku nggak tau kamu disitu.” Ucapku. Amanda hanya tersenyum kecil, seolah sudah lumrah dengan sikapku.

 

Ada nampan di tangannya yang segera ia taruh di atas meja kecil itu, dengan dua cangkir teh hangat yang selalu kami minum kala sore, saat aku, dia, dan beberapa pekerja kami telah selesai mempersiapkan semua makanan untuk usaha catering baru kami.

Aku mengambil satu, begitu juga dengannya. Membiarkan angin merasuk menyejukkan jiwa kami yang tak lagi harus ketakutan tentang malam. Berterima kasih pada jiwa yang pergi setelah menyelamatkan puluhan raga yang tersiksa selama bertahun-tahun dalam tempat itu. Tempat dimana aku digariskan untuk menemukan dan kehilangan.

Aku menatap pada awan dan menunggu jika saja ada satu dari ribuan bisikan angin yang membawa pesan Han untukku. Dimana saat itu pula akan ku sampaikan bahwa aku telah percaya pada cintanya. Aku akan mengakui satu kebenaran bahwa cinta bukanlah keraguan, tapi keyakinan. Sama sepertinya yang tidak pernah takut untuk ‘membayarku’ yang kini harus membayar kembali semua keterlambatan ini untuknya.

 

Han…jika aku menerimamu hari itu…akankah hal seperti ini tidak terjadi? Jika saja aku sedikit lebih berani untuk mengakui cinta itu, akankah kamu bahagia? Jika saja aku meminta maafmu, maukah kamu kembali – menjadi sosok yang sama seperti sebelumnya?

Maafkan, karena aku begitu menganggap semua ucapanmu adalah kebohongan. Aku tak pernah tahu bahwa lelaki seperti kamu adalah sesuatu yang nyata.

Han…

Ada banyak hal yang ingin kusampaikan, ku harap aku belum terlambat.

END

 

Well done ^^

Cerpen ini adalah salah satu cerpen yang pernah saya kirimkan ke sebuah kompetisi menulis kira-kira sekitar satu tahun ke belakang. Mungkin masih ada part-part yang kurang dan belum sesuai dengan kriteria penilaian, jadi cerpen ini tidak terpilih.

Lalu kenapa saya post cerpen ini? Sampai hari ini, buat saya tokoh Angel masih begitu mengagumkan dengan semua yang dia miliki. Terlepas dari semua hal buruk yang melekat pada hidupnya, Angel memiliki keberuntungan dan karunia yang (kalau dia bisa sedikit percaya) tidak semua orang bisa miliki.

Ini hanya sebuah cerita fiksi, yang setiap detail perasaannya melibatkan apa yang pernah atau sedang saya rasakan. Berkiblat dari cerita ini, saya harap readers juga bisa percaya kalau ketulusan itu masih ada bagi setiap orang yang mau percaya. Begitulah..

Have a nice holiday!! ^^

 

Kembali ke Cerpen : Terlambat – Part 1

Advertisements

Cerpen : Terlambat – Part 1

Ketakutan terberat yang dirasakan seorang manusia adalah saat ia harus jatuh cinta. Bagi orang sepertiku, cinta hanyalah wujud lain dari sebuah penyiksaan yang abstrak. Menanti untuk ditemukan, kemudian mulai meracuni tiap sela nadi dan nafas hingga akhirnya rasa itu benar-benar membunuh setiap jiwa yang menemukannya. Kita tidak tahu bagaimana dan kapan cinta akan ditemukan, bagaimana kita akan percaya atau hanya meninggalkannya pergi.

 

Di tempat ini, angin berhembus indah tidak seperti biasanya. Aku tidak peduli meski awan menjadi agak sedikit cengeng belakangan ini. Sedikit-sedikit hatinya gelap dan menangis menjerit-jerit di awan biru. Apa dia juga sedang menangisi sebuah keterlambatan? Apa dia juga merasa menyesal?

Aku di tengah hari yang sangat berangin, sendiri, dan hanya ingin bercerita pada angin. Tak peduli air mata seperti apa yang akan hadir, aku takkan khawatir selagi danau indah itu tak berkeberatan menampung semua sedih dan duka. Tak peduli jika rumput-rumput menjadi kering, aku hanya ingin tersenyum, mencium semua wangi yang hinggap, jika saja masih ada aroma tubuhnya yang tertinggal. Detik adalah anugerah, sekalipun langit mengamuk di atas sana, tapi aku tak peduli, karena aku ingin merasakan hidupku, setidaknya hanya satu hari ini – satu hari dimana aku akan menerima sebuah cinta dan menyesali sebuah keterlambatan.

            Aku mengundang…sebuah hati untuk menemani, sebuah senyum untuk menghangatkan – bukan jiwa – melainkan  hanya seonggok daging yang nyawanya bahkan tak lebih berharga dari sebuah kotak pembungkus emas. Jauh dalam batinku aku bertanya, mungkinkah jika hati yang sama datang saat ini? Jika saja…mungkin…

 

November 2014

 

Suasana tempat kerjaku selalu riuh ramai saat malam hari. Tempat itu adalah tempat paling menyenangkan – setidaknya setiap orang yang kutemui selalu berkata begitu. Sedangkan menurutku tidaklah selalu seperti yang mereka katakan. Meski semua yang ada disana adalah keluarga dan sudah menjadi bagian dari hidupku, tapi sedikit banyak aku mulai merasa lelah dan jenuh. Sampai pada awal November…sesuatu yang tak biasa telah kutemui – sesuatu yang membunuh semua kebosanan yang terkutuk.

Dengan berani, aku beranjak dari zona nyamanku dan berjalan mendekati Han – tentu saja saat itu aku belum tahu namanya – yang sedang bincang santai dengan kawan-kawannya. Mereka menyambutku dengan ramah – ya, semua orang memang selalu senang saat bertemu denganku.

Saat kami sedang berbicara, diam-diam kupandangi dia. Dan entah kenapa aku pun menangkap Han yang – sengaja atau tidak – tengah menatapku hingga kami bertemu pandang. Aku selalu menunggunya untuk tersenyum, memamerkan tiap detail deretan giginya yang agak berantakan. Memperhatikan bagaimana matanya mengedip, bagaimana ia memandangi dan mengajakku bicara dengan sopan – berbeda dengan lelaki lain, bagaimana saat tangannya menggenggam gelas…apa yang dilakukan olehnya adalah yang berbeda, berbeda dari yang biasa dilakukan oleh pria lain, dan itu tak pernah jadi membosankan.

Waktu terus berjalan, sayangnya aku tak bisa banyak berbincang dengan mereka semua – termasuk Han – karena saat itu aku harus segera kembali melakukan pekerjaan yang sudah hampir empat tahun kulakoni disini. Tapi betapa beruntungnya aku saat Han sempat menyerahkan selembar kartu nama miliknya padaku sesaat sebelum aku beranjak pergi.

 

“Ha – ha – lo ?” saat itu aku benar-benar nervous ketika mendengar suaranya saat menjawab telponku.

“Ya? Siapa?” ia balik bertanya padaku dan itu tentu saja membuatku bingung untuk menjelaskannya.

“Saya…kemarin…em, kartu nama…” jelasku tergagap-gagap.

“Ah! Angel? Hei! Kamu masih ingat saya? Hahaha, saya pikir kamu nggak akan pernah nelpon saya.” Jelasnya diselingi tawa yang ringan.

Aku menghembuskan nafas, merasa lega karena justru ia masih ingat tentangku. Apalagi saat aku tahu bahwa dia seolah menunggu telepon dariku.

Setelah perbincangan di telepon itu berlalu, kami memiliki lebih banyak hal untuk dibicarakan. Aku tahu siapa namanya…bagaimana semua orang memanggilnya, seperti apa pekerjaannya, darimana ia berasal dan beberapa hal yang aku pikir itu adalah privasinya. Beberapa minggu setelah kami saling mengenal, ia juga sering mengajakku pergi walau hanya pada jam makan siang.

 

“Jujur, saya masih agak aneh juga karena kamu mau pergi makan siang dengan saya.” tanyanya pada satu kesempatan di kali pertama kami makan siang.
Aku hanya tersenyum, merasa konyol, karena tidak biasanya aku menemani tamu di luar jam kerja.

“Apa karena itu saya?” tanyanya lagi, kali ini dengan sangat percaya diri.

“Hmmm, mungkin karena kali ini kamu beruntung?” aku balik menanyakan pendapatnya.

Lalu kami tertawa, meski harus terhenti saat seorang pedagang bakso datang membawa pesanan kami. Aku menikmati setiap waktu dengannya, di setiap kesempatan makan siang atau berbincang dengan kopi di sore hari.

 

Meski lewat perkenalan yang sangat singkat, namun sejak saat itu aku tahu Han telah menghidupkan kembali sebuah hati. Aku merasakan sebuah rindu…rindu yang sedari dulu sangat aku takuti. Meski di lain sisi, aku telah menemukan jiwaku seolah terjebak di dalamnya dan enggan untuk beranjak kemanapun – hingga saat ini.

 

“Angel… Kamu pernah nggak sih berpikir untuk hidup dan mencintai pria yang hati kamu sendiri cintai?” ucapnya pada – seingatku beberapa hari yang lalu saat kami bertemu.

“Kenapa?” aku balik bertanya, karena apa yang dia tanyakan itu mulai terdengar aneh.

“Aku pikir setiap dari diri kita selalu punya waktu untuk berhenti ‘mencari’…” jelasnya.

 

Aku hanya diam. Menatapnya yang justru sedang menatap ke arah yang lain – mungkin danau biru yang saat itu berada tepat di depan kami. Tidak ada yang tahu bagaimana perasaanku saat itu. Layaknya dicekik oleh tali sutera, aku tidak berani untuk merasa bahagia setelah kalimat itu meluncur dari bibirnya.

 

“Kamu nggak pernah memikirkan itu?” pertanyaan itu lalu membuyarkan lamunanku.

“Kamu bilang…’berhenti mencari’?” tanyaku tak berani menatap wajahnya.

“Angel…” ucapnya seraya merengkuh kedua pundakku dengan tangannya, “…perempuan yang membawa mimpi baru dalam hidupku…aku mau kamu nggak lagi tinggal disana. Aku juga ingin membawa harapan baru untuk hidup kamu. Bolehkan aku, Angel..”

“Han…Meskipun sebelumnya aku selalu kecewa karena ayahku sendiri adalah orang yang membuat aku terlibat dengan pekerjaan ini, aku selalu bersyukur karena aku punya kesempatan untuk tahu kalau laki-laki seperti kamu ini nyata. Seandainya aku tahu lebih awal, aku akan keluar dari dunia ini segera. Tapi aku rasa, ini udah terlambat Han… Aku terlanjur masuk terlalu dalam sampai aku nggak akan pernah bisa keluar lagi.” Jelasku yang saat itu benar-benar merasa menyesal atas diriku sendiri setelah bertahun-tahun aku menyia-nyiakan waktuku untuk mengkhianati kenyataan bahwa sebenarnya dunia masih memiliki pria yang baik seperti Han.

 

“Angel…” Han menyentuh kedua pundakku. Aku mendengar apa yang dikatakannya hingga ia selesai berbicara. Pikiranku melayang hinggap di awan. Menggantung-gantung kegirangan, ingin menerima dengan tulus tentang semua yang diucapkan Han. Tapi aku segera menyadarkan diriku sendiri dan mengambil kedua tangannya untuk kugenggam.

 

“Han, sejak aku bertemu kamu, aku tahu bahwa sepertinya kamu akan bawa banyak perubahan untuk hidupku. Tapi Han, aku bahkan nggak pernah menginginkan lebih dari sekedar waktu kamu untuk aku. Kamu juga harus berhenti bermimpi. Apa yang kita punya sekarang bukan seperti apa yang kamu bayangkan. Kita nggak bisa jadi seperti apa yang kamu inginkan. Terlalu sulit untuk aku.”

“Angel, kamu nggak harus jawab sekarang… Kamu bisa pikirkan lagi nanti.” Ucap Han seolah memohon.

“Han, kita nggak bisa bermimpi…kita nggak pernah tertidur. Inilah kenyataan. Kita nggak bisa jadi yang lebih dari ini. Kamu harus sadar…”

 

Han diam. Angin menyentuh pepohonan menciptakan bunyi yang bergemerisik. Aku tak pernah tahu bahwa mungkin saja saat itu sebenarnya mereka sedang berusaha mengirim ilham buatku.

 

“Nggak akan mudah untuk aku pergi dari sana. Kamu pikir aku nggak pernah mencoba? Memutuskan untuk berhenti itu sama aja seperti aku menukar kebebasan dengan sebuah nyawa Han…” jelasku dengan penuh harap bahwa Han akan mengerti tentang pemikiranku.

 

Ucapannya itu membawa memoriku kembali pada satu tahun yang lalu, saat – mungkin – seorang pria lain juga memiliki niat yang sama dengan yang Han utarakan, namun dia harus mengganti semua itu dengan seluruh hidupnya. Tidak ada siapapun yang berani mengganggu atau menyentuh ‘wanita-wanita’ yang dilindungi seperti kami – setidaknya selama masih ada big boss.

 

Han masih diam. Tak ada jawaban untuk apa yang baru saja kutanyakan, seolah ia sedang menikmati dirinya berada dalam keheningan.

 

“Nggak mungkin juga kan kalau aku meminta kamu membayar kebebasanku dengan nyawa?” tanyaku kemudian, kali ini dengan sedikit senyuman.

 

Suasana tidak berubah sedikitpun. Masih hening. Angin berganti, membelai permukaan danau pada sore yang temaram. Matahari tahu waktu, setelah sepanjang hari tadi bercermin pada danau biru, ia akhirnya pergi berganti dengan awan-awan gelap.

 

Bersambung di  Cerpen : Terlambat – Part 2

Untuk kamu yang (mungkin) sedang berpikir…

Aku adalah orang yang tidak pernah sedikitpun akan goyah dengan apapun itu yang menjadi pilihanku. Dan kamu…telah memilih aku yang seperti itu. Ini bisa saja menjadi sebuah kesalahan atau mungkin tidak…hanya tergantung dari bagaimana kamu memiliki sudut pandang tentang itu.

Mungkin kamu tahu, bagaimana aku pernah melakukan kesalahan itu dengan baik di masa lalu. Tapi…jika aku diberi kesempatan untuk bisa memperbaiki hal-hal dalam hidupku, aku akan membiarkan hal yang sama terjadi pada bagian yang salah itu, keep what I have choosen.

Semakin masa itu berlalu, aku tahu bahwa saat itu bukan hanya ketakutan yang membuatku bertahan dalam masa sulit itu, tapi aku bertahan karena keteguhan dan keyakinan kalau semua hal pasti bisa diperbaiki, semua masalah pasti bisa diselesaikan sebelum akhirnya kita bisa hidup tenang, bahagia, dan dengan bangga bisa mengenang semua hal yang telah dilalui; menghunuskan pedang pada ilalang.

Kalau kamu bilang aku keras kepala, aku akan sangat bangga dengan kebatuan itu. Sungguh. Karena kamu tidak perlu cemburu atau ragu dengan apapun yang mungkin orang katakan. Ini adalah tentang keyakinan dan sejauh mana kita bisa saling mempercayai.

Biarkan aku bertanya 2 hal saja; Bagaimana kamu percaya dengan hubungan ini? Dan sejauh apa kepercayaan tertinggimu?

Bagaimana aku percaya dengan hubungan ini adalah karena aku menjalaninya dengan kamu, dan dimana letak kepercayaan tertinggiku terhadap kamu? Well, dulu mungkin kesetiaan…

Apapun itu, walaupun mungkin kita terlahir sebagai orang yang — menurut orang lain– adalah mangkok dan tutupnya, semua tetap akan berakhir saat mangkok tidak percaya pada dirinya sendiri bahwa ia telah memilih tutup yang pas. Bagaimana cerita tentang seekor keledai, kakek tua dan cucunya berakhir? Itu akan menjadi lelucon bagi siapapun yang tahu.

Dan aku…jika aku memilih jalan yang sama setelah apa yang kudengar dari orang lain, mungkin aku sedang menertawakan keputusanku sekarang. Apapun keputusannya, meskipun itu menyakitkan, setidaknya itu adalah sebuah keputusan yang kamu buat sendiri. Disitu aku nggak akan pernah goyah dengan dan karena apapun.

Aku tidak pernah tahu apa yang mereka dengar tentang aku. Mungkin saja maksud dari semua sikapku bisa mereka terima dengan baik, atau bahkan mereka tidak bisa menemukan kebaikan sama sekali. Semua keadaan, hanya kita yang tahu, atau mungkin hanya aku atau kamu yang tahu.

Mungkin ini seperti saat aku memberikan uang 1 juta untuk kamu. Tanpa bicara atau apapun, aku hanya memberikannya. Apa yang harus kamu lakukan? Menyimpan semua uang? Atau menghabiskan semuanya? Semua hal bisa terjadi tanpa komunikasi. Bisa saja kita saling mengerti, atau mungkin saling membenci.

Kamu ingin memikirkan kembali karena ini?

Buatku wajar kalau dua orang yang berbeda, saling berdebat tentang ini dan itu, kadang memaki satu sama lain. Tapi toh selalu ada titik dimana kita akan saling mencari, karena aku tahu, satu orang yang kubutuhkan adalah musuh, teman, kekasih, partner in crime, pria yang baik tapi juga seorang pengecut…satu orang yang memiliki paket yang lengkap, satu orang yang tanpa topeng apapun, ia menjadi sebagaimana dirinya…dan membuatku tidak perlu menyembunyikan apapun darinya.

Tidak ada pujian. Ini bukan tentang kamu sempurna atau tidak sebagai manusia. Ini adalah sebesar apa kita saling membutuhkan, saling menggantikan, saling mencari dan menemukan.

Aku mungkin wanita ter-kasar, ter-galak, ter-harimau, ter-judes, ter-bawel, dan ter ter yang jelek lainnya di matamu. Sebagai orang yang perfectionist, mungkin aku sering mengeluh tentang banyak hal kecil tanpa sebuah penyampaian yang baik. Aku akan marah-marah saat kita sedang jalan di mall dan memperdebatkan seorang wanita dengan baju hitam-hitam yang menurutmu adalah security, tapi menurutku dia hanya karyawan biasa. Kita akan bertengkar sepanjang jalan karena hal sebesar upil itu. Atau kamu akan banyak mengomel saat aku lebih suka nonton film Korea dibanding harus masak. (Bagiku) Itu semua adalah hal terbodoh yang sangat wajar terjadi.

Kamu akan memikirkan kembali karena ini?

Setelah kita hidup dengan ‘banyak anak’, pertarungan akan semakin panjang. Bukan hanya tentang perut buncit, atau tentang kamu yang menggoda hidungku yang pesek, atau tentang makanmu yang berisik, atau tentang kentut sembarangan, kita akan mulai memperdebatkan tentang bagaimana caramu mengorok membuatku tidak bisa tidur, atau bagaimana tidak teraturnya caramu menggantung baju, atau bahkan protes tentang kamu yang tidak pernah mengembalikan gunting kuku ke tempat asalnya. Kamu juga akan sangat membenci aku yang selalu mengeluh repot untuk hal-hal yang sangat kecil.

Lalu, pada saat-saat seperti itu, apakah kita harus berpisah saat semua temanmu memintamu begitu?

Untuk kamu yang (mungkin) sedang berpikir…pasangan lain punya jutaan alasan yang lebih serius sebelum memutuskan untuk berpisah..

 

 

-elkafeni

 

Fiction : Memories

Aku ingat. Dulu dia adalah mimpi bagiku. Namun akhirnya kami bertemu dengan cara yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Tapi… ingatan ini belum semuanya.
Aku juga ingat. Dulu aku pernah membencinya dalam diam, memakinya dalam amarah, karena dia benar-benar bodoh dan dingin.
Tapi ini juga bukan semua yang aku miliki.
Aku masih ingat saat aku menatapnya dengan cara yang berbeda, saat kami berbicara dengan cara yang berbeda, saat kami berjalan lebih dekat dan lebih dekat lagi. Saat kami mulai makan bersama, bercerita tentang satu sama lain…meski kadang sulit untuknya berucap, tapi aku tahu jika saja ada keraguan dalam ucapannya.

Dalam ingatannya, mungkin semua memori itu hanyalah sesuatu yang biasa, tapi bagiku, aku tak pernah pergi darinya, aku…tak pernah berada jauh dari sisinya.
Aku tidak pernah menjadikannya sebagai orang lain meski tentu saja baginya aku adalah orang asing. Pun aku tahu, baginya tidak ada sesuatu yang besar yang bisa kita harapkan dalam hidup ini. Karena semua ketidaksamaan yang kita miliki adalah mengenai keyakinan yang besar. Lebih besar bahkan jika kita sedang mempermasalahkan tentang Tuhan.

Jika saja ini hanyalah tentang jarak dan kesempatan. Semua bisa diciptakan, semua bisa dinantikan. Dalam hati kecilku, aku selalu mengharapnya… saat dimana kelak aku bisa mengulang semua memori, saat dimana semua memori itu tidak usah lagi hanya menjadi memori…
Saat dimana kami tidak perlu saling menunggu lagi, saat dimana aku bisa menyentuh jari jemarinya dengan kedua tanganku. Saat dimana kita tak perlu lagi menjadi mimpi untuk masing-masing tidur kita.

Dariku-Ingatanmu.

-elkafeni, May 21th 2016-

Tentang Pria

Baru saja (tepatnya kemarin) PERSIB Bandung sebagai tuan rumah baru saja memenangkan pertandingan saat melawan Borneo FC. Sebelumnya Borneo FC sebagai tuan rumah memenangkan pertandingan 3 : 2. Untungnya PERSIB Bandung bisa mengungguli 2 : 1

Euforianya sungguh menyenangkan. Di Taman Film Bandung aku dan seorang, ehm teman dekatku *mulai sekarang mari secara officially kita sebut ‘pasangan’* ikut hadir nonton bareng pertandingan penentu ini. Tadinya kami nonton dengan nyaman di rumah, tapi saat sedang istirahat pertandingan, kami ngebut meluncur kesana.

Sesuai dugaan sih…disana suasana sudah ramai sekali. Jumlah motor yang parkir juga lebih banyak dari biasanya. Motor kami sampai parkir di pinggiran jalan. Tapi tidak kami pedulikan, karena buru-buru kami akhirnya berlarian untuk segera berada di depan big screen.

Dan tau?
Pengunjung Taman Film sepertinya menjadi 2 kali lipat lebih banyak dari saat pertandingan-pertandingan sebelumnya. Lewat sana susah lewat sini sesak. Daripada ketinggalan permainan akhirnya kami putuskan untuk menonton sambil berdiri di antara puluhan orang lainnya yang berdiri.

Baru kali ini aku rasakan nonton bola di tengah-tengah orang. Ramainya, teriakannya, bahkan saat akhirnya Persib mencetak sebuah goal, mereka yang tidak saling kenal pun saling toast satu sama lain, termasuk pasanganku ini.
Ada saat wasit memberikan kartu kuning pada team lawan, mereka kegirangan dan bertepuk tangan. Ada saat salah seorang pemain lawan melakukan — apa ya istilahnya — permainan fisik — pada pemain Persib, mereka juga ikut berteriak memaki dari sini. Hahaha. Aku tertawa sendiri.

Tidak pernah menyangka bahwa sebuah permainan seperti itu bisa membuat semua orang yang menonton memiliki emosi sebesar itu. Ada yang sampai menari-nari di atas motor milik orang lain, ada yang sampai berjoget-joget konyol, mencium kaos Persibnya saat goal kedua dicetak, sampai ada yang menggendongku ke atas juga *ssst itu yang dilakukan pasanganku*.

Tidak akan terpecahkan bagaimana bisa mereka merasakan kebanggaan dan seolah ada keterikatan batin seperti itu. Selain karena mereka adalah ‘urang Bandung’ tapi toh banyak juga yang tidak sehisteris itu tentang pertandingan ini.

Anyway, aku sudah mulai merasakan lagi degdeg ser nya nonton bola, setelah sekian lama. Dan harus kuakui ini menyenangkan, hingga membuat semua laki-laki rela menghabiskan waktu malam minggu dengan wanitanya untuk si bola bundar ini.

Selamat untuk Persib Bandung
Kuberi nilai 9,5 untuk sepak bola

-lk..

A Storytelling: Sebuah Pertemuan (2)

Kadang kami berbicara sedikit melenceng tentang ini dan itu. Bukan masalah, karena aku pun biasa begitu dengan customer maupun supplierku yang lain. Hanya salah satu bentuk hospitality yang biasa kami -para marketer- lakukan.

“Jadi biasanya teteh ini yang cari order sendiri?” tanyanya di tengah kegiatan kami yang mengawasi berputarnya mesin. Dia tetap memanggil ‘teteh’ meskipun tahu bahwa aku lebih muda darinya.

“Saya nggak terlalu sih…dari awal saya masuk, semua customer memang sudah ada… Tinggal berjalan aja.” jelasku.

“Ohhh, tapi kalau ada order atau semacamnya bisa langsung contact siapa? Teteh? Kali aja saya ada bakal order gitu.. Hehehe.”

“Boleh boleh…”

“Oiya, ada kartu nama gitu nggak?” tanyanya seolah tau seorang sepertiku selalu memiliki kartu nama untuk memudahkan orang menghubungiku.

“Ada ada…” ucapku sambil melangkah pergi menuju sebuah meja dimana kusimpan notebookku yang terdapat beberapa kartu nama persediaan disana.

Semenjak menjadi seorang marketer, aku mulai membiasakan diri untuk menyimpan beberapa buah kartu nama di dalam dompet, notebook, bahkan tasku. Supaya kalau satu barang lupa terbawa, aku masih bisa mendapatkan kartu nama dari tempat penyimpanan yang lain. Hehehe.

“Ini..” ucapku saat aku kembali.

Dia menerimanya dengan sikap yg normal seperti customer-customerku yang lain.

“Oiya, mau pin bbm? Kalau mau biar ditulis sekalian.”

“Oh boleh boleh teh..” diserahkannya kembali kartu namaku untuk ditulisi pin bbm.

Entah kenapa aku sendiri menawarkan pin bbm, padahal biasanya aku tidak pernah senang ada orang yang tidak kukenal memiliki kontak pribadi milikku.
Mungkin aku hanya sedikit penasaran dengan pria ini. Mungkin…

Atau mungkin aku sedikit demi sedikit mulai membuka mata untuk sebuah hati?

Ada kalanya saat sedang berjalan, kita pun melihat-lihat dan tanpa sengaja tertarik pada sesuatu. Walau hanya sekedar berhenti melangkah dan menatapnya lebih lama, aku rasa itu bisa disebut sebuah ketertarikan

Hari tidak pernah menunda mentari dan bulan bintang untuk berganti. Semua tetap berjalan. Tanpa rencana, tanpa dugaan apapun bahwa dia akan melakukan suatu hal yang membuatku sedikit shock.
Tepatnya Jumat, aku kebetulan berhalangan hadir ke tempat kerja karena merasa kesehatanku kurang baik. Dia yang…saat itu sudah mulai intens bercakap denganku via messenger, tak luput bertanya tentang rencana apa yang akan kulakukan pada hari itu.
Kujelaskan bahwa aku sedang sakit dan dia menawarkan untuk datang menjenguk yang serta merta kutolak mentah-mentah.

Meski begitu lantas tidak menyurutkan tujuannya untuk tetap bertemu denganku. Siang harinya, saat aku baru saja bangun dari tidur, kulihat banyak panggilan tak terjawab begitu juga pesan-pesan di messenger darinya.

“Saya udah di deket masjid yang deket terminal angkot” ucapnya di salah satu pesan.

Cepat-cepat kubalas pesannya setelah tahu pesan itu dikirimkan kira-kira 2 jam sebelum kubaca.

“Dimana?”

“Eh, lagi di customer.. Hehe”

“Maaf ya tadi lagi tidur. Kenapa nggak ngasih tau kalo mau kesini? Kasian banget nungguin.”

“Hehe nggak apa-apa teh. Lain kali kesana lagi. Cepet sembuh ya.”

Cukup senang tapi merasa ngeri juga saat tau bahwa dia bisa sampai datang ke dekat-dekat rumahku. Bagaimana dia tahu akupun belum mengerti.

Tapi kegagetanku tidak berhenti disana, karena esok harinya dia benar-benar datang lagi dan berhasil bertemu denganku walau tidak di rumah melainkan di masjid dekat rumah.

to be continue..

story & posted by : elkafeni

Seorang teman…

Aku bertemu dengannya begitu saja, karena sejak saat itu yang kutahu dia adalah seorang teman.

Baru kali ini lagi kutemukan yang seperti dia.
Tatapan yang hangat, wajah yang lembut, tutur yang manis…namun sayangnya saat itu aku masih saja memikirkannya sebagai seorang teman.

“Hei, Mil!” dia berteriak sampai-sampai aku sedikit terguncang. Padahal kupikir di kedai kopi sekecil itu ia tak perlu memanggilku dengan keras.

Tapi toh aku senang-senang saja dan langsung menghampiri dia yang duduk di depan gelas yang isinya sudah hilang setengah. Mungkin sekitar setengah jam yang lalu dia menungguku datang, jadi sudah pasti kopi dalam gelasnya berkurang.

Kukenalkan, namanya Donni, tapi dia sering dipanggil Ipin. Entahlah mungkin karena dia sedikit botak. Hehehe. Tapi apapun itu, yang dipanggil Ipin toh tidak pernah menolak, malah dia menganjurkanku menggunakan nama panggilan yang sama yang juga digunakan teman-teman baristanya.

“Udah lama?” tanyaku sambil menggantungkan jaket pada punggung kursi dudukku.

“Gapapa, nyantai aja..” jawabnya tenang sambil menghisap batang rokoknya lalu menghembuskan asapnya jauh-jauh dariku.

Dia memang begitu…menghargai setiap teman yang bukan perokok dan menjaga agar mereka semua tidak menjadi perokok pasif.

“Ada cerita apa hari ini?” aku mengawali pembicaraan.

“Banyak. Hahaha. Lu mau cerita apa dulu?” candanya.

“Ihhh. Gila. Bisa berapa jam nanti kita disini? Hahaha.”

Begitulah kami. Aku berusaha menjadi pendengar yang baik untuknya dan dia tahu aku menginginkan itu. Baginya bercerita adalah makanan sehari-hari. Dan untuk ukuran seorang laki-laki, dia cukup cerewet…dan mengagumkan.

Tanpa perlu repot-repot, aku hanya perlu menyiapkan segelas ice cafe latte, menatap mata dan mendengar suaranya. Sederhana. Tapi cerita-ceritanya selalu ingin kudengar dan kudengar lagi.

Saat kamu jatuh cinta, kamu akan lebih sering memandang matanya. menunggu dia tersenyum dam berdebar saat dia menatapmu dalam sunyi.
Dalam matamu kamu akan berkata rindu dengan berjuta ketakutan dan risau. Tiap lisan yg terucap dari bibirnya adalah segala keindahan malam dan bintang.
Kamu akan mencuri waktu meski hanya untuk melirik apa yg digenggam dalam tangannya.

Diam-diam hatimu takjub, karena tahu kekaguman adalah yg km rasakan malam itu.

Kemudian hari kami bertemu lagi. Namun kali itu aku menunggunya. Juga menunggu cerita tentang hari-harinya. Dia bilang hari ini akan datang sedikit terlambat karena akan menyelesaikan beberapa hal, tapi aku hanya ingin datang lebih awal dan mencoba bagaimana rasanya menunggu.

Baru 15 menit saja jenuh langsung menyerang. Apalagi saat salah seorang barista datang mengantar pesananku dan bertanya tentang Donni. Kukatakan dia masih dalam perjalanan. Dan untungnya akhirnya dia benar-benar datang.

“Duh duh sorry-sorry lama ya?”

Jenuh itu seketika membuyar diusir sapaan dan senyumnya. Masih dengan kemeja kerja yang lengannya dilipat hingga siku, dia berteriak pada salah seorang barista dan memesan manual coffee dari olahan biji kopi Kintamani.

“Tau nggak Mil, uh barusan gue udah mulai pendekatan ke Siska.” ucapnya dengan penuh semangat.

“Siska?”

“Iya…cewek yang gue pernah ceritain, yang dulunya pernah satu kantor sama gue.”

Aku berkedip mencoba mencerna kata-katanya.

“Oh gitu, trus gimana?” tanyaku.

“Kok ‘gitu’? Ini kemajuan kan Mil?” desaknya.

Aku meneguk ice cafe latteku melalui sedotan yang tertancap di antara es batu bulat-bulat.

“Tapi lu nggak pernah cerita, Pin. Lu bilang pendekatan?”

Malam itu dia bercerita lagi. Banyak sekali. Aku benar-benar menjadi pendengar yang baik. Sangat baik.

* * *

Pada malam yang lain kami berbincang lagi. Menghabiskan waktu di tempat yang sama dengan isi gelas yang sama. Ada langit yang memayungi cafe outdoor dengan barista sekaligus waitress yang ramah-ramah ini. Bougenville merah muda merambat menghiasi pagar-pagar yang membatasi cafe dengan tempat lain. Ada papan dengan tulisan dari kapur yang berwarna, juga lampu temaram yang selama ini selalu menemaniku memandanginya.

Selama itu aku masih jadi penggemarnya, masih jadi orang yang selalu menantikannya.

Aku masih datang, dengan dinginnya kopi dan udara malam di bawah pohon Pterocarpus indicus. Meskipun hari itu adalah kali terakhir aku mendengar suaranya dan aku takkan lagi bertemu kepulan-kepulan asap rokok yang dihisapnya, namun beruntung aku masih bisa melihatnya, saling menyapa walau hanya dengan lambaian tangan, meski ia duduk di seberang mejaku dengan teman cerita yang berbeda, memegang tangannya dan menatapnya dengan mata yang hangat.
Siska.

-lk..

Coffee…helping to make a friend

Weekend ini adalah salah satu dari beberapa weekend yang paling mengesankan yang pernah saya lewati. Ditemani salah seorang yang special menghabiskan waktu jalan-jalan dan bercerita — meskipun semua gadget harus saya sita dulu sebelum akhirnya kami bisa fokus bicara. Bersyukur karena saya seolah memiliki teman langganan…teman kontrak yang siap melangkah pergi berpetualang ke tempat yang sama. Untungnya dia punya hobi yang sama. Bermusik, photography, berwisata, olahraga (walaupun malas), dan…kopi
Hanya beberapa hal kecil dari puluhan hal yang kami berdua senangi.

Sayangnya sebuah komitmen membuat saya sedikit -hanya sedikit- membatasi dan memilih dengan siapa saya pergi. Bukan sebuah peraturan yang dibuat oleh sebelah pihak, tapi saya sudah terbiasa setia dengan komitmen tidak tertulis yang saya ciptakan sendiri. Meskipun terkadang saya rindu melakukan banyak hal sendirian; berjalan sendirian di Braga, mendapatkan satu tiket nonton film action sendirian, ngopi sendirian, bengong sendirian, menjelajah Semarang sendirian, dan semua hal yang aneh-aneh yang biasa saya lakukan sendirian juga. Kadang juga saya rindu dengan teman-teman baru yang saya dapat dari kesendirian itu… Teman baru saat camping di Pulau Semak Daun-Kepulauan Seribu yang menjadi teman menatap langit dengan musik ombak lautan, teman baru saat saya mengunjungi Gedung Kesenian Rumentang Siang yang juga menjadi teman ngopi dan bercerita ini itu, teman satu organisasi sukarelawan yang jadi teman saya mendaki Gn. Burangrang, teman sesama jomblo yang selalu siap siaga menjemput saat saya pulang kerja kemalaman… Pergaulan yang luas dan saya tidak pernah membuat batasan apapun.

Berawal dari rasa penasaran teman saya untuk mencicipi manual coffee yang prosesnya menggunakan teknik Vietnam Drip *katanya*, akhirnya salah satu teman pecinta kopinya merekomendasikan sebuah tempat yang akhirnya kami datangi. Awalnya hanya berdua hingga si rekomendator *bener gak sih istilahnya?* itu datang.
Setelah beberapa lama bicara ngalor ngidul, baru hari ini (lagi) saya seolah mendapatkan satu teman baru yang juga menyenangi hal yang sama. Ini membuat saya lebih bersemangat selain karena kami mencoba rasa kopi ‘hasil percobaan’ di salah satu coffee house di Bandung: Cultivar Coffee House, dari barista nya langsung *eh barista kan ya? Tolong koreksi kalau salah. hehe*
Bercerita banyak pula tentang bagaimana saat dia -yang kebetulan juga- pernah belajar membuat kopi; tentang mesin-mesin yang digunakan untuk bla bla bla… Ah…saya paling suka bertanya dan bangga saat bisa mendengarkan penjelasan dari apa yang saya tanyakan.

Senang karena hari ini tidak hanya kami berdua yang tertawa, melainkan ada satu dua tiga orang lain juga. Menyadari bahwa dunia tidaklah sepi, saya bersyukur masih ada orang-orang yang asik (dalam tanda kutip) dan tidak alay di mata saya.

Tulisan pendek ini hanya salah satu bentuk kesuka-riaan saya untuk sore ini. Berharap semua orang juga bisa menemui hari-hari special mereka sendiri dan menandai bahwa hari itu adalah hari yang sangat berharga.

Saya menyenangi hal baru, karena itu membuat pandangan kita bertambah luas
-lk..