Cerpen : Terlambat – Part 2

Ucapannya itu membawa memoriku kembali pada satu tahun yang lalu, saat – mungkin – seorang pria lain juga memiliki niat yang sama dengan yang Han utarakan, namun dia harus mengganti semua itu dengan seluruh hidupnya. Tidak ada siapapun yang berani mengganggu atau menyentuh ‘wanita-wanita’ yang dilindungi seperti kami – setidaknya selama masih ada big boss.

 

Han masih diam. Tak ada jawaban untuk apa yang baru saja kutanyakan, seolah ia sedang menikmati dirinya berada dalam keheningan.

 

“Nggak mungkin juga kan kalau aku meminta kamu membayar kebebasanku dengan nyawa?” tanyaku kemudian, kali ini dengan sedikit senyuman.

 

Suasana tidak berubah sedikitpun. Masih hening. Angin berganti, membelai permukaan danau pada sore yang temaram. Matahari tahu waktu, setelah sepanjang hari tadi bercermin pada danau biru, ia akhirnya pergi berganti dengan awan-awan gelap.

Aku mengundang…sebuah hati untuk menemani, sebuah senyum untuk menghangatkan – bukan jiwa – melainkan  hanya seonggok daging yang nyawanya bahkan tak lebih berharga dari sebuah kotak pembungkus emas. Jauh dalam batinku aku bertanya, mungkinkah jika hati yang sama datang saat ini? Jika saja…mungkin…beberapa waktu yang lalu bisa dihadirkan kembali saat ini, kembali pada saat aku tengah duduk disini bersama Han, dan aku tak akan pernah berpaling dari hatinya.

Sekali lagi aku mengingat bagaimana Han memperlakukanku dengan berbeda; caranya menyentuhku, caranya memandangku…hati akan lebih mengerti bagaimana ketulusan yang sebenarnya. Han membuatku selalu merasa nyaman dengan semua yang dilakukannya. Tak peduli bagaimana aku hidup atau siapa saja yang hidup bersamaku, dia tetap tahu cara menghargai seorang manusia.

Sebuah tumpukan koran dengan salah satu headline mengerikan yang sedari tadi menunggu untuk dijamah akhirnya kusentuh juga. Air mata mulai menetes melewati kedua pipiku. Aku gagal. Tidak bisa menyembunyikan apa yang ada di hatiku. Aku tidak mampu meninggalkan apa yang tadinya ingin kubuang. Akhirnya dengan perasaan penuh sesak, aku memeluk lembaran-lembaran koran yang kudapat pagi ini seolah-olah itu adalah Han.

Lagi-lagi ingatanku terjebak pada setiap kenangan tentang Han. Dengannya, aku tidak perlu menjadi orang lain. Hanya memandangi dan tertawa bersamanya, aku terlupa akan semua masalah, dan bisa…paling tidak mensyukuri setiap kesempatan yang bisa kulewati bersamanya. Dia tak pernah lupa mengingatkanku tentang ini dan itu, juga selalu menjadi orang pertama yang mengagumiku. Meskipun akhirnya aku sendirilah yang menjauhkan hidupku darinya.

Aku tak pernah merasa tak berguna dan marah sedalam apa yang kurasakan saat ini, begitu sesak yang kurasakan hingga aku merasa tak pantas meski hanya menyimpan sebuah kenangan tentang Han. Aku benar-benar malu terhadap semua kebodohan yang meskipun kusesali, ini takkan membuatnya ingin kembali. Apa yang kuingat tentang Han telah mencabik-cabik ke-keras kepala-anku hingga aku berada pada titik dimana aku ingin membuang semua memori yang ada, tanpa berbekas, tanpa berjejak.

Angin berbisik lagi. Aku ingin akui bahwa aku mencintainya dan mempercayai bahwa ia pergi adalah karena kesalahannya yang telah mencintaiku. Namun tak ada lagi yang bisa diperbuat olehku, karena aku sendiri-lah yang telah menghempaskannya dengan sangat jauh dari hidupku – terlalu jauh – hingga takkan bisa kusentuh lagi.

Aku kembali teringat satu malam sebelumnya saat ia menemuiku di club. Malam di saat aku tak menghiraukan semua ucapannya dan malah memintanya untuk segera pergi dari lingkungan kerjaku. Seandainya saat itu aku tahu bahwa rasa penyesalanku akan sebesar ini, aku tak akan pernah mengacuhkan atau bahkan meninggalkannya.

Malam itu semua orang berlarian dengan panik. Tadinya kupikir semua berjalan seperti biasa, karena hal seperti ini bukanlah yang pertama terjadi. Setiap orang yang kalah berjudi atau sedang dalam pengaruh alkohol bisa melakukan apa saja disini. Karena itu pula aku sendiri tak beranjak sedikitpun, masih duduk bersama teman-temanku menemani minum beberapa tamu yang datang.

Mungkin sekitar lima belas menit berlalu, tiba-tiba Amanda datang padaku dengan tergesa-gesa. Amanda adalah seorang ‘pendatang baru’ yang kisah hidupnya tak jauh berbeda dengan diriku yang akhirnya tak mampu lari dari dunia suram ini. Amanda datang dengan tak lupa tersenyum pada semua tamuku sebelum ia berbisik di samping telingaku.

 

“Prang!” tanpa bisa kukira, seketika tangan kananku melemah melepas gelas dalam genggamannya, membuat salah seorang seniorku memandang dengan penuh amarah bercampur tanda tanya.

 

Dengan gemetar, segera aku berdiri meninggalkan semua tamu tanpa basa-basi setelah sebelumnya meminta Amanda segera mengantarku ke tempat dimana ia menemukan Han. Tidak pernah kubayangkan bahwa langkahnya akan berada pada titik sejauh ini. Dari Amanda aku mendengar tentang Han yang baru saja mencoba untuk berbicara dengan big boss untuk membawaku pergi. Sempat aku tak mengerti apa yang ada dalam pikiran Han hingga kemudian ia terlibat dalam masalah seperti ini dengan para bodyguard berdarah dingin itu. Kuakui aku masih tak percaya dengan apa yang kudengar sampai aku sendiri melihat Han tergeletak berlumuran darah berada di depan pintu masuk club.

Setiap orang yang melalui kami hanya melihat sekejap lantas pergi seolah tak mengerti. Tak ada yang menghampirinya kecuali aku yang berusaha membangunkan Han yang saat itu aku terus berharap dia hanya pingsan. Tanpa bisa melakukan hal lain untuk menyelamatkan Han, aku terus mengguncang-guncangkan tubuhnya. Tidak ada yang bisa menolong meski hanya memanggil sebuah ambulance termasuk aku dan Amanda, karena tak ada satu pun di antara kami yang diperkenankan membawa alat komunikasi selama kami bekerja.

Tak peduli meski kedua tanganku terkena darah yang mengalir dari sekujur tubuhnya aku tak mampu berhenti menggoyang-goyangkan tubuh Han. Banyak memar dan luka sobek karena pukulan yang bertubi-tubi di wajahnya. Juga sebuah luka tusuk di pinggangnya yang membuatku makin kebingungan tentang apa yang bisa kulakukan. Aku terus menangis, menggila di samping Han. Berkali-kali aku menepuk-nepuk wajahnya, menatapi matanya, meratap di hadapannya, tapi  yang kulakukan adalah sesuatu yang tanpa hasil. Semua itu jelas takkan bisa membawa Han kembali.

“Angel…” Amanda menangis sambil mendekat dan memelukku yang masih saja mencoba membangunkan Han.

 

Membutuhkan waktu lama untuk mencerna semua yang kulihat, hingga sesaat kemudian aku membatu di depan Han, yang tanpa jiwa, tanpa ruh.

 

“SEORANG LELAKI MUDA TEWAS DIPUKULI, DIDUGA KARENA TIDAK MAMPU BAYAR WANITA”

 

Aku kembali terngiang pada pertanyaanku saat itu, “Nggak mungkin juga kan kalau aku meminta kamu membayar kebebasanku dengan nyawa?”

“Tentu saja. Kamu telah membayarnya, Han.” Gumamku seraya menatap sebuah bangunan dengan aksen abu-abu dan hitam, juga tulisan berwarna kuning di depannya. Beberapa mobil dengan ciri khas sirine di atasnya telah terparkir rapi di halaman yang cukup luas dengan sebuah tiang bendera bercat putih yang menjadi centralnya.

Aku berjalan masuk melewati beberapa petugas yang salah satu di antaranya berkenan mengantarkanku masuk ke sebuah ruangan.

 

“Angel…kamu adalah wanita hebat yang memiliki banyak hal yang aku impikan. Kemandirian, ketegaran dan keberanianmu bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki oleh wanita lain. Bukan juga karena satu kesalahan gugur semua pesonamu.. Ada yang jauh lebih berharga dari sekedar selaput. Itu adalah hati, cinta yang tulus.Kamu wanita yang hebat yang ingin aku lindungi.” Setidaknya itu adalah salah satu yang selalu terngiang di sisi telingaku. Saat terakhir kami bertemu, di danau itu, di hari yang berangin itu.

 

Januari 2015

 

Aku tidak pernah tahu bagaimana sebuah ucapan tulus bisa membawa kehidupan baru yang lebih baik bagi seseorang. Juga bagaimana cinta masih mampu tetap bertahan dalam jiwa manusia, meskipun manusia itu sendiri mengerti bahwa cinta akan melahapnya hidup-hidup, menjadikannya mangsa yang empuk dalam setiap hari-harinya.

Namun karena ucapan tulus itu aku bisa dengan mudah mengalahkan cinta yang tadinya kuanggap kejam. Semua hal akan menjadi benar jika jatuh pada pilihan yang tepat dan akan menjadi salah jika jatuh pada pilihan yang salah. Jika kebahagiaan hanyalah soal waktu, mungkin aku telah melewatkan wujudnya, tapi dalam hatiku, kebahagiaan itu masih hidup dengan Han di dalamnya. Aku merasa hidup dengan adanya dia. Bersyukur karena dia mampu membayarku, meski aku harus kembali membayarnya dengan semua penyesalan yang aku tahu pasti ini tak pernah dia inginkan.

 

“Angel…” Amanda memanggilku. Tanpa kusadari ia telah duduk di samping meja bundar kecil yang memisahkan jarak duduk kami berdua.

“Eh, sorry Manda, aku nggak tau kamu disitu.” Ucapku. Amanda hanya tersenyum kecil, seolah sudah lumrah dengan sikapku.

 

Ada nampan di tangannya yang segera ia taruh di atas meja kecil itu, dengan dua cangkir teh hangat yang selalu kami minum kala sore, saat aku, dia, dan beberapa pekerja kami telah selesai mempersiapkan semua makanan untuk usaha catering baru kami.

Aku mengambil satu, begitu juga dengannya. Membiarkan angin merasuk menyejukkan jiwa kami yang tak lagi harus ketakutan tentang malam. Berterima kasih pada jiwa yang pergi setelah menyelamatkan puluhan raga yang tersiksa selama bertahun-tahun dalam tempat itu. Tempat dimana aku digariskan untuk menemukan dan kehilangan.

Aku menatap pada awan dan menunggu jika saja ada satu dari ribuan bisikan angin yang membawa pesan Han untukku. Dimana saat itu pula akan ku sampaikan bahwa aku telah percaya pada cintanya. Aku akan mengakui satu kebenaran bahwa cinta bukanlah keraguan, tapi keyakinan. Sama sepertinya yang tidak pernah takut untuk ‘membayarku’ yang kini harus membayar kembali semua keterlambatan ini untuknya.

 

Han…jika aku menerimamu hari itu…akankah hal seperti ini tidak terjadi? Jika saja aku sedikit lebih berani untuk mengakui cinta itu, akankah kamu bahagia? Jika saja aku meminta maafmu, maukah kamu kembali – menjadi sosok yang sama seperti sebelumnya?

Maafkan, karena aku begitu menganggap semua ucapanmu adalah kebohongan. Aku tak pernah tahu bahwa lelaki seperti kamu adalah sesuatu yang nyata.

Han…

Ada banyak hal yang ingin kusampaikan, ku harap aku belum terlambat.

END

 

Well done ^^

Cerpen ini adalah salah satu cerpen yang pernah saya kirimkan ke sebuah kompetisi menulis kira-kira sekitar satu tahun ke belakang. Mungkin masih ada part-part yang kurang dan belum sesuai dengan kriteria penilaian, jadi cerpen ini tidak terpilih.

Lalu kenapa saya post cerpen ini? Sampai hari ini, buat saya tokoh Angel masih begitu mengagumkan dengan semua yang dia miliki. Terlepas dari semua hal buruk yang melekat pada hidupnya, Angel memiliki keberuntungan dan karunia yang (kalau dia bisa sedikit percaya) tidak semua orang bisa miliki.

Ini hanya sebuah cerita fiksi, yang setiap detail perasaannya melibatkan apa yang pernah atau sedang saya rasakan. Berkiblat dari cerita ini, saya harap readers juga bisa percaya kalau ketulusan itu masih ada bagi setiap orang yang mau percaya. Begitulah..

Have a nice holiday!! ^^

 

Kembali ke Cerpen : Terlambat – Part 1

Advertisements

Cerpen : Terlambat – Part 1

Ketakutan terberat yang dirasakan seorang manusia adalah saat ia harus jatuh cinta. Bagi orang sepertiku, cinta hanyalah wujud lain dari sebuah penyiksaan yang abstrak. Menanti untuk ditemukan, kemudian mulai meracuni tiap sela nadi dan nafas hingga akhirnya rasa itu benar-benar membunuh setiap jiwa yang menemukannya. Kita tidak tahu bagaimana dan kapan cinta akan ditemukan, bagaimana kita akan percaya atau hanya meninggalkannya pergi.

 

Di tempat ini, angin berhembus indah tidak seperti biasanya. Aku tidak peduli meski awan menjadi agak sedikit cengeng belakangan ini. Sedikit-sedikit hatinya gelap dan menangis menjerit-jerit di awan biru. Apa dia juga sedang menangisi sebuah keterlambatan? Apa dia juga merasa menyesal?

Aku di tengah hari yang sangat berangin, sendiri, dan hanya ingin bercerita pada angin. Tak peduli air mata seperti apa yang akan hadir, aku takkan khawatir selagi danau indah itu tak berkeberatan menampung semua sedih dan duka. Tak peduli jika rumput-rumput menjadi kering, aku hanya ingin tersenyum, mencium semua wangi yang hinggap, jika saja masih ada aroma tubuhnya yang tertinggal. Detik adalah anugerah, sekalipun langit mengamuk di atas sana, tapi aku tak peduli, karena aku ingin merasakan hidupku, setidaknya hanya satu hari ini – satu hari dimana aku akan menerima sebuah cinta dan menyesali sebuah keterlambatan.

            Aku mengundang…sebuah hati untuk menemani, sebuah senyum untuk menghangatkan – bukan jiwa – melainkan  hanya seonggok daging yang nyawanya bahkan tak lebih berharga dari sebuah kotak pembungkus emas. Jauh dalam batinku aku bertanya, mungkinkah jika hati yang sama datang saat ini? Jika saja…mungkin…

 

November 2014

 

Suasana tempat kerjaku selalu riuh ramai saat malam hari. Tempat itu adalah tempat paling menyenangkan – setidaknya setiap orang yang kutemui selalu berkata begitu. Sedangkan menurutku tidaklah selalu seperti yang mereka katakan. Meski semua yang ada disana adalah keluarga dan sudah menjadi bagian dari hidupku, tapi sedikit banyak aku mulai merasa lelah dan jenuh. Sampai pada awal November…sesuatu yang tak biasa telah kutemui – sesuatu yang membunuh semua kebosanan yang terkutuk.

Dengan berani, aku beranjak dari zona nyamanku dan berjalan mendekati Han – tentu saja saat itu aku belum tahu namanya – yang sedang bincang santai dengan kawan-kawannya. Mereka menyambutku dengan ramah – ya, semua orang memang selalu senang saat bertemu denganku.

Saat kami sedang berbicara, diam-diam kupandangi dia. Dan entah kenapa aku pun menangkap Han yang – sengaja atau tidak – tengah menatapku hingga kami bertemu pandang. Aku selalu menunggunya untuk tersenyum, memamerkan tiap detail deretan giginya yang agak berantakan. Memperhatikan bagaimana matanya mengedip, bagaimana ia memandangi dan mengajakku bicara dengan sopan – berbeda dengan lelaki lain, bagaimana saat tangannya menggenggam gelas…apa yang dilakukan olehnya adalah yang berbeda, berbeda dari yang biasa dilakukan oleh pria lain, dan itu tak pernah jadi membosankan.

Waktu terus berjalan, sayangnya aku tak bisa banyak berbincang dengan mereka semua – termasuk Han – karena saat itu aku harus segera kembali melakukan pekerjaan yang sudah hampir empat tahun kulakoni disini. Tapi betapa beruntungnya aku saat Han sempat menyerahkan selembar kartu nama miliknya padaku sesaat sebelum aku beranjak pergi.

 

“Ha – ha – lo ?” saat itu aku benar-benar nervous ketika mendengar suaranya saat menjawab telponku.

“Ya? Siapa?” ia balik bertanya padaku dan itu tentu saja membuatku bingung untuk menjelaskannya.

“Saya…kemarin…em, kartu nama…” jelasku tergagap-gagap.

“Ah! Angel? Hei! Kamu masih ingat saya? Hahaha, saya pikir kamu nggak akan pernah nelpon saya.” Jelasnya diselingi tawa yang ringan.

Aku menghembuskan nafas, merasa lega karena justru ia masih ingat tentangku. Apalagi saat aku tahu bahwa dia seolah menunggu telepon dariku.

Setelah perbincangan di telepon itu berlalu, kami memiliki lebih banyak hal untuk dibicarakan. Aku tahu siapa namanya…bagaimana semua orang memanggilnya, seperti apa pekerjaannya, darimana ia berasal dan beberapa hal yang aku pikir itu adalah privasinya. Beberapa minggu setelah kami saling mengenal, ia juga sering mengajakku pergi walau hanya pada jam makan siang.

 

“Jujur, saya masih agak aneh juga karena kamu mau pergi makan siang dengan saya.” tanyanya pada satu kesempatan di kali pertama kami makan siang.
Aku hanya tersenyum, merasa konyol, karena tidak biasanya aku menemani tamu di luar jam kerja.

“Apa karena itu saya?” tanyanya lagi, kali ini dengan sangat percaya diri.

“Hmmm, mungkin karena kali ini kamu beruntung?” aku balik menanyakan pendapatnya.

Lalu kami tertawa, meski harus terhenti saat seorang pedagang bakso datang membawa pesanan kami. Aku menikmati setiap waktu dengannya, di setiap kesempatan makan siang atau berbincang dengan kopi di sore hari.

 

Meski lewat perkenalan yang sangat singkat, namun sejak saat itu aku tahu Han telah menghidupkan kembali sebuah hati. Aku merasakan sebuah rindu…rindu yang sedari dulu sangat aku takuti. Meski di lain sisi, aku telah menemukan jiwaku seolah terjebak di dalamnya dan enggan untuk beranjak kemanapun – hingga saat ini.

 

“Angel… Kamu pernah nggak sih berpikir untuk hidup dan mencintai pria yang hati kamu sendiri cintai?” ucapnya pada – seingatku beberapa hari yang lalu saat kami bertemu.

“Kenapa?” aku balik bertanya, karena apa yang dia tanyakan itu mulai terdengar aneh.

“Aku pikir setiap dari diri kita selalu punya waktu untuk berhenti ‘mencari’…” jelasnya.

 

Aku hanya diam. Menatapnya yang justru sedang menatap ke arah yang lain – mungkin danau biru yang saat itu berada tepat di depan kami. Tidak ada yang tahu bagaimana perasaanku saat itu. Layaknya dicekik oleh tali sutera, aku tidak berani untuk merasa bahagia setelah kalimat itu meluncur dari bibirnya.

 

“Kamu nggak pernah memikirkan itu?” pertanyaan itu lalu membuyarkan lamunanku.

“Kamu bilang…’berhenti mencari’?” tanyaku tak berani menatap wajahnya.

“Angel…” ucapnya seraya merengkuh kedua pundakku dengan tangannya, “…perempuan yang membawa mimpi baru dalam hidupku…aku mau kamu nggak lagi tinggal disana. Aku juga ingin membawa harapan baru untuk hidup kamu. Bolehkan aku, Angel..”

“Han…Meskipun sebelumnya aku selalu kecewa karena ayahku sendiri adalah orang yang membuat aku terlibat dengan pekerjaan ini, aku selalu bersyukur karena aku punya kesempatan untuk tahu kalau laki-laki seperti kamu ini nyata. Seandainya aku tahu lebih awal, aku akan keluar dari dunia ini segera. Tapi aku rasa, ini udah terlambat Han… Aku terlanjur masuk terlalu dalam sampai aku nggak akan pernah bisa keluar lagi.” Jelasku yang saat itu benar-benar merasa menyesal atas diriku sendiri setelah bertahun-tahun aku menyia-nyiakan waktuku untuk mengkhianati kenyataan bahwa sebenarnya dunia masih memiliki pria yang baik seperti Han.

 

“Angel…” Han menyentuh kedua pundakku. Aku mendengar apa yang dikatakannya hingga ia selesai berbicara. Pikiranku melayang hinggap di awan. Menggantung-gantung kegirangan, ingin menerima dengan tulus tentang semua yang diucapkan Han. Tapi aku segera menyadarkan diriku sendiri dan mengambil kedua tangannya untuk kugenggam.

 

“Han, sejak aku bertemu kamu, aku tahu bahwa sepertinya kamu akan bawa banyak perubahan untuk hidupku. Tapi Han, aku bahkan nggak pernah menginginkan lebih dari sekedar waktu kamu untuk aku. Kamu juga harus berhenti bermimpi. Apa yang kita punya sekarang bukan seperti apa yang kamu bayangkan. Kita nggak bisa jadi seperti apa yang kamu inginkan. Terlalu sulit untuk aku.”

“Angel, kamu nggak harus jawab sekarang… Kamu bisa pikirkan lagi nanti.” Ucap Han seolah memohon.

“Han, kita nggak bisa bermimpi…kita nggak pernah tertidur. Inilah kenyataan. Kita nggak bisa jadi yang lebih dari ini. Kamu harus sadar…”

 

Han diam. Angin menyentuh pepohonan menciptakan bunyi yang bergemerisik. Aku tak pernah tahu bahwa mungkin saja saat itu sebenarnya mereka sedang berusaha mengirim ilham buatku.

 

“Nggak akan mudah untuk aku pergi dari sana. Kamu pikir aku nggak pernah mencoba? Memutuskan untuk berhenti itu sama aja seperti aku menukar kebebasan dengan sebuah nyawa Han…” jelasku dengan penuh harap bahwa Han akan mengerti tentang pemikiranku.

 

Ucapannya itu membawa memoriku kembali pada satu tahun yang lalu, saat – mungkin – seorang pria lain juga memiliki niat yang sama dengan yang Han utarakan, namun dia harus mengganti semua itu dengan seluruh hidupnya. Tidak ada siapapun yang berani mengganggu atau menyentuh ‘wanita-wanita’ yang dilindungi seperti kami – setidaknya selama masih ada big boss.

 

Han masih diam. Tak ada jawaban untuk apa yang baru saja kutanyakan, seolah ia sedang menikmati dirinya berada dalam keheningan.

 

“Nggak mungkin juga kan kalau aku meminta kamu membayar kebebasanku dengan nyawa?” tanyaku kemudian, kali ini dengan sedikit senyuman.

 

Suasana tidak berubah sedikitpun. Masih hening. Angin berganti, membelai permukaan danau pada sore yang temaram. Matahari tahu waktu, setelah sepanjang hari tadi bercermin pada danau biru, ia akhirnya pergi berganti dengan awan-awan gelap.

 

Bersambung di  Cerpen : Terlambat – Part 2

Fiction : Memories

Aku ingat. Dulu dia adalah mimpi bagiku. Namun akhirnya kami bertemu dengan cara yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Tapi… ingatan ini belum semuanya.
Aku juga ingat. Dulu aku pernah membencinya dalam diam, memakinya dalam amarah, karena dia benar-benar bodoh dan dingin.
Tapi ini juga bukan semua yang aku miliki.
Aku masih ingat saat aku menatapnya dengan cara yang berbeda, saat kami berbicara dengan cara yang berbeda, saat kami berjalan lebih dekat dan lebih dekat lagi. Saat kami mulai makan bersama, bercerita tentang satu sama lain…meski kadang sulit untuknya berucap, tapi aku tahu jika saja ada keraguan dalam ucapannya.

Dalam ingatannya, mungkin semua memori itu hanyalah sesuatu yang biasa, tapi bagiku, aku tak pernah pergi darinya, aku…tak pernah berada jauh dari sisinya.
Aku tidak pernah menjadikannya sebagai orang lain meski tentu saja baginya aku adalah orang asing. Pun aku tahu, baginya tidak ada sesuatu yang besar yang bisa kita harapkan dalam hidup ini. Karena semua ketidaksamaan yang kita miliki adalah mengenai keyakinan yang besar. Lebih besar bahkan jika kita sedang mempermasalahkan tentang Tuhan.

Jika saja ini hanyalah tentang jarak dan kesempatan. Semua bisa diciptakan, semua bisa dinantikan. Dalam hati kecilku, aku selalu mengharapnya… saat dimana kelak aku bisa mengulang semua memori, saat dimana semua memori itu tidak usah lagi hanya menjadi memori…
Saat dimana kami tidak perlu saling menunggu lagi, saat dimana aku bisa menyentuh jari jemarinya dengan kedua tanganku. Saat dimana kita tak perlu lagi menjadi mimpi untuk masing-masing tidur kita.

Dariku-Ingatanmu.

-elkafeni, May 21th 2016-

Kau

Ada satu senja

Satu mentari
Satu nafas
Satu hati
Ada mimpi yang kulalui
Harapan
Juga luka yang menyingsing

Fajar membangunkan malam
Matamu menidurkan pedih
Tidak ada kata pergi
Kuharap hanya tetap tinggal
Seperti derasnya air yang takkan meninggalkan sungainya

Kasih adalah damba
Tapi aku tak pernah meminta
Kecuali hanya dirimu
Yang lebih dari sekedar makna
Lebih dari ribuan binar
Bahkan menggoda seperti intan dan permata

Jika aku wanita biarkan aku singgah
Dipeluk erat dalam hatimu
Disentuh hangat oleh senyummu

Aku hanya akan singgah
Kecuali kau memaksa
Aku akan hidup selamanya dalam apapun itu duniamu

-lk..

A Storytelling: Sebuah Pertemuan (2)

Kadang kami berbicara sedikit melenceng tentang ini dan itu. Bukan masalah, karena aku pun biasa begitu dengan customer maupun supplierku yang lain. Hanya salah satu bentuk hospitality yang biasa kami -para marketer- lakukan.

“Jadi biasanya teteh ini yang cari order sendiri?” tanyanya di tengah kegiatan kami yang mengawasi berputarnya mesin. Dia tetap memanggil ‘teteh’ meskipun tahu bahwa aku lebih muda darinya.

“Saya nggak terlalu sih…dari awal saya masuk, semua customer memang sudah ada… Tinggal berjalan aja.” jelasku.

“Ohhh, tapi kalau ada order atau semacamnya bisa langsung contact siapa? Teteh? Kali aja saya ada bakal order gitu.. Hehehe.”

“Boleh boleh…”

“Oiya, ada kartu nama gitu nggak?” tanyanya seolah tau seorang sepertiku selalu memiliki kartu nama untuk memudahkan orang menghubungiku.

“Ada ada…” ucapku sambil melangkah pergi menuju sebuah meja dimana kusimpan notebookku yang terdapat beberapa kartu nama persediaan disana.

Semenjak menjadi seorang marketer, aku mulai membiasakan diri untuk menyimpan beberapa buah kartu nama di dalam dompet, notebook, bahkan tasku. Supaya kalau satu barang lupa terbawa, aku masih bisa mendapatkan kartu nama dari tempat penyimpanan yang lain. Hehehe.

“Ini..” ucapku saat aku kembali.

Dia menerimanya dengan sikap yg normal seperti customer-customerku yang lain.

“Oiya, mau pin bbm? Kalau mau biar ditulis sekalian.”

“Oh boleh boleh teh..” diserahkannya kembali kartu namaku untuk ditulisi pin bbm.

Entah kenapa aku sendiri menawarkan pin bbm, padahal biasanya aku tidak pernah senang ada orang yang tidak kukenal memiliki kontak pribadi milikku.
Mungkin aku hanya sedikit penasaran dengan pria ini. Mungkin…

Atau mungkin aku sedikit demi sedikit mulai membuka mata untuk sebuah hati?

Ada kalanya saat sedang berjalan, kita pun melihat-lihat dan tanpa sengaja tertarik pada sesuatu. Walau hanya sekedar berhenti melangkah dan menatapnya lebih lama, aku rasa itu bisa disebut sebuah ketertarikan

Hari tidak pernah menunda mentari dan bulan bintang untuk berganti. Semua tetap berjalan. Tanpa rencana, tanpa dugaan apapun bahwa dia akan melakukan suatu hal yang membuatku sedikit shock.
Tepatnya Jumat, aku kebetulan berhalangan hadir ke tempat kerja karena merasa kesehatanku kurang baik. Dia yang…saat itu sudah mulai intens bercakap denganku via messenger, tak luput bertanya tentang rencana apa yang akan kulakukan pada hari itu.
Kujelaskan bahwa aku sedang sakit dan dia menawarkan untuk datang menjenguk yang serta merta kutolak mentah-mentah.

Meski begitu lantas tidak menyurutkan tujuannya untuk tetap bertemu denganku. Siang harinya, saat aku baru saja bangun dari tidur, kulihat banyak panggilan tak terjawab begitu juga pesan-pesan di messenger darinya.

“Saya udah di deket masjid yang deket terminal angkot” ucapnya di salah satu pesan.

Cepat-cepat kubalas pesannya setelah tahu pesan itu dikirimkan kira-kira 2 jam sebelum kubaca.

“Dimana?”

“Eh, lagi di customer.. Hehe”

“Maaf ya tadi lagi tidur. Kenapa nggak ngasih tau kalo mau kesini? Kasian banget nungguin.”

“Hehe nggak apa-apa teh. Lain kali kesana lagi. Cepet sembuh ya.”

Cukup senang tapi merasa ngeri juga saat tau bahwa dia bisa sampai datang ke dekat-dekat rumahku. Bagaimana dia tahu akupun belum mengerti.

Tapi kegagetanku tidak berhenti disana, karena esok harinya dia benar-benar datang lagi dan berhasil bertemu denganku walau tidak di rumah melainkan di masjid dekat rumah.

to be continue..

story & posted by : elkafeni

Seorang teman…

Aku bertemu dengannya begitu saja, karena sejak saat itu yang kutahu dia adalah seorang teman.

Baru kali ini lagi kutemukan yang seperti dia.
Tatapan yang hangat, wajah yang lembut, tutur yang manis…namun sayangnya saat itu aku masih saja memikirkannya sebagai seorang teman.

“Hei, Mil!” dia berteriak sampai-sampai aku sedikit terguncang. Padahal kupikir di kedai kopi sekecil itu ia tak perlu memanggilku dengan keras.

Tapi toh aku senang-senang saja dan langsung menghampiri dia yang duduk di depan gelas yang isinya sudah hilang setengah. Mungkin sekitar setengah jam yang lalu dia menungguku datang, jadi sudah pasti kopi dalam gelasnya berkurang.

Kukenalkan, namanya Donni, tapi dia sering dipanggil Ipin. Entahlah mungkin karena dia sedikit botak. Hehehe. Tapi apapun itu, yang dipanggil Ipin toh tidak pernah menolak, malah dia menganjurkanku menggunakan nama panggilan yang sama yang juga digunakan teman-teman baristanya.

“Udah lama?” tanyaku sambil menggantungkan jaket pada punggung kursi dudukku.

“Gapapa, nyantai aja..” jawabnya tenang sambil menghisap batang rokoknya lalu menghembuskan asapnya jauh-jauh dariku.

Dia memang begitu…menghargai setiap teman yang bukan perokok dan menjaga agar mereka semua tidak menjadi perokok pasif.

“Ada cerita apa hari ini?” aku mengawali pembicaraan.

“Banyak. Hahaha. Lu mau cerita apa dulu?” candanya.

“Ihhh. Gila. Bisa berapa jam nanti kita disini? Hahaha.”

Begitulah kami. Aku berusaha menjadi pendengar yang baik untuknya dan dia tahu aku menginginkan itu. Baginya bercerita adalah makanan sehari-hari. Dan untuk ukuran seorang laki-laki, dia cukup cerewet…dan mengagumkan.

Tanpa perlu repot-repot, aku hanya perlu menyiapkan segelas ice cafe latte, menatap mata dan mendengar suaranya. Sederhana. Tapi cerita-ceritanya selalu ingin kudengar dan kudengar lagi.

Saat kamu jatuh cinta, kamu akan lebih sering memandang matanya. menunggu dia tersenyum dam berdebar saat dia menatapmu dalam sunyi.
Dalam matamu kamu akan berkata rindu dengan berjuta ketakutan dan risau. Tiap lisan yg terucap dari bibirnya adalah segala keindahan malam dan bintang.
Kamu akan mencuri waktu meski hanya untuk melirik apa yg digenggam dalam tangannya.

Diam-diam hatimu takjub, karena tahu kekaguman adalah yg km rasakan malam itu.

Kemudian hari kami bertemu lagi. Namun kali itu aku menunggunya. Juga menunggu cerita tentang hari-harinya. Dia bilang hari ini akan datang sedikit terlambat karena akan menyelesaikan beberapa hal, tapi aku hanya ingin datang lebih awal dan mencoba bagaimana rasanya menunggu.

Baru 15 menit saja jenuh langsung menyerang. Apalagi saat salah seorang barista datang mengantar pesananku dan bertanya tentang Donni. Kukatakan dia masih dalam perjalanan. Dan untungnya akhirnya dia benar-benar datang.

“Duh duh sorry-sorry lama ya?”

Jenuh itu seketika membuyar diusir sapaan dan senyumnya. Masih dengan kemeja kerja yang lengannya dilipat hingga siku, dia berteriak pada salah seorang barista dan memesan manual coffee dari olahan biji kopi Kintamani.

“Tau nggak Mil, uh barusan gue udah mulai pendekatan ke Siska.” ucapnya dengan penuh semangat.

“Siska?”

“Iya…cewek yang gue pernah ceritain, yang dulunya pernah satu kantor sama gue.”

Aku berkedip mencoba mencerna kata-katanya.

“Oh gitu, trus gimana?” tanyaku.

“Kok ‘gitu’? Ini kemajuan kan Mil?” desaknya.

Aku meneguk ice cafe latteku melalui sedotan yang tertancap di antara es batu bulat-bulat.

“Tapi lu nggak pernah cerita, Pin. Lu bilang pendekatan?”

Malam itu dia bercerita lagi. Banyak sekali. Aku benar-benar menjadi pendengar yang baik. Sangat baik.

* * *

Pada malam yang lain kami berbincang lagi. Menghabiskan waktu di tempat yang sama dengan isi gelas yang sama. Ada langit yang memayungi cafe outdoor dengan barista sekaligus waitress yang ramah-ramah ini. Bougenville merah muda merambat menghiasi pagar-pagar yang membatasi cafe dengan tempat lain. Ada papan dengan tulisan dari kapur yang berwarna, juga lampu temaram yang selama ini selalu menemaniku memandanginya.

Selama itu aku masih jadi penggemarnya, masih jadi orang yang selalu menantikannya.

Aku masih datang, dengan dinginnya kopi dan udara malam di bawah pohon Pterocarpus indicus. Meskipun hari itu adalah kali terakhir aku mendengar suaranya dan aku takkan lagi bertemu kepulan-kepulan asap rokok yang dihisapnya, namun beruntung aku masih bisa melihatnya, saling menyapa walau hanya dengan lambaian tangan, meski ia duduk di seberang mejaku dengan teman cerita yang berbeda, memegang tangannya dan menatapnya dengan mata yang hangat.
Siska.

-lk..

A Storytelling: Sebuah Pertemuan

Tidak pernah ada dalam sejarah, Tuhan tidak pernah mendikte setiap langkah dalam gerak kita. Semua jalan yang kita tapaki adalah karena Dia memilihkan jalan itu untuk kita. Seperti halnya aku…disini…bercerita…

Suatu hari di tempat kerja saat aku mau tidak mau harus lembur untuk ikut memonitor hasil print produksi. Aku bekerja di sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan beberapa perusahaan garment yang mengeksport beberapa brand pakaian ternama. Kalau tidak salah hari itu adalah hari ke sepuluh mesin automatic yang baru kami beli, beroperasi. Seperti halnya bayi yang baru bisa berjalan, mesin ini harus selalu diawasi cara kerjanya, termasuk pula operator yang mengatur kerjanya mesin. Memang lelah saat harus ikut memonitor kualitas hingga larut malam, tapi toh lebih baik mencegah daripada memperbaiki hasil print yang rusak.

Hari itu kebetulan turut pula beberapa teknisi mesin untuk lembur. Meski begitu jam lembur tetap terasa membosankan. Sampai aku tahu ada seseorang yang mulai menarik perhatianku. Salah satu teknisi yang, ehm, ‘kutandai’ ternyata datang kembali untuk ikut lembur. Hehehe. Tentu jadi penyemangat tersendiri dong. Namun saat itu mungkin karena aku belum terlalu ‘gimana’ jadi semua yang kurasakan bisa terkontrol oleh akal sehat.
Beberapa kali aku balas menyapa saat ia terlebih dulu menyapaku. Hanya sapaan biasa dari seorang supplier pada customernya. Belum terasa lebih.

Kadang kami berbicara sedikit melenceng tentang ini dan itu. Bukan masalah, karena aku pun biasa begitu dengan customer maupun supplierku yang lain. Hanya salah satu bentuk hospitality yang biasa kami -para marketer- lakukan.

“Jadi biasanya teteh ini yang cari order sendiri?” tanyanya di tengah kegiatan kami yang mengawasi berputarnya mesin. Dia tetap memanggil ‘teteh’ meskipun tahu bahwa aku lebih muda darinya.

“Saya nggak terlalu sih…dari awal saya masuk, semua customer memang sudah ada… Tinggal berjalan aja.” jelasku.

“Ohhh, tapi kalau ada order atau semacamnya bisa langsung contact siapa? Teteh? Kali aja saya ada bakal order gitu.. Hehehe.”

“Boleh boleh…”

“Oiya, ada kartu nama gitu nggak?” tanyanya seolah tau seorang sepertiku selalu memiliki kartu nama untuk memudahkan orang menghubungiku.

“Ada ada…” ucapku sambil melangkah pergi menuju sebuah meja dimana kusimpan notebookku yang terdapat beberapa kartu nama persediaan disana.

Semenjak menjadi seorang marketer, aku mulai membiasakan diri untuk menyimpan beberapa buah kartu nama di dalam dompet, notebook, bahkan tasku. Supaya kalau satu barang lupa terbawa, aku masih bisa mendapatkan kartu nama dari tempat penyimpanan yang lain. Hehehe.

“Ini..” ucapku saat aku kembali.

Dia menerimanya dengan sikap yg normal seperti customer-customerku yang lain.

“Oiya, mau pin bbm? Kalau mau biar ditulis sekalian.”

“Oh boleh boleh teh..” diserahkannya kembali kartu namaku untuk ditulisi pin bbm.

Entah kenapa aku sendiri menawarkan pin bbm, padahal biasanya aku tidak pernah senang ada orang yang tidak kukenal memiliki kontak pribadi denganku.
Mungkin aku hanya sedikit penasaran dengan pria ini. Mungkin…

to be continue..

story & posted by : elkafeni

Kisah di Dasar Jurang

Aku adalah tokoh yang kalah dalam drama. Terhempas karena watakku sendiri. Terlalu dingin dan laif pada perasaan. Antagonis, berhasil mendamparkanku pada jurang tak berlandas. Kedua kakiku membelah dan mererobos angin di lubang yang buta. Sama butanya seperti aku. Semua warna yang pernah kulihat, bebauan yang pernah kucium, dan segala bentuk yang selama ini kuraba, hilang tanpa sisa, selain tebing dan bebatuan tajam yang menikam. Seperti orang hidup yang menjalani kehidupannya dalam peti mati. Jangankan masa depan, masa kini pun bayangan hidupnya masih abstrak. Tak ada keinginan, cita-cita, dan ambisi. Segala keindahan yang pernah kudapat, kulepas begitu saja demi menghanyutkan diri dalam curamnya masa lalu.

Aku menyerah pada bulan-bulan yang sendu. Hidupku seolah tiada masa. Malam dan pagi, hujan dan kemarau, semua meninggalkanku dalam ratapan. Sampai aku diguncang oleh suara indah yang alunannya menggema, menjalari bebatuan tajam yang membangun tebing ini.

“Bukankah kita pernah saling mengenal?”

“Betul, kita pernah saling mengenal.” Balasku dengan senyum yang terkembang begitu tulus dari kedua belah bibirku.

Aku gembira, hingga aku merasa bahwa kerumitan dan ketegangan ini akan segera berakhir. Meski tak ada wujud yang bisa kupandangi, aku tetap tahu bagaimana dirinya. Lembut dan sempurna, walau hanya suaranya yang nampak.

Aku yang mengaguminya, perlahan mampu mewarnai lembar-lembar hati yang abu-abu dengan warna merona darinya. Jingga dan biru mulai terlihat berbeda. Bebatuan runcing di antara tebing yang  menghimpitku, mulai terasa longgar. Pagi dan malam mulai kubangun kembali dalam hidupku.

Ada banyak macam hal yang mulai kupercayakan padanya. Tentang kebodohan, dan egonya seorang manusia; juga sebuah pengakuan tentang semua hal itu. Dan hal indah yang bisa kunikmati dari hal itu adalah tawa dan nasehatnya.

“Kekeliruan memang terjadi pada siapa saja. Suasana dan keadaan kadang mendorong untuk bertindak. Hati , kadang jangan terlalu diikuti. Hidup itu keras, jatuh itu sakit. Tapi yakinlah dan tegar, kita masih punya Tuhan untuk pegangan.”

Kalimatnya terdengar seperti nyanyian yang alunannya menggema ke seluruh tebing itu. Begitu merdu…dan bisa kurasakan senyumnya yang hangat dan menenangkan. Dialah kawan terbaik yang pernah dan ingin kumiliki – yang dengan lembut mampu mengembalikan ketegaran yang sudah lama pergi, hingga segala haru biru yang menggunjing jiwaku…semuanya hanyut dan larut. Dan ucapan ‘terimakasih’ ku mengantarkannya kembali pada malam dalam dunianya.

*       *       *

Aku memang manusia yang mudah menyerahkan diri pada cinta, yang ketika bahagia akan melupakan kesedihan, dan ketika menderita akan melupakan kesenangan. Tak pernah aku berpikir bahwa aku akan menaruh hati pada lelaki yang dia sendiri telah memberikan hatinya untuk dewi yang lain – dewi yang begitu ingin kucaci maki sepuas hati. Yang pernah menjadi anjing setia, lalu menjelma seperti singa yang mengancam.

“Sedekat apa kamu dengannya?”

“Awalnya begitu dekat. Kaki kami selalu berpijak di atas jalan yang sama, kami membangun mimpi dan harapan yang sama. Aku adalah bayangannya, dan dialah bayanganku – setidaknya aku dan dia pernah mengalami itu. Tapi kemudian kami begitu marah dan pernah ingin menghabisi satu sama lain.” Ucapku.

“Haruskah itu? Dia juga temanku.”

Suara merdu itu tiba-tiba menjelma jadi gelegar petir. Aku tertawa sendiri, tak percaya dengan apa yang kudengar. Namun hatiku terus bertanya…bertanya pada diriku yang juga tak mampu memberikan jawaban apapun. Mataku nyalang memandang ke seluruh penjuru tebing. Mencari-cari sesosok yang hanya bisa kudengar suaranya. Bisakah kau menatapku? Tidakkah kau lihat betapa pucat wajahku?

“Teman? Benarkah?” tanyaku dengan suara yang bergetar menahan marah yang entah tertuju pada siapa.

Aku mengharap bisa mendengar jawaban yang berbeda.

Tapi rupanya, “Ya” dan dunia ini benar-benar telah hancur rasanya.

Aku begitu tegang menghadapi kenyataan pelik itu. Benar-benar ingin marah, tapi pada siapakah kuarahkan semua itu? Takdir bukanlah lawan yang imbang untuk perdebatan ini. Dunia begitu angker, menyeramkan. Membuatku takut dan ingin segera mati.

Banyak kata yang berdesakan dalam hatiku. Amarah-amarah itu tak pernah bersuara, mereka semua hanyalah pengecut yang hanya mampu diam dalam damainya kebingungan.

“Mungkin dia akan membenciku jika kamu tidak meminta maafnya. Selain tentang hal itu, untuk sementara aku tidak ingin membicarakan apapun denganmu. Seburuk apapun keadaan  itu, tetaplah memandangnya dari segi yang positif. Bila pesan itu bisa kamu terima, aku akan bangga padamu – sampai mati.”

Suaranya hilang dan menjadikan tebing curam ini makin lengang dan mengerikan. Benarkah dia pergi dan meninggalkanku yang sungguh putus asa ini? Seorang diri dan tergeletak pada sebuah batu – tanpa segores pun luka, namun dengan hati yang berdarah dan pedih.

“Segini sajakah?” aku bergumam dengan tawa yang tertuju untuk diriku sendiri.

Tak ada jawaban. Aku tahu dia pergi, tapi aku menunggu.

Tidakkah dia lihat apa yang kurasakan dalam hatiku? Sosok seperti apakah dirimu, menghakimi lalu meninggalkanku tanpa kau tau apa yang terjadi? Kenapa harus dirimu? Kenapa bukan orang lain yang kutemui? Bisakah kau jawab pertanyaan ini?

Aku memandang cahaya yang berada jauh di atas sana – di mulut jurang tempat dimana aku memenjarakan diri dan putus asa. Kucoba mengulurkan tangan, meraih setitik cahaya yang sangat jauh hingga terlihat seperti sebuah bintang dalam kisah kehidupan nyata yang indah. Namun kemudian aku tersadar dan merasakan lututku yang menjadi lemah. Aku terduduk, lalu berteriak sekencang yang kubisa. Sayangnya sakit itu takkan mudah lepas. Ia begitu nyata dan terasa lebih memilukan dari yang pernah terjadi padaku sebelumnya.

Mereka saling bersahutan – dendam dan ketulusan bergumul dalam jiwa ini – menjadikanku merasa lebih lelah lagi. Kubiarkan mereka saling menyalahkan sementara dengan lemahnya, aku kembali tergeletak. Bahuku bergetar, dadaku mulai bernafas sesak. Aku berbaring dan mulai merintih. Kurasakan pendar-pendar air mata di antara wajahku. Kulihat mereka mulai berjatuhan…melengkapi kesendirianku yang makin pilu berkat mereka. Tak terdengar apapun lagi dalam tebing itu selain tangisanku sendiri.

*       *       *

Hatiku yang enggan disapa

          Tiba-tiba ingin pula ceritera diri

          Kembali damba akan suaramu

          Dalam angan sendiri

Aku masih terkulai dalam keangkuhan sekaligus ketidakberdayaanku melawan garis hidup. Padahal aku ini adalah seorang pembangkang sejati yang selalu mampu memungkiri kenyataan, bahkan perasaanku sendiri. Di balik lemahnya ragaku, tak sedikitpun aku berhenti memikirkan ketidakadilan ini – tentang kemarahanku, tentang rasa benci ini – kenapa semuanya seolah sedang menyalahkanku? Padahal aku sendiri dibuatnya terdampar, berada di sudut paling curam dan dalam, tapi kenapa pula mereka masih berusaha menyudutkanku?

Aku makin tak berdaya ketika kenyataan menuntunku pada kidung penantiannya pada dewi itu. Ungkapan-ungkapan cinta yang menenangkan, bait-bait ketulusan…mengalir begitu saja dari mulutnya. Tanpa ada yang tersembunyi, diungkapkan seluruh perasaannya. Suara-suara itu bersatu padu dan bergema agung di sekitar penderitaanku, terdengar sumbang dan menyakitkan. Namun tak ada hal lain yang kuingat selain kemalanganku sendiri. Tubuh yang selalu utuh ini tak mampu menyembunyikan jiwa yang kotor dan rapuh.

Lagi-lagi hati ini tak mau bicara

          Dan dunia enggan pula dirayu

          Terserah..!

          Seakan semua itu tak peduli

          Dan aku bernyanyi tanpa nada

*       *       *

Tanpa dia tahu, aku mulai meninggalkannya. Bukan keinginanku untuk mundur selangkah demi selangkah. Tapi siapa yang akan tetap bertahan dalam keadaan menyedihkan seperti ini? Aku tidak ingin berkecimpung lebih lama lagi di antara cinta orang yang kukagumi pada orang yang kubenci. Aku juga tidak ingin menjadikan cinta dan takdir sebagai korban dari konspirasi ini. Mereka bekerja bersama Tuhan dan rahasia-rahasia-Nya.

Aku menertawai diri yang masih belum bisa menerima kenyataan yang baru saja kuterima. Lalu apa? Rasa sakit ini tidak akan hilang dengan semudah itu. Kebencian yang tersimpan bukanlah rasa yang kutanamkan dengan sengaja, ia tumbuh begitu saja karena salahnya – ‘dewi’-mu itu – walaupun memang aku sendiri yang tidak pernah mencoba ikhlas menerima perkataan-perkataan yang menyakitkan dari seseorang yang dulu pernah menjadi sahabatku itu. Tapi lelaki itu – dirimu – yang sanggup kau katakan hanyalah pembelaan untuk pihak yang kau cintai. Dan aku? Tentu saja diabaikan, tanpa dia peduli seburuk apa hidup yang kujalani selama ini bersama rasa pahit menggenggam kebencian. Ataukah dia pikir hidupku berjalan normal dengan penuh bahagia?

“Jika kamu cukup bodoh untuk meninggalkanku, semoga aku cukup pintar untuk merelakanmu.” Tiba-tiba dia datang bersama kalimat itu.

Apalagi kali ini? Kupikir kehadiranku tidak lagi menjadi keinginannya. Meski belum sepenuhnya mempercayai ini semua, aku tak kuasa menahan diriku untuk menyapanya. Aku benar-benar merasa rindu hingga tersenyum karena suara itu terdengar lebih nyata dari sebelumnya. Apa yang kau rasakan? Bukankah kau juga menginginkanku?

“Bukan itu maksudku, masih terlalu dini untukmu bisa mengerti. Bisakah pikirkan kembali? Kali ini pikirkan lagi dengan hatimu. Pahami aku, pahami perasaan, juga keinginanku. Jangan terlalu buru-buru. Hati ini butuh waktu, beri dia waktu. Hati ini butuh ruang, beri dia sedikit ruang. Untuk tersenyum, lalu tenang, hingga benar-benar sanggup melupakan semua hal yang menyakitkan.” Seketika kuucapkan semua kemarahanku itu untuk menyambut kedatangannya.

Dia tertawa, dan kubayangkan senyumannya setelah itu. Aku ikut tersenyum dan kembali mendengar kisah-kisahnya lagi. Tapi rasanya kegembiraan itu amat canggung jika aku mengingat kembali bagaimana isi dalam hatinya.

“Aku ingin tidur, tapi kegelisahan terus menakutiku.”

Dia-kah yang ingin kamu ceritakan?”

“Jika ‘ya’, kamu akan membenci ini?” tanyanya.

“Jika ‘ya’ kamu tetap takkan peduli.”

Hening sejenak.

“Aku sedang berusaha untuk tidak membencinya.” Ucapku lagi.

“Aku mendengarnya…dia menangis.” Suaranya berubah, terdengar lebih sayu dari sebelumnya.

“Lalu apa yang kamu lakukan? Bukankah kamu bisa mengobati luka siapa saja?” tanyaku, lalu kembali teringat pada petuah-petuah yang diucapkannya untukku dulu.

“Ya, kecuali dia.”

Jurang istanaku kembali menjadi hening.

“Aku begitu peduli tentang dirinya. Tapi aku merasa salah jika harus terus-menerus membayangi dia. Dalam masa-masa sulit, tentu saja dia selalu menanti perhatian dan pengertian dari seseorang, sayangnya bukan aku orang yang dia inginkan untuk memberikan itu semua. Aku jadi lumpuh.”

“Rupanya kita berdua sama.” Ucapku dalam hati.

Aku mendengar kalimat-kalimat yang dia kisahkan. Aku tersenyum sesekali dan melontar tanya meski hanya sepatah kata. Batinku mulai heran tentang kenyataan dan garis takdir-Nya. Seperti air yang mengisi sungai-sungai, kami mengalir begitu saja mengikuti likuan arahnya. Seperti pula halnya sebuah kotak dadu, tak ada yang tahu berapa titik yang akan muncul setelah ia dilambungkan dan jatuh.

Berhari-hari dia terus bercerita. Meski seringkali aku ingin tahu tentang bagaimana perasaannya, pada akhirnya semua itu hanya menjadi sebuah pertanyaan. Kadang aku berpikir, mungkin seperti itu akan lebih baik. Tetap tidak tahu apa yang dirasakannya, daripada harus mendengar penjelasan itu dan membuat ruang hidupku makin sesak. Tetap diam atau mengetahuinya, kita takkan pernah untuk saling memiliki.

Aku tetap setia mengikuti setiap naskah yang sudah menjadi bagianku. Kadang aku merasa terhibur karena suara indahnya yang menyapaku. Tapi seringkali aku mengalami detik-detik dimana aku merasa dicambuk oleh emosi dan perasaanku sendiri. Namun aku tak ingin berada lebih lama lagi dalam tempat yang menyedihkan ini. Aku enggan menelan luka yang lebih pahit dari ini.

Aku pun berlalu tanpa beranjak dari tempatku. Aku menyerah pada pertanyaan yang masih ingin kucari jawabnya hingga kini. Tapi biarlah, biar saja menjadi teka-teki. Supaya aku bisa dengan setulus hati mengakhiri apa yang belum dimulai terlalu jauh. Supaya aku bisa dengan setulus hati menertawai kekalahan dan perasaan ini.

-lk.. (Dec 6, 2011 – latepost)

Untuk Dilar : “Walaupun bersamanya adalah hal yang sangat penting, namun dengan siapa dia bersama adalah hal yang lebih penting lagi…”

Sudahkah kamu merasa lebih baik? Kurasa belum.

Terasa sama seperti sebelumnya. Kenapa? Tidak tahu. Hanya berjalan begitu saja. Tapi terkadang aku merasa bahwa semua kecanggungan ini berjalan seperti biasanya. Atau aku yang terlalu terbiasa menghadapi rasa canggung. Mungkin aku kebingungan. Entah karena apa. Hanya saja sebuah prahara tidak mudah dipadamkan. Seperti api yang menyambar minyak, ia tahu tempat mana yang paling mungkin dia datangi.

‘Dia ingin melangkah jauh, disaat sebagian dari dirimu belum sanggup melakukannya. Terlalu timpang perbedaan hingga akhirnya jalan yang dipilih jadi terbelah. Aku tersadar bahwa harusnya kalian terpisah bukan disaat kalian tidak saling cinta lagi.’

Tapi aku bingung. Karena semua berjalan seperti apa adanya.

Bisakah kubaca satu persatu dari isi hati mereka? Terlalu sulit jika aku  harus menelisik ke dalam tatapan yang aku tak tahu harus seperti apa kuartikan.

Sebenarnya saat ini aku tidak sedang memikirkan diriku sendiri.

Walaupun bersamanya adalah hal yang sangat penting, namun dengan siapa dia bersama adalah hal yang lebih penting lagi…

 

-lk.. (May 31, 2015 – latepost)

Untuk Dilar : Tentang Masa Lalu

Ada banyak hal yang bisa membuat orang berpisah…juga banyak alasan yang membuat orang bisa bersama.

Kita salah satunya, pernah dibuat terluka dan hanyut dalam rasa kecewa. Sempat beberapa waktu tidak ingin lagi menghadirkan cinta dalam hati kita, tapi cinta memiliki mahadayanya sendiri sehingga akhirnya kita bersama.

Dalam fase ini, Dilar…aku mengerti bagaimana beratnya kamu saat berusaha untuk tidak mempedulikan sebuah kisah masa lalu yang tidak ingin kamu ingat lagi. Kamu bukan ingin kembali, hanya saja mungkin terkadang kamu merasa sesak dan takut jika mungkin kamu tidak bisa merasakan bahagia seperti yang orang itu rasakan.

Saat ini kamu sedang berusaha mencari pembenaran atas sikapmu dulu. Kamu sedang mengingat-ingat bagaimana dulu kamu tidak pernah menyesal telah meninggalkan masa lalumu. Kamu sedang berusaha meyakinkan dirimu sendiri bahwa jalan yang kamu pilih adalah jalan yang kamu inginkan meskipun itu bukan berarti jalan yang sudah benar.

Just do it, Di…

Aku mengerti. Akupun pernah mengalaminya. Jangan takut. Kamu tidak akan hanyut lagi…ada aku.

Setiap macam dari manusia akan selalu saling menemukan…tapi juga akan selalu ada alasan saat beberapa dari mereka untuk berpisah. Ini bukanlah tentang benar dan salah sayang…dalam pikiran manusia, kata salah dan benar adalah bergantung pada apa yang mereka pikirkan…hanya tentang sudut pandang. Dia benar dengan jalan pikirnya, begitu juga kamu. Semua hanya tentang waktu hingga akhirnya individu itu menemukan isi kepala yang hampir sama.

Aku tersadar bahwa melupakan dan berusaha meninggalkan masa lalu bukanlah hal yang pantas dilakukan pada ‘guru’ kita ini. Jadi mulai hari sekarang…ayo kita belajar…menghargai setiap bagian dari takdir kita.

Lagipula jika bicara tentang pakaian, kamu adalah ukuran yang pantas kupakai…walaupun masih sedikit kebesaran di bagian sini dan situ, ini bisa dijadikan sebagai model fashion yang baru. itulah yang membuatku jatuh cinta..

Kalau kita bisa…aku ingin pergi dengan kamu di hari itu..meninggalkan tempat ini…jauh…dan hanya berbicara tentang kita saja. Masih luas angit di atas sana untuk kita pandangi.

 

With love, always

-lk.. (May 25, 2015 – latepost)