Sinopsis : Monster – Episode 6

Sinopsis : Monster – Episode 6

Dimulai dengan kilasan dari episode sebelumnya, Byun Il Jae mengatakan pada hakim di pengadilam kalau Oh Seung Deok telah disuap oleh pihak Geukdong Electronics, karena pihak Dodo menemukan bukti rekaman tentang Oh Seung Deok yang memalsukan kematiannya sendiri . Pengacara Kang membantah dan mengatakan kalau pihak Dodo tidak bisa membuktikan dan itu hanyalah sebuah spekulasi. Saat hakim memutuskan untuk menunda putusan sidangnya, Gi Tan CS bersama Oh Seung Deok dan Detektif Park datang.

1

“Aku memiliki bukti yang kau butuhkan. Pria ini, adalah Oh Seung Deok. Dia mungkin terlihat berbeda, tapi dia adalah Oh Seung Deok.” Seru Gi Tan pada hakim.

Byun Il Jae langsung meminta hakim untuk membiarkan Oh Seung Deok menjadi saksi, tapi Pengacara Kang menolaknya dengan alasan Oh Seung Deok belum dijadwalkan untuk menjadi saksi, jadi Pengacara Kang meminta waktu sebelum mosi berikutnya.

2

Saat hakim sedang berdiskusi, Gi Tan memberikan sebuah amplop berisi bukti ponsel Oh Seung Deok dan meminta Byun Il Jae untuk memeriksanya. Ia membuka handphone dan entah darimana di riwayat panggilan ponsel itu ada nomor Pengacara Kang, Byun Il Jae menelepon ke nomor itu, dan mendekat pada Pengacara Kang yang kebingungan. Byun Il Jae meminta Pengacara Kang untuk mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, ia kebingungan. Saat ia melirik ke arah Oh Seung Deok, Oh Seung Deok memberikan anggukan kecil yang membawanya pada flashback.

3

Pengacara Kang dan Oh Seung Deok bertemu. Seung Deok meminta Pengacara Kang untuk lebih hati-hati untuk tidak meninggalkan pesan teks pada ponselnya. Flashback end.

Di ruang sidang, karena melihat Pengacara Kang yang kebingungan dengan suara ponselnya, hakim juga ikut meminta Jaksa Penuntut Kang untuk membuka tasnya.

4

Setelah mengingat pertemuannya dengan Oh Seung Deok, Pengacara Kang terlihat lebih santai. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan menunjukkannya pada Byun Il Jae. Saat Byun Il Jae mematikan panggilan, dering ponsel Pengacara Kang juga ikut mati.

“Mengapa Oh Seung Deok menyimpan nomor ponsel jaksa penuntut?” tanya Byun Il Jae pada hakim (yang sebenarnya nggak usah juga dijawab oleh hakim, hahaha).

Pengacara Kang langsung bangkit dan mengatakan kalau semua yang sedang dibicarakan Byun Il Jae tidak bisa dijadikan sebagai bukti. Pengacara Kang tidak tahu kalau pria itu adalah Oh Seung Deok dan dia memang pernah berbicara dengan Han Cheol Min mengenai kasus yang lain.

“Dodo Group berspekulasi tentang sesuatu. Aku sedang dibuntuti sekarang.” Kata Byun Il Jae membacakan semua isi pesan teks dalam ponsel itu. Pengacara Kang dan Oh Seung Deok saling berpandangan kaget.

5

“Pergi bersembunyi di suatu tempat yang jauh untuk saat ini. Aku akan mencari satu tempat setelah ita selesai dengan persidangan. Ini adalah pesan teks antara Oh Seung Deok dan jaksa penuntut.” Byun Il Jae melanjutkan membaca pesan teks itu.

Oh Seung Deok membantah, mengatakan kalau dia tidak pernah mengirimkan pesan seperti itu. Byun Il Jae tidak peduli lagi dan memberikan ponsel itu sebagai barang bukti pada hakim. Pengacara Kang sudah sangat kesal dan kalah telak.

6

Do Gun Woo memandang pada Kang GI Tan, begitu juga Oh Soo Yeon yang merasa menang. Akhirnya hakim memutuskan kalau kasus sengketa paten telah selesai dan Group Dodo yang memenangkannya. Soo Yeon dan Gi Tan terlihat senang sampai mereka meloncat-lonjat dan berpelukan di ruang sidang. Begitu juga Soo Tak yang mencoba memeluk Sung Ae tapi Sung Ae tidak mau *hahaha*

Do Gun Woo dan timnya hanya diam dan merasa kesal. Gwang Woo bertepuk tangan karena Dodo berhasil memenangkan persidangan ini. Manager Moon akhirnya juga puas. Byun Il Jae memberikan senyumnya pada GI Tan seolah dia sedang berterima kasih tapi juga kebingungan bagaimana bisa Gi Tan memecahkan kasus ini.

7

Setelah usai sidang, Byun Il Jae bertemu Pengacara Kang dan mengatakan kalau Pengacara Kang dan Geukdong harus bersiap-siap karena mereka akan dikenakan denda atas tindakan kriminal mereka. Pengacara Kang langsung memandang Oh Seung Deok dengan kesal, tapi Seung Deok masih saja membantah kalau itu bukan dia yang mengirim pesan teks yang seperti itu.

Pengacara Kang menyebut Oh Seung Deok ebagai orang bodoh dan seharusnya ia langsung menghapus semua pesannya.

“Apakah kau mendapatkan pesan itu?” tanya Oh Seung Deok aneh. Byun Il Jae lalu memandang ke arah Kang Gi Tan.

Saat Oh Seung Deok dan Pengacara Kang pergi, Byun Il Jae bertanya pada GI Tan apakah dia yang mengirimkan pesan teks itu dan memang Gi Tan yang mengirimkannya. Flashback saat Kang Gi Tan masih di kantor polisi, saat detektif Park memberika daftar panggilan dari telepon Oh Seung Deok.

8

Gi Tan mengirimkan pesan-pesan pada semua nomor yang ada di riwayat panggilan Oh Seung Deok  dari ponsel Oh Seung Deok. Dan ternyata ponsel Pengacara Kang yang membalas pesan itu. Kang Gi Tan menjelaskan itu pada Byun Il Jae dan Byun Il Jae memuji Gi Tan yang luar biasa. Saat mereka sedang berbicara, Il Jae menerima telepon dari DO Gwang Woo yang mengatakan ingin menemui Kang Gi Tan. Di kantornya, Gwang Woo mengatakan pada Gi Tan untuk ‘jangan pernah berpikir untuk lepas dari pandanganku’ *uhhh*

Sekretaris Gwang Woo mengatakan kalau itu artinya Gwang Woo akan menjadi pelindungnya. Gi Tan berterima kasih pada Gwang Woo dan merasa sangat terhormat. Byun Il Jae hanya memandanginya.

9

 

Kang Gi Tan mengingat lagi saat bibinya memperkenalkan DO Gwang Woo pada Byun Il Jae saat upacara kematian orang tua Gi Tan. Bibinya dan Gwang Woo juga sempat membicarakan masalah investasi. Kemudia Gi Tan mengingat lagi saat Goo Joo Tae memberitahunya mengenai Group Dodo yang merencanakan sesuatu dengan Byun Il Jae untuk segera menyingkirkan Gi Tan.

“Sekarang Kang Gi Tan akan bekerja sebagai karyawan tetap disini.” Kata Gwang Woo. Il Jae mengingatkan kalau Gi Tan masih harus melewati sebuah pelatihan di luar negeri, tapi Gwang Woo mengatakan kalau itu tidaklah penting karena dia sudah menyelamatkan Dodo Group.

Seorang Direktur mengatakan kalau seleksi ini diawasi dengan sangat ketat oleh Ketua Do, tapi Gwang Woo mengatakan kalau Gi Tan toh nantinya juga akan lulus. Gwang Woo akhirnya mengalah dan menyemangati Gi Tan kalau dia akan lulus dengan nilai yang sangat baik. Direktur tadi meminta Byun Il Jae untuk menulis laporan dan surat permintaan maaf karena dia telah hampir ‘mencelakakan’ Group Dodo dalam persidangan. Gwang Woo memintanya untuk bekerja secara profesional dan tidak hanya membual (karena kan sebelumnya dia optimis kalau Dodo akan menang dalam persidangan dengan strategi yang dia buat).

“Apakah kau bekerja dengan mulutmu? Memangnya kau seekor burung pelatuk?” tanya Gwang Woo. Il Jae manyun manyun tidak suka dengan hinaan DO Gwang Woo.

10

Kang Gi Tan yang melihat itu lalu mengambil kesempatan untuk membela Byun IL Jae.

“Strategi yang kita gunakan untuk menangkap Oh Seung Deok berdasarkan perintah Direktur Byun.” Kata Kang Gi Tan.

Il Jae langsung kaget. Gwang Woo bertanya pada Gi Tan apakah hal itu benar, sementara Direktur yang satu lagi (yang belum tahu siapa namanya) melirik kaget pada Il Jae. Gwang Woo beralih dan bertanya langsung pada Byun Il Jae. Tapi Byun Il Jae hanya menjawab kalau ia akan menulisakan rinciannya dalam laporannya.

Gwang Woo meminta Il Jae untuk melupakannya dan menegur kenapa Il Jae tidak mengatakan hal itu sebelumnya (makanya dia jadi harus marah-marah).

11

Usai meeting, Byun Il Jae memanggil Kang Gi Tan. Dia bertanya banyak pada Gi Tan tentang motif kenapa dia mengatakan hal yang seperti itu pada Do Gwang Woo dan jangan berharap kalau dia akan berterima kasih pada Kang GI Tan karena telah berbohong untuknya. Gi Tan mengatakan kalau ia ingin bekerja di bawah Byun Il Jae karena ia percaya kalau dia tidak akan membuang masa mudanya dengan bekerja untuk Byun Il Jae. Byun Il Jae mengatakan kalau Gi Tan harus menyelesaikan misi terakhir dan berharap GI Tan akan menjadi yang terbaik. Gi Tan mengatakan kalau ia akan melakukan yang terbaik.

Pada evaluasi nilai personal, Kang GI Tan berada di urutan pertama, Yoo Sung Ae di urutan kedua, Do Gun Woo urutan ketiga. Soo Yeon, Nan Jeong dan Soo Tak juga terlihat senang. Manager Moon mengumumkan kalau delapan terbaik yang akan dikirim untuk pelatihan diluar negeri. Mereka diharuskan untuk bertemu di Lounge bandara pada hari ini. Gi Tan dan Gun Woo saling bertatapan seolah mereka akan memulai lagi persaingan mereka. Sung Ae menatap Gi Tan seperti mencurigai sesuatu tapi kemudian ia pergi saat Gi Tan memandanginya.

12

Di sarana olahraga, Sung Ae berlari di atas treadmill. Atasannya kemudian datang dan berlari di sebelahnya. Dia bertanya kapan Sung Ae akan dikirim untuk pelatihan di luar negeri. Setelah menjawab, Sung Ae lalu bertanya apakah atasannya telah mencari tahu latar belakang Kang GI Tan, karena Sung Ae mencurigai Gi Tan yang terlihat seperti seorang yang profesional.

“Badan Intelijen Nasional mengirimmu untuk mencari tahu. Tulis laporan tentang semua yang kau ketahui.” kata atasannya dan ia pun pergi meninggalkan Sung Ae yang kesal.

13

 

Byun Il Jae mendatangi Gun Woo yang sedang minum. Gun Woo yang sepertinya sudah mabuk lalu bertanya apakah Kang Gi Tan sudah bertemu dengan Ketua, Byun Il Jae malah bertanya balik apakah hal itu mengganggu Do Gun Woo.

“Aku tidak ingin menemuinya, tapi aku merasa tidak baik jika Kang Gi Tan telah bertemu dengannya.” Kata Gun Woo.

Byun Il Jae mengatakan kalau Gun Woo tidak perlu kecewa. Tapi Gun Woo tidak sedang kecewa dan malah merasa kalau semuanya semakin menarik dan dia akan benar-benar mengalahkan Kang GI Tan.

14

Gi Tan sedang mendonorkan darahnya untuk penelitian vaksin. Ia meminta Chae Ryung untuk meneliti latar belakang Do Gun Woo. Bagaimana Gun Woo hidup di Amerika dan menemukan apapun yang bisa Chae Ryung dapatkan mengenai dia. GI Tan ingin tahu kenapa Gun Woo memihak pada Byun Il Jae.

“Kau memberi kami darahmu yang berharga, kami harus melakukan apa yang kau katakan.” Kata Chae Ryung menuruti perintah GI Tan.

Delapan besar peserta sudah sampai di Hainan untuk pelatihan mereka. Kim Hae Il dan Soo Tak berada dalam satu kamar. Park Soo Hee (anak direktur Dodo yang sombong itu) dan Hong Nan Jeong juga berada dalam satu kamar, Soo Yeon dan Sung Ae satu kamar dan tentu saja sisanya adalah Gi Tan dan Gun Woo.

Gi Tan akan protes tapi Gun Woo yang lebih dulu meminta ganti teman satu kamarnya, sedangkan Soo Hee juga ingin memakai kamar sendirian dan akan membayar selisihnya. Manager Moon langsung marah-marah dan mengingatkan mereka kalau mereka kesini bukan untuk berlibur. Mereka semua belum diterima dan hanya 5 dari mereka yang akan diterima. Instruktur Mo memberitahu mereka untuk bangun jam 6 besok pagi sambil membagikan kunci kamar untuk masing-masing dari mereka.

“Aku adalah orang yang sensitif, jadi kau harus berhati-hati.” Kata Gun Woo.

“Apakah aku sudah memberitahumu kalau aku berjalan sambil tidur? Aku mungkin akan mencekikmu. Jangan membuatku marah jika kau tidak ingin mati.” Balas Gi Tan tak kalah sengit.

15

Di kamarnya, Soo Yeon merasa senang karena dia berada di tempat mewah seperti hotel itu. Dia bertanya-tanya apakah dirinya sedang bermimpi. Soo Yeon berjalan ke balcon dan merasakan udara yang sejuk dari sana, apalagi view citylight yang benar-benar menakjubkan. Saat Soo Yeon mencoba ranjang tempat tidurnya, ia berkata pada Sung Ae yang tengah mencoba untuk tidur bahwa dia senang bekerja untuk perusahaan yang besar dan bisa merasakan tempat yang mewah. Sung Ae masih mencoba tidur dan hanya menyuruh Soo Yeon untuk segera tidur.

“Ini akan bagus sekali kalau adikku ada disini.” Gumam Soo Yeon. Lalu dia bangun lagi dan bertanya pada Sung Ae apakah ia memiliki seorang adik atau kakak laki-laki. “Setelah kuingat-ingat, kau tidak pernah membicarakan dirimu sendiri.”

Sung Ae langsung membuka matanya dan mendelik marah pada Soo Yeon. Soo Yeon lalu minta maaf dan berkata kalau dia akan pergi tidur.

16

Gun Woo dan Gi Tan berdebat tentang lampu. Gi Tan tidak bisa tidur kalau lampunya mati sedangkan Gun Woo sebaliknya. Tapi Gun Woo tidak peduli dan mematikan lampu. Saat ia mencoba tidur, lampu menyala dan Gi Tan sudah duduk di tempat tidurnya dengan wajah yang menyeramkan sampai Gun Woo kaget. Hahaha.

“Aku benci suasana gelap karena aku memiliki trauma. Jangan pernah membuatku marah.” Kata Gi Tan.

“Ingatlah semua yang telah kau lakukan kepadaku sejauh ini. Aku akan memastikan aku akan membalasmu.” Balas Gun Woo akhirnya mengalah dan mengambil sebuah penutup mata (bukannya daritadi hahaha). Mereka tidur dan saling membelakangi.

17

Saat pagi tiba, Gi Tan senyum-senyum sendiri seolah ia memeluk seseorang yang disukainya. Saat ia membuka mata ia malah melihat Do Gun Woo di depannya. Posisi tidur mereka berubah dan kemudian mereka saling meneriaki satu sama lain.

Semua peserta jogging di pagi hari. Manager Moon mengizinkan mereka melakukan apapun di pagi hari ini dan berkumpul pada jam 2 siang nanti. Mereka semua senang dan menghabiskan waktu dengan bermain voli pantai, bermain seluncur air di kolam renang dan berjalan-jalan.

Park Soo Hee yang tidak suka dengan Oh Soo Yeon lalu berkata pada Yoo Sung Ae kalau Soo Yeon itu miskin sekali karena dia tidak pernah naik pesawat dan pergi keluar negeri. GI Tan dan Gun Woo juga mendengarkan itu. Sung Ae diam saja tidak menjawab Soo Hee. Soo Hee yang melihat Gun Woo lalu mengajak Gun Woo berfoto dengan selfie sticknya tapi Gun Woo malah merasa malu dengannya dan pergi. Kang GI Tan menabrak Soo Hee dengan sengaja sampai Soo Hee berteriak.

“Maaf karena aku miskin.” Kata Gi Tan padanya. Soo Hee jadi semakin kesal.

18

Dalam pertemuan, mereka semua diberikan semua file daftar semua pengusaha yang ada di Cina. Pelatihan kali ini adalah untuk menguji kemampuan berbisnis internasional mereka. Mereka akan memilih produk yang dibuat Group Dodo dan kemudian menjualnya pada pengusaha yang mereka pilih. Instruktur Mo kemudia mengatakan pada mereka kalau akan ada sebuah pesta dansa dimana semua aktifitas bisnis akan dilakukan disana dan mereka akan berlatih dansa. Semua peserta wanita maju dan memilih partner bedansa mereka. Soo Yeon memilih Gi Tan yang sebelumnya mengatakan untuk tidak terus menerus mengikutinya, tapi Soo Yeon mengatakan kalau dia tidak ingin memilih Gun Woo dan merusak segalanya. Hahaha.

19

“Ada berbagai senjata yang dilakukan saat berbisnis. Dan menari adalah strategi yang paling efektif untuk merusak kewaspadaan lawan.” Kata Manager Moon di tengah latihan dansa mereka.

Oh Soo Yeon hampir jatuh saat berdansa. Instruktur Mo lalu mengoreksi gerakan Soo Yeon dan membenarkannya.

“Jika kau menghalangiku untuk mendapatkan hadiah dari ketua, kau akan menanggungnya.” Ancam Gi Tan.

“Uang itu milikku, jadi jangan bermimpi mendapatkannya.” Balas Soo Yeon di tengah latihan mereka.

Do Gun Woo yang sedang berlatih bersama Sung Ae malah terus menerus melihat ke arah Gi Tan dan Soo Yeon. Sung Ae menegurnya dan menyuruhnya untuk fokus. Instruktur Mo mengatakan untuk berganti pasangan, dan kali ini Soo Yeon berdansa dengan Gun Woo. Gun Woo menduga kalau Soo Yeon berpikir bahwa Gi Tan akan mengalahkannya. Tapi Soo Yeon membenarkan karena Gi Tan telah mengalahkannya dalam misi terakhir.

20

“Bagaimana jika aku menang?” tanya Gun Woo.

“Kau tidak akan bisa mengalahkan dia.” Jawab Soo Yeon.

“Apa yang akan kau lakukan jika aku mengalahkan dia?” tanya Gun Woo lagi dan Soo Yeon menjawab dengan kalimat yang sama.

Gun Woo lalu mengajaknya untuk bertaruh. Ia mengatakan 1000 dolar, Soo Yeon tidak mau. Gun Woo menaikkan taruhannya sampai 4000 dolar dan Soo Yeon menyuruhnya untuk bangun (dari mimpinya). Soo Yeon menantang kalau ia berani bertaruh untuk 100.000 dolar. Gun Woo mengatakan dia sudah gila. Soo Yeon menantang apakah Gun Woo takut dan jika memang takut maka mereka harus melupakannya.

Gun Woo akhirnya menyetujui taruhan itu. Soo Yeon mengejeknya kalau Gun Woo akan tinggal di rumah sewa yang murah karena dia yang akan menang. Jika Gun Woo tidak bisa membayarnya, dia harus menjadi budak Oh Soo Yeon. Gun Woo mengatakan kalau hal itu terdengar lebih menarik lagi. Dan begitu seterusnya mereka berdebat sambil berlatih dansa.

21

Sama seperti Gun Woo sebelumnya, Gi Tan juga terus menerus melihat ke arah Soo Yeon yang sedang berdansa dengan Gun Woo. Sung Ae menegurnya juga.Tapi Gi Tan kemudian melihat ke arah Sung Ae dan mengatakan kalau dia sedang fokus.

Pada malam hari, sebuah faximille datang kemudian seluruh telepon yang ada di setiap meja berdering. Lampu ruangan menyala dan seseorang mengangkat telepon. Ia kemudian kaget dan mendapatkan berita mengenai obat palsu.

Pagi harinya pemberitaan mengenai obat generik Cina sudah sudah tayang. Obat generik Cina itu sudah menyebar luas di pasar sedangkan jumlah ekspor dari Dodo Pharmaceutical sudah menurun. Dan semua pemberitaan itu membuat saham Dodo menurun.

22

Ketua Do menonton pemberitaan itu di  ruangan meeting beserta para direksi. Ia kemudia melempar remote dan bertanya siapa yang bertanggung jawab  untuk masalah itu. Gwang Woo menjawab kalau mereka sedang menyelidikinya. Ketua Do bertanya butuh berapa lama, apakah mereka akan menunggu Dodo bangkrut baru menemukan siapa pelakunya. Gwang Woo meminta maaf . Ketua Do tidak ingin permintaan maaf dan hanya ingin tahu siapa yang melakukannya.

Saat Ketua Do meminta pil untuk penyakitnya, Byun Il Jae datang dan memberitahu kalau ia sudah menemukan pelakunya yang adalah seorang pria yang bernama Michael Chang yang ada di Hainan, Cina. Salah satu direktur mengetahui kalau Michael Chang adalah seorang pengedar obat palsu yang keberadaannya sangat sulit ditemukan, bahkan pihak Cina sendiri sulit untuk menemukan bukti untuk menangkapnya. Byun Il Jae mengatakan ia akan membentuk tim dan mengirimkannya ke Hainan. Gwang Woo ngomel-ngomel dan mengatakan kalau dia sendiri yang akan pergi ke Hainan.

23

 

Tapi sayangnya Ketua Do tidak mempercayainya dan mengizinkan Byun Il Jae untuk pergi bersama tim yang akan dibentuknya. Ketua DO juga ingat kalau Moon Tae Gwang juga sedang berada di Cina, juga Kang Gi Tan, Ketua Do menilai kalau Gi Tan terlihat lebih baik daripada tim SPD mereka. Ketua Do meminta Il Jae untuk mengerjakan misi ini bersama-sama dengan Moon Tae Gwang.

Di Cina, Moon Tae Gwang dan peserta pelatihan sedang membahas tentang latar belakang Michael Chang (yang ganteng abis).

24

“Dengan dana ilegal yang dia dapatkan dari obat palsu, dia membeli hotel, real estate dan bahkan kasino.” Jelas Manager Moon. “Dia terkenal di Cina karena bisa mendapatkan kekayaan dengan sangat cepat.”

Gi Tan melihat video yang diputarkan dan mengenal Michael Chang. Dia dan Chae Ryung pernah melihat Michael Chang yang sedang bertarung (atau pertandingan boxing ya?).

25

 

Saat itu Chae Ryung menjelaskan kalau Michael Chang mendominasi dunia bawah tanah Hainan hanya dalam setahun dan langsung pergi ke Cina daratan. Chae Ryung menjelaskan kalau Michael Chang adalah seorang yang sangat menakutkan, jadi sebaiknya Gi Tan tidak perlu berurusan dengannya. Gi Tan dan Chae Ryung sama-sama melihat kemampuan Michael dalam bertarunghingga dia memenangkan pertarungan itu. Flashback end.

Manager Moon masih menjelaskan. Tidak ada banyak informasi yang bisa diakses mengenai Michael Chang. Sebagian besar hanya tahu kalau Michael mahir berbicara bahasa Cina, Jepang, Inggris dan Korea. Michael juga seorang playboy yang terkenal memiliki skandal dengan banyak aktris Cina (yaiyalah ganteng gitu).

“Dan yang terakhir, kita tahu bahwa dia sangat kaya.” Tambah Manager Moon.

Nan Jeong berbisik pada Soo Hee kalau Michael Chang adalah seorang yang tampan, tapi Soo Hee menyayangkan kalau Michael adalah seorang penjahat. Pemerintah Cina sudah mencoba untuk menyelidikinya tapi mereka tidak bisa menemukan letak pabriknya dan gagal menangkapnya, sedangkan tugas mereka adalah untuk mencari tahu pabrik dimana obat palsu itu dibuat.

Sung Ae bertanya tentang rencana spesifik apa yang bisa mereka gunakan. Manager Moon menjelaskan kalau mereka memiliki dua strategi; yang pertama adalah memasang lonceng di leher kucing atau menggunakan sesuatu yang oleh orang Cina dianggap sangat penting, hubungan.

“Kita akan menggunakan hubungan, juga disebut ‘Guanxi’, untuk mendekatinya.” Kata Manager Moon.

Soo Yeon bertanya bagaimana mereka bisa memasangkan lonceng pada Michael. Kita lalu diperlihatkan kamar ganti Michael Chang dimana jas, jam tangan mahal, dan pin dasi yang terlihat mahal.

26

“Michael selalu memakai pin yang sama pada dasinya.” Manager Moon memiliki satu pin yang sama dengan yang dimiliki Michael yang di dalamnya terdapat peralatan khusus dengan camera. “Yang perlu kita lakukan adalah menukar pin ini dengan yang dia pakai.”

Soo Tak bertanya bagaimana dengan ‘Guanxi’. Manager Moon menjelaskan kalau Michael suka bermain mahjong. Dia juga sangat kompetitif dan akan menantang siapapun yang bermain dengan baik sampai dia menang.

“Seseorang yang labih berbakat bermain mahjong dibandingkan Michael akan bisa mendekat kepadanya.” Pikir Gun Woo.

Manager Moon membenarkan dan mengatakan kalau setelah itu mereka bisa menjadi mitra dalam membuat obat untuk menemukan pabriknya. Instruktur Mo gantian berbicara dan memberi tahu peserta kalau Michael Chang diundang ke sebuah pesta yang diadakan konsulat mereka malam ini dan karena agen SPD Dodo baru akan datang besok, jadi mereka yang akan menghadiri pesta itu malam ini. Beberapa orang kaget tapi ini adalah perintah dari ketua dan siapa yang berhasil dalam misi ini maka dia akan menjadi kandidat final.

27

 

28

Semua peserta terlihat sedang bersiap-siap. Gun Woo mengatakan pada Gi Tan untuk tidak berusaha  terlalu keras karena Gun Woo tidak akan membiarkannya menang kali ini. Gi Tan malah menyebut Gun Woo sebagai seorang pecundang.

29

Datang-datang, Soo Yeon dengan riasan yang aneh, juga gaun yang aneh langsung menyita tawa peserta yang lain. Soo Yeon mendekati Gi Tan dan bagaimana penampilannya.

“Aku ingin mati.” Kata Gi Tan. Hahaha.

“Aku mengambil yang paling mahal dari semuanya.” Kata Soo Yeon.

“Wow. Kau benar-benar menonjol, Soo Yeon.” Ledek Gun Woo.

30

Datang Sung Ae yang langsung menyita perhatian Soo Tak dengan gaun  hitamnya. Gun Woo langsung menyimpulkan kalau Gi Tan kalah.

Tanpa bicara apapun, Gi Tan menari pergi Soo Yeon ke ruang ganti dan marah-marah kalau Soo Yeon tidak pernah pergi kencan. Gi Tan menyuruhnya melepaskan bunga-bunga di atas kepalanya, dan merobek beberapa bagian dari gaunnya.

“Ini baru lebih terlihat seperti gaun. Yang kau pakai tadi adalah karung.” Kata Gi Tan sambil menyuruh Soo Yeon bercermin.

Gi Tan juga memberitahu dandanan Soo Yeon sangat berantakan dan akan membersihkan beberapa sisi make upnya. Soo Yeon sempat menolak tapi akhirnya dia bersedia walaupun dia malah menjadi canggung dengan Gi Tan yang memegang wajah dan bibirnya.

31

 

32

“Sekarang kau terlihat pantas.” Katanya.

“Sebaiknya aku tidak terlihat mengerikan.” Kata Soo Yeon.

“Percayalah padaku.” Jawab Gi Tan.

“Kau adalah orang terakhir yang bisa aku percaya.” Kata Soo Yeon jaim.

Ini adegan seharusnya romantis nih. Hahaha. Tapi cukup apalagi dengan sountrack lagunya Zia. Gi Tan masih belum cukup puas dan masih merasa harus melakukan sesuatu dengan rambut Soo Yeon, Gi Tan lalu mengacak-acak (dengan lembut) rambut Soo Yeon yang keriting-keriting gimanaa gitu. Gemes deh hahaha.

33

Soo Yeon dan Gi Tan datang sedikit terlambat dibanding dengan peserta yang lain. Gun Woo kaget melihat perubahan dandanan Soo Yeon, apalagi Soo Tak yang bahkan bertanya apakah Soo Yeon selalu terlihat cantik seperti itu.

Manager Moon memulai membagikan tugas pada mereka semua dan bertanya siapa yang bisa bermain mahjong. Gun Woo dan Gi Tan. Gun Woo memenangkan kompetisi mahjong secara online sedangkan Gi Tan belajar kepada seorang ahli dari Cina. Dan terpilihlah mereka berdua untuk bermain melawan Michael Chang.

Oh Soo Yeon dan Yoo Sung Ae mendapat tugas untuk memasangkan lonceng pada kucing. Masing-masing dari mereka diberikan pin dasi yang sama yang sebelumnya dijelaskan kalau terdapat camera didalamnya. Manager Moon berpesan kalau salah satu di antara mereka harus ada yang berhasil.

34

Saat sarapan, Hwang Ji Soo mengatakan kalau pamannya sangat kejam karena mengirim Byun Il Jae setelah sidang. Tapi Byun Il Jae mengatakan kalau pekerjaan ini penting, jadi dia sendiri yang menawarkan diri. Byun Il Jae lalu bertanya pada ayah mertuanya yang terlihat terganggu oleh sesuatu dalam pikirannya.

“Apa kau tahu anggota kongres Park Soo Jong yang baru-baru ini meninggal karena serangan jantung?” tanya Hwang Jae Man. Byun IL Jae merasa kasihan karena Park Soo Jong masih muda. “Akan ada pemilihan untuk mengisi posisinya, dan aku perlu untuk memilih seorang kandidat. Terlalu banyak orang yang berminat.” Jelas Hwang Jae Man.

Byun Il Jae mengatakan kalau itu sudah tidak aneh. Tapi partai Hwang Jae Man adalah yang disukai oleh konstituen, jadi siapapun calonnya maka itu akan menang. Tapi Hwang Jae Man mengatakan kalau tidak ada kandidat yang satu frekuensi dengannya jadi dia akan dipusingkan dengan masalah seperti itu. Hwang Ji Soo mencalonkan diri, membuat ayah dan suaminya terkejut.

35

 

“Kau tahu itu adalah impianku sejak aku masih kecil. Aku seorang profesor dari perguruan tinggi dan putri dari perwakilan partai.” Jelas Ji Soo.

Byun Il Jae sepertinya ingin mencegah Ji Soo tapi ternyata ayahnya mendukungnya dan itu akan menjadi langkah yang ideal, apalagi Hwang Jae Man akan mendapatkan banyak keuntungan. Hwang Ji Soo senang karena ayahnya akan mencalonkan dirinya dan dia pasti akan bisa melakukan yang terbaik. Di tengah makan, Ketua Do menelpon Hwang Jae Man dan sepertinya dia meminta untuk bertemu.

Hwang Jae Man datang ke rumah Ketua Do yang ternyata juga memiliki tamu yang adalah anggota Kongres. Hwang Jae Man sepertinya mengenal pria itu dan terlihat mereka tidak memiliki hubungan yang baik. Tapi Ketua Do begitu ramah padanya dan mengatakan kalau mereka harus lebih sering bertemu.

Ternyata Ketua Do meminta Hwang Jae Man untuk mencalonkan anak dari anggota Kongres Jang (pria yang tadi) sebagai calon dalam pemilihan. Ketua Do menjelaskan kalau dia ingin Shin Young (anak perempuannya) menikah dengan anak dari anggota Kongres Jang.

36

 

“Apa kau mengatakan kalau kalian berdua akan menjadi besan?” tanya Hwang.

Ketua Do bertanya pada Tuan Gong yang memberitahu kalau Shin Young pulang pada tanggal 8 bulan depan dan meminta Hwang untuk mencalonkan anak dari Kongres Jang sebelum itu.

“Aku dan Jang Sam Sik kurang akrab. Kau juga sangat tahu. Haruskah kau melakukannya sampai sejauh ini hanya untuk mengawasiku? Aku bisa dengan bangga mengatakan bahwa aku tidak pernah membantah keinginanmu. Aku menghargaimu jika kau akan mendukungku sekali sekali…” kata Hwang tapi kemudian Ketua Do menimpali.

“Apa kau berpikir bahwa kau sangat hebat sampai aku harus melakukan sesuatu untuk mengawasimu? Aku mungkin tidak cukup kuat untuk menjadikan seseorang presiden, tapi jika aku memutuskan untuk melakukannya aku bisa merusak peluang dari seorang calon presiden. Aku berharap kalau itu bukan kau.” Kata Ketua Do seolah mengancam Jae Man yang memang memiliki tujuan untuk menjadi seorang presiden. “Kami sangat bahagia dan damai. Jangan merusak itu. ‘Mengawasi seseorang’ bukanlah kalimat yang sesuai untuk kita.” Lanjutnya.

37

 

Hwang akhirnya mengatakan dia menjadikan putrinya, Ji Soo, sebagai kandidat. Ketua Do seperti tidak mempercayainya. Hwang Jae Man lalu berdiri  dan meminta Ketua Do untuk mengingat hal itu. Dia memberi hormat lalu pergi keluar ruangan.

“Aku membesarkan anjing gembala yang berpikir bahwa dia serigala.” Dia menertawakan Hwang Jae Man yang sedang menantangnya. Ketua berpesan pada Tuan Gong untuk memberitahu Shin Young supaya pulang sebelum tanggal 8.

38

 

Tanpa sengaja Tuan Gong mendengar pembicaraan Ji Soo dan Nyonya Do di ruang makan. Nyonya Do memberitahu JI Soo kalau ‘wanita itu’ memiliki seorang putra. Nyonya Do meminta Ji Soo untuk memelankan suaranya dan bertanya apakah Il Jae tidak mengatakan apapun padanya. Ji Soo tidak mendengar apapun dari Il Jae. Nyonya Do memuji Il Jae yang bisa menjaga rahasianya. Nyonya Do mengatakan kalau semua itu bisa mengacaukan posisi mereka. Ji Soo ketakutan bagaimana jika wanita itu datang kembali bersama anaknya, Nyonya Do mengatakan kalau wanita itu sudah meninggal belum lama ini dan anaknya adalah seorang pecandu narkoba yang tinggal di daerah kumuh. Jika Ketua Do mengetahui wanita itu sedang hamil, dia tidak akan membiarkan Nyonya Do mengusirnya. Saat sedang mendengarkan semua itu, Tuan Gong malah dipanggil Ketua Do dan kedua wanita itu langsung menutup mulut mereka.  Ketua memerintahkan Tuan Gong untuk mencari tahu apa yang terjadi di Hainan. Tuan Gong menurut sambil memikirkan apa yang baru saja dia dengarkan.

39

 

Di Hainan, pada acara pesta, Soo Tak dan Soo Hee menyamar menjadi waitress dan memberikan beberapa minuman pada para tamu. Gi Tan, Soo Yeon, dan Gun Woo membaur dan berbincang bersama tamu yang lain. Soo Hee ngomel-ngomel kenapa dia ditugaskan untuk sesuatu yang seperti ini dan bukannya untuk sesuatu yang glamour. Instruktur Mo dan Manager Moon mengawasi mereka dari camera cctv dan meminta Soo Hee untuk menjaga mulutnya. Soo Hee meminta maaf.

Manager Moon mengabarkan pada semua agent kalau Michael Chang telah tiba dan mereka berkumpul pada sebuah meja dan bersiap-siap. Gun Woo yang melihat semua orang menjadi tegang lalu bertanya-tanya orang sehebat apa Michael Chang itu.

40

41

Sung Ae (entah bagaimana caranya) berhasil berdansa dengan Michael Chang, mereka saling memuji kemampuan berdansa satu sama lain. Sayang sekali saat Sung Ae akan menukar pin pada dari Michael, dia gagal saat Michael mendapatkan sebuah notifikasi dari smartwatchnya dan dia akhirnya pergi.

42

Kali ini giliran Soo Yeon yang berdansa dengan Michael. Dengan Soo Yeon dia terlihat lebih santai bahkan sampai memuji kalau Soo Yeon sangat cantik. Karena Soo Yeon tidak bisa bicara bahasa Cina, Michael Chang kemudian berbicara dengan bahasa Korea dan membuat Soo Yeon terkesima dengannya.

“Kau terlihat sangat gugup.” Kata Michael.

“Aku tidak bisa berdansa. Kau bisa melihatnya sendiri. Aku minta maaf.” Kata  Soo Yeon.

Michael bahkan menanyakan nama Soo Yeon dan mengatakan kalau ‘Miss Soo Yeon. Please relax.’ (ini saya yang lihat scene ini gemes-gemes sendiri lihat tatapan matanya Chen Bolin yang berperan sebagai Michael). Michael mengatakan kalau Soo Yeon tidak cocok untuk hal seperti ini karena dia berbeda dari yang lain. Soo Yeon bertanya apakah dia tidak menyukai Soo Yeon. Michael hanya menjawab kalau terkadang menjadi berbeda itu bagus.

42

44

Michael bahkan bisa tertawa seperti ini dan mengatakan kalau Soo Yeon sangat menarik. Dalam hatinya, Soo Yeon menduga-duga apakah Michael sudah menyukainya dan apakah dia menganggapnya semacam permainan.

Michael bertanya apakah Soo Yeon datang kesini bersama pacarnya, Soo yeon membantah dan balik bertanya siapa wanita yang tadi datang bersamanya, wanita itu cantik.

“Dia adalah pacarku. Tapi karena dirimu, aku telah putus dengannya.” Jawab Micahel dalam bahasa Inggris.

“Kau bajingan.” Kata Soo Yeon dalam hatinya.

“Lalu apakah kau mau datang ke kamarku?” tanya Michael. Soo Yeon terlalu bodoh dan bertanya apa maksud Michael.

45

Michael menarik Soo Yeon mendekat dan membisikkan nomor kamarnya “2201” katanya.

Soo Yeon dan Gi Tan bertemu. Gi Tan memarahi Soo Yeon yang tetap akan datang ke kamar Michael Chang karena mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan Michael padanya karena dia adalah orang jahat. Tapi Soo Yeon tetap akan menukar pin mereka dan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

Soo Yeon datang dan menekan bel ruangan Michael Chang setelah sebelumnya sempat ragu-ragu. Michael menyambut Soo Yeon dengan senang dan mempersilahkannya masuk ke suitenya. Michael memberikan Soo Yeon minuman favoritnya, tapi saking gugupnya, Soo Yeon langsung meminumnya padahal Michael menunggu untuk toast dengannya. Hahaha.

Michael tidak jadi minum dan malah duduk mendekat pada Soo Yeon. Soo Yeon yang gugup lalu menjauh sampai ia berada pada ujung sofa dan tidak bisa menjauh lagi.

46

Di ruang kontrol, semua orang panik karena sudah 30 menit dan Soo Yeon masih bersama Michael Chang. Gi Tan dan Gun Woo menawarkan diri untuk masuk ke suite-nya Michael. Manager Moon mengizinkan mereka dan meminta mereka untuk berhati-hati dan jangan sampai dia curiga.

Gi Tan dan Gun Woo datang ke ruangan Michael dengan menyamar sebagai petugas kebersihan hotel. Sedangkan di dalam suite-nya, Michael terus mendekati Soo Yeon membuat Soo Yeon semakin gugup sampai menumpahkan sampanye yang sedari tadi masih dia pegang. Soo Yeon meminta maaf karena dia sangat gugup. Michael mengatakan kalau Soo Yeon memang sudah gugup sejak saat dia menari. Dia kemudian pergi untuk mandi dan menawarkan pada Soo Yeon apakah dia ingin mandi, tapi Soo Yeon menolak.

Gi Tan dan Gun Woo datang dan menekan bel. Michael Chang langsung curiga. Soo Yeon menawarkan diri untuk membukakan pintu dan terkejut saat dia melihat Gi Tan dan Gun Woo yang datang. Michael Chang bertanya siapa yang datang, tapi Soo Yeon tidak menjawab apapun. Michael lalu berjalan ke arah pintu dan … bersambung.

47

 

Pada episode 7, Soo Yeon kelihatannya berhasil dengan misinya menukar pin, karena dia memiliki kesempatan untuk jalan-jalan bersama Michael. Gun Woo dan Gi Tan masih mengawasi Soo Yeon sampai mereka harus berakting sebagai pasangan homo saat Michael akan menghampiri mereka. Gi Tan mengatakan kalau orang tuanya sudah meninggal. Dan saat itu Byun Il Jae datang dan menatapnya terkejut.

Apakah Gi Tan membuka jati dirinya pada episode 7?

 

Episode yang dibintangi cameo kita sebagai Michael Chang mungkin hanya akan ada sampai episode 7. Jadi mungkin next episode saya akan post sinopsis dengan lebih banyak gambar Michael Chang. Hahaha. Well see you on 7th episode readers.. ^^

Advertisements

Cerpen : Terlambat – Part 2

Ucapannya itu membawa memoriku kembali pada satu tahun yang lalu, saat – mungkin – seorang pria lain juga memiliki niat yang sama dengan yang Han utarakan, namun dia harus mengganti semua itu dengan seluruh hidupnya. Tidak ada siapapun yang berani mengganggu atau menyentuh ‘wanita-wanita’ yang dilindungi seperti kami – setidaknya selama masih ada big boss.

 

Han masih diam. Tak ada jawaban untuk apa yang baru saja kutanyakan, seolah ia sedang menikmati dirinya berada dalam keheningan.

 

“Nggak mungkin juga kan kalau aku meminta kamu membayar kebebasanku dengan nyawa?” tanyaku kemudian, kali ini dengan sedikit senyuman.

 

Suasana tidak berubah sedikitpun. Masih hening. Angin berganti, membelai permukaan danau pada sore yang temaram. Matahari tahu waktu, setelah sepanjang hari tadi bercermin pada danau biru, ia akhirnya pergi berganti dengan awan-awan gelap.

Aku mengundang…sebuah hati untuk menemani, sebuah senyum untuk menghangatkan – bukan jiwa – melainkan  hanya seonggok daging yang nyawanya bahkan tak lebih berharga dari sebuah kotak pembungkus emas. Jauh dalam batinku aku bertanya, mungkinkah jika hati yang sama datang saat ini? Jika saja…mungkin…beberapa waktu yang lalu bisa dihadirkan kembali saat ini, kembali pada saat aku tengah duduk disini bersama Han, dan aku tak akan pernah berpaling dari hatinya.

Sekali lagi aku mengingat bagaimana Han memperlakukanku dengan berbeda; caranya menyentuhku, caranya memandangku…hati akan lebih mengerti bagaimana ketulusan yang sebenarnya. Han membuatku selalu merasa nyaman dengan semua yang dilakukannya. Tak peduli bagaimana aku hidup atau siapa saja yang hidup bersamaku, dia tetap tahu cara menghargai seorang manusia.

Sebuah tumpukan koran dengan salah satu headline mengerikan yang sedari tadi menunggu untuk dijamah akhirnya kusentuh juga. Air mata mulai menetes melewati kedua pipiku. Aku gagal. Tidak bisa menyembunyikan apa yang ada di hatiku. Aku tidak mampu meninggalkan apa yang tadinya ingin kubuang. Akhirnya dengan perasaan penuh sesak, aku memeluk lembaran-lembaran koran yang kudapat pagi ini seolah-olah itu adalah Han.

Lagi-lagi ingatanku terjebak pada setiap kenangan tentang Han. Dengannya, aku tidak perlu menjadi orang lain. Hanya memandangi dan tertawa bersamanya, aku terlupa akan semua masalah, dan bisa…paling tidak mensyukuri setiap kesempatan yang bisa kulewati bersamanya. Dia tak pernah lupa mengingatkanku tentang ini dan itu, juga selalu menjadi orang pertama yang mengagumiku. Meskipun akhirnya aku sendirilah yang menjauhkan hidupku darinya.

Aku tak pernah merasa tak berguna dan marah sedalam apa yang kurasakan saat ini, begitu sesak yang kurasakan hingga aku merasa tak pantas meski hanya menyimpan sebuah kenangan tentang Han. Aku benar-benar malu terhadap semua kebodohan yang meskipun kusesali, ini takkan membuatnya ingin kembali. Apa yang kuingat tentang Han telah mencabik-cabik ke-keras kepala-anku hingga aku berada pada titik dimana aku ingin membuang semua memori yang ada, tanpa berbekas, tanpa berjejak.

Angin berbisik lagi. Aku ingin akui bahwa aku mencintainya dan mempercayai bahwa ia pergi adalah karena kesalahannya yang telah mencintaiku. Namun tak ada lagi yang bisa diperbuat olehku, karena aku sendiri-lah yang telah menghempaskannya dengan sangat jauh dari hidupku – terlalu jauh – hingga takkan bisa kusentuh lagi.

Aku kembali teringat satu malam sebelumnya saat ia menemuiku di club. Malam di saat aku tak menghiraukan semua ucapannya dan malah memintanya untuk segera pergi dari lingkungan kerjaku. Seandainya saat itu aku tahu bahwa rasa penyesalanku akan sebesar ini, aku tak akan pernah mengacuhkan atau bahkan meninggalkannya.

Malam itu semua orang berlarian dengan panik. Tadinya kupikir semua berjalan seperti biasa, karena hal seperti ini bukanlah yang pertama terjadi. Setiap orang yang kalah berjudi atau sedang dalam pengaruh alkohol bisa melakukan apa saja disini. Karena itu pula aku sendiri tak beranjak sedikitpun, masih duduk bersama teman-temanku menemani minum beberapa tamu yang datang.

Mungkin sekitar lima belas menit berlalu, tiba-tiba Amanda datang padaku dengan tergesa-gesa. Amanda adalah seorang ‘pendatang baru’ yang kisah hidupnya tak jauh berbeda dengan diriku yang akhirnya tak mampu lari dari dunia suram ini. Amanda datang dengan tak lupa tersenyum pada semua tamuku sebelum ia berbisik di samping telingaku.

 

“Prang!” tanpa bisa kukira, seketika tangan kananku melemah melepas gelas dalam genggamannya, membuat salah seorang seniorku memandang dengan penuh amarah bercampur tanda tanya.

 

Dengan gemetar, segera aku berdiri meninggalkan semua tamu tanpa basa-basi setelah sebelumnya meminta Amanda segera mengantarku ke tempat dimana ia menemukan Han. Tidak pernah kubayangkan bahwa langkahnya akan berada pada titik sejauh ini. Dari Amanda aku mendengar tentang Han yang baru saja mencoba untuk berbicara dengan big boss untuk membawaku pergi. Sempat aku tak mengerti apa yang ada dalam pikiran Han hingga kemudian ia terlibat dalam masalah seperti ini dengan para bodyguard berdarah dingin itu. Kuakui aku masih tak percaya dengan apa yang kudengar sampai aku sendiri melihat Han tergeletak berlumuran darah berada di depan pintu masuk club.

Setiap orang yang melalui kami hanya melihat sekejap lantas pergi seolah tak mengerti. Tak ada yang menghampirinya kecuali aku yang berusaha membangunkan Han yang saat itu aku terus berharap dia hanya pingsan. Tanpa bisa melakukan hal lain untuk menyelamatkan Han, aku terus mengguncang-guncangkan tubuhnya. Tidak ada yang bisa menolong meski hanya memanggil sebuah ambulance termasuk aku dan Amanda, karena tak ada satu pun di antara kami yang diperkenankan membawa alat komunikasi selama kami bekerja.

Tak peduli meski kedua tanganku terkena darah yang mengalir dari sekujur tubuhnya aku tak mampu berhenti menggoyang-goyangkan tubuh Han. Banyak memar dan luka sobek karena pukulan yang bertubi-tubi di wajahnya. Juga sebuah luka tusuk di pinggangnya yang membuatku makin kebingungan tentang apa yang bisa kulakukan. Aku terus menangis, menggila di samping Han. Berkali-kali aku menepuk-nepuk wajahnya, menatapi matanya, meratap di hadapannya, tapi  yang kulakukan adalah sesuatu yang tanpa hasil. Semua itu jelas takkan bisa membawa Han kembali.

“Angel…” Amanda menangis sambil mendekat dan memelukku yang masih saja mencoba membangunkan Han.

 

Membutuhkan waktu lama untuk mencerna semua yang kulihat, hingga sesaat kemudian aku membatu di depan Han, yang tanpa jiwa, tanpa ruh.

 

“SEORANG LELAKI MUDA TEWAS DIPUKULI, DIDUGA KARENA TIDAK MAMPU BAYAR WANITA”

 

Aku kembali terngiang pada pertanyaanku saat itu, “Nggak mungkin juga kan kalau aku meminta kamu membayar kebebasanku dengan nyawa?”

“Tentu saja. Kamu telah membayarnya, Han.” Gumamku seraya menatap sebuah bangunan dengan aksen abu-abu dan hitam, juga tulisan berwarna kuning di depannya. Beberapa mobil dengan ciri khas sirine di atasnya telah terparkir rapi di halaman yang cukup luas dengan sebuah tiang bendera bercat putih yang menjadi centralnya.

Aku berjalan masuk melewati beberapa petugas yang salah satu di antaranya berkenan mengantarkanku masuk ke sebuah ruangan.

 

“Angel…kamu adalah wanita hebat yang memiliki banyak hal yang aku impikan. Kemandirian, ketegaran dan keberanianmu bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki oleh wanita lain. Bukan juga karena satu kesalahan gugur semua pesonamu.. Ada yang jauh lebih berharga dari sekedar selaput. Itu adalah hati, cinta yang tulus.Kamu wanita yang hebat yang ingin aku lindungi.” Setidaknya itu adalah salah satu yang selalu terngiang di sisi telingaku. Saat terakhir kami bertemu, di danau itu, di hari yang berangin itu.

 

Januari 2015

 

Aku tidak pernah tahu bagaimana sebuah ucapan tulus bisa membawa kehidupan baru yang lebih baik bagi seseorang. Juga bagaimana cinta masih mampu tetap bertahan dalam jiwa manusia, meskipun manusia itu sendiri mengerti bahwa cinta akan melahapnya hidup-hidup, menjadikannya mangsa yang empuk dalam setiap hari-harinya.

Namun karena ucapan tulus itu aku bisa dengan mudah mengalahkan cinta yang tadinya kuanggap kejam. Semua hal akan menjadi benar jika jatuh pada pilihan yang tepat dan akan menjadi salah jika jatuh pada pilihan yang salah. Jika kebahagiaan hanyalah soal waktu, mungkin aku telah melewatkan wujudnya, tapi dalam hatiku, kebahagiaan itu masih hidup dengan Han di dalamnya. Aku merasa hidup dengan adanya dia. Bersyukur karena dia mampu membayarku, meski aku harus kembali membayarnya dengan semua penyesalan yang aku tahu pasti ini tak pernah dia inginkan.

 

“Angel…” Amanda memanggilku. Tanpa kusadari ia telah duduk di samping meja bundar kecil yang memisahkan jarak duduk kami berdua.

“Eh, sorry Manda, aku nggak tau kamu disitu.” Ucapku. Amanda hanya tersenyum kecil, seolah sudah lumrah dengan sikapku.

 

Ada nampan di tangannya yang segera ia taruh di atas meja kecil itu, dengan dua cangkir teh hangat yang selalu kami minum kala sore, saat aku, dia, dan beberapa pekerja kami telah selesai mempersiapkan semua makanan untuk usaha catering baru kami.

Aku mengambil satu, begitu juga dengannya. Membiarkan angin merasuk menyejukkan jiwa kami yang tak lagi harus ketakutan tentang malam. Berterima kasih pada jiwa yang pergi setelah menyelamatkan puluhan raga yang tersiksa selama bertahun-tahun dalam tempat itu. Tempat dimana aku digariskan untuk menemukan dan kehilangan.

Aku menatap pada awan dan menunggu jika saja ada satu dari ribuan bisikan angin yang membawa pesan Han untukku. Dimana saat itu pula akan ku sampaikan bahwa aku telah percaya pada cintanya. Aku akan mengakui satu kebenaran bahwa cinta bukanlah keraguan, tapi keyakinan. Sama sepertinya yang tidak pernah takut untuk ‘membayarku’ yang kini harus membayar kembali semua keterlambatan ini untuknya.

 

Han…jika aku menerimamu hari itu…akankah hal seperti ini tidak terjadi? Jika saja aku sedikit lebih berani untuk mengakui cinta itu, akankah kamu bahagia? Jika saja aku meminta maafmu, maukah kamu kembali – menjadi sosok yang sama seperti sebelumnya?

Maafkan, karena aku begitu menganggap semua ucapanmu adalah kebohongan. Aku tak pernah tahu bahwa lelaki seperti kamu adalah sesuatu yang nyata.

Han…

Ada banyak hal yang ingin kusampaikan, ku harap aku belum terlambat.

END

 

Well done ^^

Cerpen ini adalah salah satu cerpen yang pernah saya kirimkan ke sebuah kompetisi menulis kira-kira sekitar satu tahun ke belakang. Mungkin masih ada part-part yang kurang dan belum sesuai dengan kriteria penilaian, jadi cerpen ini tidak terpilih.

Lalu kenapa saya post cerpen ini? Sampai hari ini, buat saya tokoh Angel masih begitu mengagumkan dengan semua yang dia miliki. Terlepas dari semua hal buruk yang melekat pada hidupnya, Angel memiliki keberuntungan dan karunia yang (kalau dia bisa sedikit percaya) tidak semua orang bisa miliki.

Ini hanya sebuah cerita fiksi, yang setiap detail perasaannya melibatkan apa yang pernah atau sedang saya rasakan. Berkiblat dari cerita ini, saya harap readers juga bisa percaya kalau ketulusan itu masih ada bagi setiap orang yang mau percaya. Begitulah..

Have a nice holiday!! ^^

 

Kembali ke Cerpen : Terlambat – Part 1

Cerpen : Terlambat – Part 1

Ketakutan terberat yang dirasakan seorang manusia adalah saat ia harus jatuh cinta. Bagi orang sepertiku, cinta hanyalah wujud lain dari sebuah penyiksaan yang abstrak. Menanti untuk ditemukan, kemudian mulai meracuni tiap sela nadi dan nafas hingga akhirnya rasa itu benar-benar membunuh setiap jiwa yang menemukannya. Kita tidak tahu bagaimana dan kapan cinta akan ditemukan, bagaimana kita akan percaya atau hanya meninggalkannya pergi.

 

Di tempat ini, angin berhembus indah tidak seperti biasanya. Aku tidak peduli meski awan menjadi agak sedikit cengeng belakangan ini. Sedikit-sedikit hatinya gelap dan menangis menjerit-jerit di awan biru. Apa dia juga sedang menangisi sebuah keterlambatan? Apa dia juga merasa menyesal?

Aku di tengah hari yang sangat berangin, sendiri, dan hanya ingin bercerita pada angin. Tak peduli air mata seperti apa yang akan hadir, aku takkan khawatir selagi danau indah itu tak berkeberatan menampung semua sedih dan duka. Tak peduli jika rumput-rumput menjadi kering, aku hanya ingin tersenyum, mencium semua wangi yang hinggap, jika saja masih ada aroma tubuhnya yang tertinggal. Detik adalah anugerah, sekalipun langit mengamuk di atas sana, tapi aku tak peduli, karena aku ingin merasakan hidupku, setidaknya hanya satu hari ini – satu hari dimana aku akan menerima sebuah cinta dan menyesali sebuah keterlambatan.

            Aku mengundang…sebuah hati untuk menemani, sebuah senyum untuk menghangatkan – bukan jiwa – melainkan  hanya seonggok daging yang nyawanya bahkan tak lebih berharga dari sebuah kotak pembungkus emas. Jauh dalam batinku aku bertanya, mungkinkah jika hati yang sama datang saat ini? Jika saja…mungkin…

 

November 2014

 

Suasana tempat kerjaku selalu riuh ramai saat malam hari. Tempat itu adalah tempat paling menyenangkan – setidaknya setiap orang yang kutemui selalu berkata begitu. Sedangkan menurutku tidaklah selalu seperti yang mereka katakan. Meski semua yang ada disana adalah keluarga dan sudah menjadi bagian dari hidupku, tapi sedikit banyak aku mulai merasa lelah dan jenuh. Sampai pada awal November…sesuatu yang tak biasa telah kutemui – sesuatu yang membunuh semua kebosanan yang terkutuk.

Dengan berani, aku beranjak dari zona nyamanku dan berjalan mendekati Han – tentu saja saat itu aku belum tahu namanya – yang sedang bincang santai dengan kawan-kawannya. Mereka menyambutku dengan ramah – ya, semua orang memang selalu senang saat bertemu denganku.

Saat kami sedang berbicara, diam-diam kupandangi dia. Dan entah kenapa aku pun menangkap Han yang – sengaja atau tidak – tengah menatapku hingga kami bertemu pandang. Aku selalu menunggunya untuk tersenyum, memamerkan tiap detail deretan giginya yang agak berantakan. Memperhatikan bagaimana matanya mengedip, bagaimana ia memandangi dan mengajakku bicara dengan sopan – berbeda dengan lelaki lain, bagaimana saat tangannya menggenggam gelas…apa yang dilakukan olehnya adalah yang berbeda, berbeda dari yang biasa dilakukan oleh pria lain, dan itu tak pernah jadi membosankan.

Waktu terus berjalan, sayangnya aku tak bisa banyak berbincang dengan mereka semua – termasuk Han – karena saat itu aku harus segera kembali melakukan pekerjaan yang sudah hampir empat tahun kulakoni disini. Tapi betapa beruntungnya aku saat Han sempat menyerahkan selembar kartu nama miliknya padaku sesaat sebelum aku beranjak pergi.

 

“Ha – ha – lo ?” saat itu aku benar-benar nervous ketika mendengar suaranya saat menjawab telponku.

“Ya? Siapa?” ia balik bertanya padaku dan itu tentu saja membuatku bingung untuk menjelaskannya.

“Saya…kemarin…em, kartu nama…” jelasku tergagap-gagap.

“Ah! Angel? Hei! Kamu masih ingat saya? Hahaha, saya pikir kamu nggak akan pernah nelpon saya.” Jelasnya diselingi tawa yang ringan.

Aku menghembuskan nafas, merasa lega karena justru ia masih ingat tentangku. Apalagi saat aku tahu bahwa dia seolah menunggu telepon dariku.

Setelah perbincangan di telepon itu berlalu, kami memiliki lebih banyak hal untuk dibicarakan. Aku tahu siapa namanya…bagaimana semua orang memanggilnya, seperti apa pekerjaannya, darimana ia berasal dan beberapa hal yang aku pikir itu adalah privasinya. Beberapa minggu setelah kami saling mengenal, ia juga sering mengajakku pergi walau hanya pada jam makan siang.

 

“Jujur, saya masih agak aneh juga karena kamu mau pergi makan siang dengan saya.” tanyanya pada satu kesempatan di kali pertama kami makan siang.
Aku hanya tersenyum, merasa konyol, karena tidak biasanya aku menemani tamu di luar jam kerja.

“Apa karena itu saya?” tanyanya lagi, kali ini dengan sangat percaya diri.

“Hmmm, mungkin karena kali ini kamu beruntung?” aku balik menanyakan pendapatnya.

Lalu kami tertawa, meski harus terhenti saat seorang pedagang bakso datang membawa pesanan kami. Aku menikmati setiap waktu dengannya, di setiap kesempatan makan siang atau berbincang dengan kopi di sore hari.

 

Meski lewat perkenalan yang sangat singkat, namun sejak saat itu aku tahu Han telah menghidupkan kembali sebuah hati. Aku merasakan sebuah rindu…rindu yang sedari dulu sangat aku takuti. Meski di lain sisi, aku telah menemukan jiwaku seolah terjebak di dalamnya dan enggan untuk beranjak kemanapun – hingga saat ini.

 

“Angel… Kamu pernah nggak sih berpikir untuk hidup dan mencintai pria yang hati kamu sendiri cintai?” ucapnya pada – seingatku beberapa hari yang lalu saat kami bertemu.

“Kenapa?” aku balik bertanya, karena apa yang dia tanyakan itu mulai terdengar aneh.

“Aku pikir setiap dari diri kita selalu punya waktu untuk berhenti ‘mencari’…” jelasnya.

 

Aku hanya diam. Menatapnya yang justru sedang menatap ke arah yang lain – mungkin danau biru yang saat itu berada tepat di depan kami. Tidak ada yang tahu bagaimana perasaanku saat itu. Layaknya dicekik oleh tali sutera, aku tidak berani untuk merasa bahagia setelah kalimat itu meluncur dari bibirnya.

 

“Kamu nggak pernah memikirkan itu?” pertanyaan itu lalu membuyarkan lamunanku.

“Kamu bilang…’berhenti mencari’?” tanyaku tak berani menatap wajahnya.

“Angel…” ucapnya seraya merengkuh kedua pundakku dengan tangannya, “…perempuan yang membawa mimpi baru dalam hidupku…aku mau kamu nggak lagi tinggal disana. Aku juga ingin membawa harapan baru untuk hidup kamu. Bolehkan aku, Angel..”

“Han…Meskipun sebelumnya aku selalu kecewa karena ayahku sendiri adalah orang yang membuat aku terlibat dengan pekerjaan ini, aku selalu bersyukur karena aku punya kesempatan untuk tahu kalau laki-laki seperti kamu ini nyata. Seandainya aku tahu lebih awal, aku akan keluar dari dunia ini segera. Tapi aku rasa, ini udah terlambat Han… Aku terlanjur masuk terlalu dalam sampai aku nggak akan pernah bisa keluar lagi.” Jelasku yang saat itu benar-benar merasa menyesal atas diriku sendiri setelah bertahun-tahun aku menyia-nyiakan waktuku untuk mengkhianati kenyataan bahwa sebenarnya dunia masih memiliki pria yang baik seperti Han.

 

“Angel…” Han menyentuh kedua pundakku. Aku mendengar apa yang dikatakannya hingga ia selesai berbicara. Pikiranku melayang hinggap di awan. Menggantung-gantung kegirangan, ingin menerima dengan tulus tentang semua yang diucapkan Han. Tapi aku segera menyadarkan diriku sendiri dan mengambil kedua tangannya untuk kugenggam.

 

“Han, sejak aku bertemu kamu, aku tahu bahwa sepertinya kamu akan bawa banyak perubahan untuk hidupku. Tapi Han, aku bahkan nggak pernah menginginkan lebih dari sekedar waktu kamu untuk aku. Kamu juga harus berhenti bermimpi. Apa yang kita punya sekarang bukan seperti apa yang kamu bayangkan. Kita nggak bisa jadi seperti apa yang kamu inginkan. Terlalu sulit untuk aku.”

“Angel, kamu nggak harus jawab sekarang… Kamu bisa pikirkan lagi nanti.” Ucap Han seolah memohon.

“Han, kita nggak bisa bermimpi…kita nggak pernah tertidur. Inilah kenyataan. Kita nggak bisa jadi yang lebih dari ini. Kamu harus sadar…”

 

Han diam. Angin menyentuh pepohonan menciptakan bunyi yang bergemerisik. Aku tak pernah tahu bahwa mungkin saja saat itu sebenarnya mereka sedang berusaha mengirim ilham buatku.

 

“Nggak akan mudah untuk aku pergi dari sana. Kamu pikir aku nggak pernah mencoba? Memutuskan untuk berhenti itu sama aja seperti aku menukar kebebasan dengan sebuah nyawa Han…” jelasku dengan penuh harap bahwa Han akan mengerti tentang pemikiranku.

 

Ucapannya itu membawa memoriku kembali pada satu tahun yang lalu, saat – mungkin – seorang pria lain juga memiliki niat yang sama dengan yang Han utarakan, namun dia harus mengganti semua itu dengan seluruh hidupnya. Tidak ada siapapun yang berani mengganggu atau menyentuh ‘wanita-wanita’ yang dilindungi seperti kami – setidaknya selama masih ada big boss.

 

Han masih diam. Tak ada jawaban untuk apa yang baru saja kutanyakan, seolah ia sedang menikmati dirinya berada dalam keheningan.

 

“Nggak mungkin juga kan kalau aku meminta kamu membayar kebebasanku dengan nyawa?” tanyaku kemudian, kali ini dengan sedikit senyuman.

 

Suasana tidak berubah sedikitpun. Masih hening. Angin berganti, membelai permukaan danau pada sore yang temaram. Matahari tahu waktu, setelah sepanjang hari tadi bercermin pada danau biru, ia akhirnya pergi berganti dengan awan-awan gelap.

 

Bersambung di  Cerpen : Terlambat – Part 2

Untuk kamu yang (mungkin) sedang berpikir…

Aku adalah orang yang tidak pernah sedikitpun akan goyah dengan apapun itu yang menjadi pilihanku. Dan kamu…telah memilih aku yang seperti itu. Ini bisa saja menjadi sebuah kesalahan atau mungkin tidak…hanya tergantung dari bagaimana kamu memiliki sudut pandang tentang itu.

Mungkin kamu tahu, bagaimana aku pernah melakukan kesalahan itu dengan baik di masa lalu. Tapi…jika aku diberi kesempatan untuk bisa memperbaiki hal-hal dalam hidupku, aku akan membiarkan hal yang sama terjadi pada bagian yang salah itu, keep what I have choosen.

Semakin masa itu berlalu, aku tahu bahwa saat itu bukan hanya ketakutan yang membuatku bertahan dalam masa sulit itu, tapi aku bertahan karena keteguhan dan keyakinan kalau semua hal pasti bisa diperbaiki, semua masalah pasti bisa diselesaikan sebelum akhirnya kita bisa hidup tenang, bahagia, dan dengan bangga bisa mengenang semua hal yang telah dilalui; menghunuskan pedang pada ilalang.

Kalau kamu bilang aku keras kepala, aku akan sangat bangga dengan kebatuan itu. Sungguh. Karena kamu tidak perlu cemburu atau ragu dengan apapun yang mungkin orang katakan. Ini adalah tentang keyakinan dan sejauh mana kita bisa saling mempercayai.

Biarkan aku bertanya 2 hal saja; Bagaimana kamu percaya dengan hubungan ini? Dan sejauh apa kepercayaan tertinggimu?

Bagaimana aku percaya dengan hubungan ini adalah karena aku menjalaninya dengan kamu, dan dimana letak kepercayaan tertinggiku terhadap kamu? Well, dulu mungkin kesetiaan…

Apapun itu, walaupun mungkin kita terlahir sebagai orang yang — menurut orang lain– adalah mangkok dan tutupnya, semua tetap akan berakhir saat mangkok tidak percaya pada dirinya sendiri bahwa ia telah memilih tutup yang pas. Bagaimana cerita tentang seekor keledai, kakek tua dan cucunya berakhir? Itu akan menjadi lelucon bagi siapapun yang tahu.

Dan aku…jika aku memilih jalan yang sama setelah apa yang kudengar dari orang lain, mungkin aku sedang menertawakan keputusanku sekarang. Apapun keputusannya, meskipun itu menyakitkan, setidaknya itu adalah sebuah keputusan yang kamu buat sendiri. Disitu aku nggak akan pernah goyah dengan dan karena apapun.

Aku tidak pernah tahu apa yang mereka dengar tentang aku. Mungkin saja maksud dari semua sikapku bisa mereka terima dengan baik, atau bahkan mereka tidak bisa menemukan kebaikan sama sekali. Semua keadaan, hanya kita yang tahu, atau mungkin hanya aku atau kamu yang tahu.

Mungkin ini seperti saat aku memberikan uang 1 juta untuk kamu. Tanpa bicara atau apapun, aku hanya memberikannya. Apa yang harus kamu lakukan? Menyimpan semua uang? Atau menghabiskan semuanya? Semua hal bisa terjadi tanpa komunikasi. Bisa saja kita saling mengerti, atau mungkin saling membenci.

Kamu ingin memikirkan kembali karena ini?

Buatku wajar kalau dua orang yang berbeda, saling berdebat tentang ini dan itu, kadang memaki satu sama lain. Tapi toh selalu ada titik dimana kita akan saling mencari, karena aku tahu, satu orang yang kubutuhkan adalah musuh, teman, kekasih, partner in crime, pria yang baik tapi juga seorang pengecut…satu orang yang memiliki paket yang lengkap, satu orang yang tanpa topeng apapun, ia menjadi sebagaimana dirinya…dan membuatku tidak perlu menyembunyikan apapun darinya.

Tidak ada pujian. Ini bukan tentang kamu sempurna atau tidak sebagai manusia. Ini adalah sebesar apa kita saling membutuhkan, saling menggantikan, saling mencari dan menemukan.

Aku mungkin wanita ter-kasar, ter-galak, ter-harimau, ter-judes, ter-bawel, dan ter ter yang jelek lainnya di matamu. Sebagai orang yang perfectionist, mungkin aku sering mengeluh tentang banyak hal kecil tanpa sebuah penyampaian yang baik. Aku akan marah-marah saat kita sedang jalan di mall dan memperdebatkan seorang wanita dengan baju hitam-hitam yang menurutmu adalah security, tapi menurutku dia hanya karyawan biasa. Kita akan bertengkar sepanjang jalan karena hal sebesar upil itu. Atau kamu akan banyak mengomel saat aku lebih suka nonton film Korea dibanding harus masak. (Bagiku) Itu semua adalah hal terbodoh yang sangat wajar terjadi.

Kamu akan memikirkan kembali karena ini?

Setelah kita hidup dengan ‘banyak anak’, pertarungan akan semakin panjang. Bukan hanya tentang perut buncit, atau tentang kamu yang menggoda hidungku yang pesek, atau tentang makanmu yang berisik, atau tentang kentut sembarangan, kita akan mulai memperdebatkan tentang bagaimana caramu mengorok membuatku tidak bisa tidur, atau bagaimana tidak teraturnya caramu menggantung baju, atau bahkan protes tentang kamu yang tidak pernah mengembalikan gunting kuku ke tempat asalnya. Kamu juga akan sangat membenci aku yang selalu mengeluh repot untuk hal-hal yang sangat kecil.

Lalu, pada saat-saat seperti itu, apakah kita harus berpisah saat semua temanmu memintamu begitu?

Untuk kamu yang (mungkin) sedang berpikir…pasangan lain punya jutaan alasan yang lebih serius sebelum memutuskan untuk berpisah..

 

 

-elkafeni

 

Fiction : Memories

Aku ingat. Dulu dia adalah mimpi bagiku. Namun akhirnya kami bertemu dengan cara yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Tapi… ingatan ini belum semuanya.
Aku juga ingat. Dulu aku pernah membencinya dalam diam, memakinya dalam amarah, karena dia benar-benar bodoh dan dingin.
Tapi ini juga bukan semua yang aku miliki.
Aku masih ingat saat aku menatapnya dengan cara yang berbeda, saat kami berbicara dengan cara yang berbeda, saat kami berjalan lebih dekat dan lebih dekat lagi. Saat kami mulai makan bersama, bercerita tentang satu sama lain…meski kadang sulit untuknya berucap, tapi aku tahu jika saja ada keraguan dalam ucapannya.

Dalam ingatannya, mungkin semua memori itu hanyalah sesuatu yang biasa, tapi bagiku, aku tak pernah pergi darinya, aku…tak pernah berada jauh dari sisinya.
Aku tidak pernah menjadikannya sebagai orang lain meski tentu saja baginya aku adalah orang asing. Pun aku tahu, baginya tidak ada sesuatu yang besar yang bisa kita harapkan dalam hidup ini. Karena semua ketidaksamaan yang kita miliki adalah mengenai keyakinan yang besar. Lebih besar bahkan jika kita sedang mempermasalahkan tentang Tuhan.

Jika saja ini hanyalah tentang jarak dan kesempatan. Semua bisa diciptakan, semua bisa dinantikan. Dalam hati kecilku, aku selalu mengharapnya… saat dimana kelak aku bisa mengulang semua memori, saat dimana semua memori itu tidak usah lagi hanya menjadi memori…
Saat dimana kami tidak perlu saling menunggu lagi, saat dimana aku bisa menyentuh jari jemarinya dengan kedua tanganku. Saat dimana kita tak perlu lagi menjadi mimpi untuk masing-masing tidur kita.

Dariku-Ingatanmu.

-elkafeni, May 21th 2016-

Kau

Ada satu senja

Satu mentari
Satu nafas
Satu hati
Ada mimpi yang kulalui
Harapan
Juga luka yang menyingsing

Fajar membangunkan malam
Matamu menidurkan pedih
Tidak ada kata pergi
Kuharap hanya tetap tinggal
Seperti derasnya air yang takkan meninggalkan sungainya

Kasih adalah damba
Tapi aku tak pernah meminta
Kecuali hanya dirimu
Yang lebih dari sekedar makna
Lebih dari ribuan binar
Bahkan menggoda seperti intan dan permata

Jika aku wanita biarkan aku singgah
Dipeluk erat dalam hatimu
Disentuh hangat oleh senyummu

Aku hanya akan singgah
Kecuali kau memaksa
Aku akan hidup selamanya dalam apapun itu duniamu

-lk..

Tentang Pria

Baru saja (tepatnya kemarin) PERSIB Bandung sebagai tuan rumah baru saja memenangkan pertandingan saat melawan Borneo FC. Sebelumnya Borneo FC sebagai tuan rumah memenangkan pertandingan 3 : 2. Untungnya PERSIB Bandung bisa mengungguli 2 : 1

Euforianya sungguh menyenangkan. Di Taman Film Bandung aku dan seorang, ehm teman dekatku *mulai sekarang mari secara officially kita sebut ‘pasangan’* ikut hadir nonton bareng pertandingan penentu ini. Tadinya kami nonton dengan nyaman di rumah, tapi saat sedang istirahat pertandingan, kami ngebut meluncur kesana.

Sesuai dugaan sih…disana suasana sudah ramai sekali. Jumlah motor yang parkir juga lebih banyak dari biasanya. Motor kami sampai parkir di pinggiran jalan. Tapi tidak kami pedulikan, karena buru-buru kami akhirnya berlarian untuk segera berada di depan big screen.

Dan tau?
Pengunjung Taman Film sepertinya menjadi 2 kali lipat lebih banyak dari saat pertandingan-pertandingan sebelumnya. Lewat sana susah lewat sini sesak. Daripada ketinggalan permainan akhirnya kami putuskan untuk menonton sambil berdiri di antara puluhan orang lainnya yang berdiri.

Baru kali ini aku rasakan nonton bola di tengah-tengah orang. Ramainya, teriakannya, bahkan saat akhirnya Persib mencetak sebuah goal, mereka yang tidak saling kenal pun saling toast satu sama lain, termasuk pasanganku ini.
Ada saat wasit memberikan kartu kuning pada team lawan, mereka kegirangan dan bertepuk tangan. Ada saat salah seorang pemain lawan melakukan — apa ya istilahnya — permainan fisik — pada pemain Persib, mereka juga ikut berteriak memaki dari sini. Hahaha. Aku tertawa sendiri.

Tidak pernah menyangka bahwa sebuah permainan seperti itu bisa membuat semua orang yang menonton memiliki emosi sebesar itu. Ada yang sampai menari-nari di atas motor milik orang lain, ada yang sampai berjoget-joget konyol, mencium kaos Persibnya saat goal kedua dicetak, sampai ada yang menggendongku ke atas juga *ssst itu yang dilakukan pasanganku*.

Tidak akan terpecahkan bagaimana bisa mereka merasakan kebanggaan dan seolah ada keterikatan batin seperti itu. Selain karena mereka adalah ‘urang Bandung’ tapi toh banyak juga yang tidak sehisteris itu tentang pertandingan ini.

Anyway, aku sudah mulai merasakan lagi degdeg ser nya nonton bola, setelah sekian lama. Dan harus kuakui ini menyenangkan, hingga membuat semua laki-laki rela menghabiskan waktu malam minggu dengan wanitanya untuk si bola bundar ini.

Selamat untuk Persib Bandung
Kuberi nilai 9,5 untuk sepak bola

-lk..

A Storytelling: Sebuah Pertemuan (2)

Kadang kami berbicara sedikit melenceng tentang ini dan itu. Bukan masalah, karena aku pun biasa begitu dengan customer maupun supplierku yang lain. Hanya salah satu bentuk hospitality yang biasa kami -para marketer- lakukan.

“Jadi biasanya teteh ini yang cari order sendiri?” tanyanya di tengah kegiatan kami yang mengawasi berputarnya mesin. Dia tetap memanggil ‘teteh’ meskipun tahu bahwa aku lebih muda darinya.

“Saya nggak terlalu sih…dari awal saya masuk, semua customer memang sudah ada… Tinggal berjalan aja.” jelasku.

“Ohhh, tapi kalau ada order atau semacamnya bisa langsung contact siapa? Teteh? Kali aja saya ada bakal order gitu.. Hehehe.”

“Boleh boleh…”

“Oiya, ada kartu nama gitu nggak?” tanyanya seolah tau seorang sepertiku selalu memiliki kartu nama untuk memudahkan orang menghubungiku.

“Ada ada…” ucapku sambil melangkah pergi menuju sebuah meja dimana kusimpan notebookku yang terdapat beberapa kartu nama persediaan disana.

Semenjak menjadi seorang marketer, aku mulai membiasakan diri untuk menyimpan beberapa buah kartu nama di dalam dompet, notebook, bahkan tasku. Supaya kalau satu barang lupa terbawa, aku masih bisa mendapatkan kartu nama dari tempat penyimpanan yang lain. Hehehe.

“Ini..” ucapku saat aku kembali.

Dia menerimanya dengan sikap yg normal seperti customer-customerku yang lain.

“Oiya, mau pin bbm? Kalau mau biar ditulis sekalian.”

“Oh boleh boleh teh..” diserahkannya kembali kartu namaku untuk ditulisi pin bbm.

Entah kenapa aku sendiri menawarkan pin bbm, padahal biasanya aku tidak pernah senang ada orang yang tidak kukenal memiliki kontak pribadi milikku.
Mungkin aku hanya sedikit penasaran dengan pria ini. Mungkin…

Atau mungkin aku sedikit demi sedikit mulai membuka mata untuk sebuah hati?

Ada kalanya saat sedang berjalan, kita pun melihat-lihat dan tanpa sengaja tertarik pada sesuatu. Walau hanya sekedar berhenti melangkah dan menatapnya lebih lama, aku rasa itu bisa disebut sebuah ketertarikan

Hari tidak pernah menunda mentari dan bulan bintang untuk berganti. Semua tetap berjalan. Tanpa rencana, tanpa dugaan apapun bahwa dia akan melakukan suatu hal yang membuatku sedikit shock.
Tepatnya Jumat, aku kebetulan berhalangan hadir ke tempat kerja karena merasa kesehatanku kurang baik. Dia yang…saat itu sudah mulai intens bercakap denganku via messenger, tak luput bertanya tentang rencana apa yang akan kulakukan pada hari itu.
Kujelaskan bahwa aku sedang sakit dan dia menawarkan untuk datang menjenguk yang serta merta kutolak mentah-mentah.

Meski begitu lantas tidak menyurutkan tujuannya untuk tetap bertemu denganku. Siang harinya, saat aku baru saja bangun dari tidur, kulihat banyak panggilan tak terjawab begitu juga pesan-pesan di messenger darinya.

“Saya udah di deket masjid yang deket terminal angkot” ucapnya di salah satu pesan.

Cepat-cepat kubalas pesannya setelah tahu pesan itu dikirimkan kira-kira 2 jam sebelum kubaca.

“Dimana?”

“Eh, lagi di customer.. Hehe”

“Maaf ya tadi lagi tidur. Kenapa nggak ngasih tau kalo mau kesini? Kasian banget nungguin.”

“Hehe nggak apa-apa teh. Lain kali kesana lagi. Cepet sembuh ya.”

Cukup senang tapi merasa ngeri juga saat tau bahwa dia bisa sampai datang ke dekat-dekat rumahku. Bagaimana dia tahu akupun belum mengerti.

Tapi kegagetanku tidak berhenti disana, karena esok harinya dia benar-benar datang lagi dan berhasil bertemu denganku walau tidak di rumah melainkan di masjid dekat rumah.

to be continue..

story & posted by : elkafeni

A Storytelling: Sebuah Pertemuan

Tidak pernah ada dalam sejarah, Tuhan tidak pernah mendikte setiap langkah dalam gerak kita. Semua jalan yang kita tapaki adalah karena Dia memilihkan jalan itu untuk kita. Seperti halnya aku…disini…bercerita…

Suatu hari di tempat kerja saat aku mau tidak mau harus lembur untuk ikut memonitor hasil print produksi. Aku bekerja di sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan beberapa perusahaan garment yang mengeksport beberapa brand pakaian ternama. Kalau tidak salah hari itu adalah hari ke sepuluh mesin automatic yang baru kami beli, beroperasi. Seperti halnya bayi yang baru bisa berjalan, mesin ini harus selalu diawasi cara kerjanya, termasuk pula operator yang mengatur kerjanya mesin. Memang lelah saat harus ikut memonitor kualitas hingga larut malam, tapi toh lebih baik mencegah daripada memperbaiki hasil print yang rusak.

Hari itu kebetulan turut pula beberapa teknisi mesin untuk lembur. Meski begitu jam lembur tetap terasa membosankan. Sampai aku tahu ada seseorang yang mulai menarik perhatianku. Salah satu teknisi yang, ehm, ‘kutandai’ ternyata datang kembali untuk ikut lembur. Hehehe. Tentu jadi penyemangat tersendiri dong. Namun saat itu mungkin karena aku belum terlalu ‘gimana’ jadi semua yang kurasakan bisa terkontrol oleh akal sehat.
Beberapa kali aku balas menyapa saat ia terlebih dulu menyapaku. Hanya sapaan biasa dari seorang supplier pada customernya. Belum terasa lebih.

Kadang kami berbicara sedikit melenceng tentang ini dan itu. Bukan masalah, karena aku pun biasa begitu dengan customer maupun supplierku yang lain. Hanya salah satu bentuk hospitality yang biasa kami -para marketer- lakukan.

“Jadi biasanya teteh ini yang cari order sendiri?” tanyanya di tengah kegiatan kami yang mengawasi berputarnya mesin. Dia tetap memanggil ‘teteh’ meskipun tahu bahwa aku lebih muda darinya.

“Saya nggak terlalu sih…dari awal saya masuk, semua customer memang sudah ada… Tinggal berjalan aja.” jelasku.

“Ohhh, tapi kalau ada order atau semacamnya bisa langsung contact siapa? Teteh? Kali aja saya ada bakal order gitu.. Hehehe.”

“Boleh boleh…”

“Oiya, ada kartu nama gitu nggak?” tanyanya seolah tau seorang sepertiku selalu memiliki kartu nama untuk memudahkan orang menghubungiku.

“Ada ada…” ucapku sambil melangkah pergi menuju sebuah meja dimana kusimpan notebookku yang terdapat beberapa kartu nama persediaan disana.

Semenjak menjadi seorang marketer, aku mulai membiasakan diri untuk menyimpan beberapa buah kartu nama di dalam dompet, notebook, bahkan tasku. Supaya kalau satu barang lupa terbawa, aku masih bisa mendapatkan kartu nama dari tempat penyimpanan yang lain. Hehehe.

“Ini..” ucapku saat aku kembali.

Dia menerimanya dengan sikap yg normal seperti customer-customerku yang lain.

“Oiya, mau pin bbm? Kalau mau biar ditulis sekalian.”

“Oh boleh boleh teh..” diserahkannya kembali kartu namaku untuk ditulisi pin bbm.

Entah kenapa aku sendiri menawarkan pin bbm, padahal biasanya aku tidak pernah senang ada orang yang tidak kukenal memiliki kontak pribadi denganku.
Mungkin aku hanya sedikit penasaran dengan pria ini. Mungkin…

to be continue..

story & posted by : elkafeni

Kisah di Dasar Jurang

Aku adalah tokoh yang kalah dalam drama. Terhempas karena watakku sendiri. Terlalu dingin dan laif pada perasaan. Antagonis, berhasil mendamparkanku pada jurang tak berlandas. Kedua kakiku membelah dan mererobos angin di lubang yang buta. Sama butanya seperti aku. Semua warna yang pernah kulihat, bebauan yang pernah kucium, dan segala bentuk yang selama ini kuraba, hilang tanpa sisa, selain tebing dan bebatuan tajam yang menikam. Seperti orang hidup yang menjalani kehidupannya dalam peti mati. Jangankan masa depan, masa kini pun bayangan hidupnya masih abstrak. Tak ada keinginan, cita-cita, dan ambisi. Segala keindahan yang pernah kudapat, kulepas begitu saja demi menghanyutkan diri dalam curamnya masa lalu.

Aku menyerah pada bulan-bulan yang sendu. Hidupku seolah tiada masa. Malam dan pagi, hujan dan kemarau, semua meninggalkanku dalam ratapan. Sampai aku diguncang oleh suara indah yang alunannya menggema, menjalari bebatuan tajam yang membangun tebing ini.

“Bukankah kita pernah saling mengenal?”

“Betul, kita pernah saling mengenal.” Balasku dengan senyum yang terkembang begitu tulus dari kedua belah bibirku.

Aku gembira, hingga aku merasa bahwa kerumitan dan ketegangan ini akan segera berakhir. Meski tak ada wujud yang bisa kupandangi, aku tetap tahu bagaimana dirinya. Lembut dan sempurna, walau hanya suaranya yang nampak.

Aku yang mengaguminya, perlahan mampu mewarnai lembar-lembar hati yang abu-abu dengan warna merona darinya. Jingga dan biru mulai terlihat berbeda. Bebatuan runcing di antara tebing yang  menghimpitku, mulai terasa longgar. Pagi dan malam mulai kubangun kembali dalam hidupku.

Ada banyak macam hal yang mulai kupercayakan padanya. Tentang kebodohan, dan egonya seorang manusia; juga sebuah pengakuan tentang semua hal itu. Dan hal indah yang bisa kunikmati dari hal itu adalah tawa dan nasehatnya.

“Kekeliruan memang terjadi pada siapa saja. Suasana dan keadaan kadang mendorong untuk bertindak. Hati , kadang jangan terlalu diikuti. Hidup itu keras, jatuh itu sakit. Tapi yakinlah dan tegar, kita masih punya Tuhan untuk pegangan.”

Kalimatnya terdengar seperti nyanyian yang alunannya menggema ke seluruh tebing itu. Begitu merdu…dan bisa kurasakan senyumnya yang hangat dan menenangkan. Dialah kawan terbaik yang pernah dan ingin kumiliki – yang dengan lembut mampu mengembalikan ketegaran yang sudah lama pergi, hingga segala haru biru yang menggunjing jiwaku…semuanya hanyut dan larut. Dan ucapan ‘terimakasih’ ku mengantarkannya kembali pada malam dalam dunianya.

*       *       *

Aku memang manusia yang mudah menyerahkan diri pada cinta, yang ketika bahagia akan melupakan kesedihan, dan ketika menderita akan melupakan kesenangan. Tak pernah aku berpikir bahwa aku akan menaruh hati pada lelaki yang dia sendiri telah memberikan hatinya untuk dewi yang lain – dewi yang begitu ingin kucaci maki sepuas hati. Yang pernah menjadi anjing setia, lalu menjelma seperti singa yang mengancam.

“Sedekat apa kamu dengannya?”

“Awalnya begitu dekat. Kaki kami selalu berpijak di atas jalan yang sama, kami membangun mimpi dan harapan yang sama. Aku adalah bayangannya, dan dialah bayanganku – setidaknya aku dan dia pernah mengalami itu. Tapi kemudian kami begitu marah dan pernah ingin menghabisi satu sama lain.” Ucapku.

“Haruskah itu? Dia juga temanku.”

Suara merdu itu tiba-tiba menjelma jadi gelegar petir. Aku tertawa sendiri, tak percaya dengan apa yang kudengar. Namun hatiku terus bertanya…bertanya pada diriku yang juga tak mampu memberikan jawaban apapun. Mataku nyalang memandang ke seluruh penjuru tebing. Mencari-cari sesosok yang hanya bisa kudengar suaranya. Bisakah kau menatapku? Tidakkah kau lihat betapa pucat wajahku?

“Teman? Benarkah?” tanyaku dengan suara yang bergetar menahan marah yang entah tertuju pada siapa.

Aku mengharap bisa mendengar jawaban yang berbeda.

Tapi rupanya, “Ya” dan dunia ini benar-benar telah hancur rasanya.

Aku begitu tegang menghadapi kenyataan pelik itu. Benar-benar ingin marah, tapi pada siapakah kuarahkan semua itu? Takdir bukanlah lawan yang imbang untuk perdebatan ini. Dunia begitu angker, menyeramkan. Membuatku takut dan ingin segera mati.

Banyak kata yang berdesakan dalam hatiku. Amarah-amarah itu tak pernah bersuara, mereka semua hanyalah pengecut yang hanya mampu diam dalam damainya kebingungan.

“Mungkin dia akan membenciku jika kamu tidak meminta maafnya. Selain tentang hal itu, untuk sementara aku tidak ingin membicarakan apapun denganmu. Seburuk apapun keadaan  itu, tetaplah memandangnya dari segi yang positif. Bila pesan itu bisa kamu terima, aku akan bangga padamu – sampai mati.”

Suaranya hilang dan menjadikan tebing curam ini makin lengang dan mengerikan. Benarkah dia pergi dan meninggalkanku yang sungguh putus asa ini? Seorang diri dan tergeletak pada sebuah batu – tanpa segores pun luka, namun dengan hati yang berdarah dan pedih.

“Segini sajakah?” aku bergumam dengan tawa yang tertuju untuk diriku sendiri.

Tak ada jawaban. Aku tahu dia pergi, tapi aku menunggu.

Tidakkah dia lihat apa yang kurasakan dalam hatiku? Sosok seperti apakah dirimu, menghakimi lalu meninggalkanku tanpa kau tau apa yang terjadi? Kenapa harus dirimu? Kenapa bukan orang lain yang kutemui? Bisakah kau jawab pertanyaan ini?

Aku memandang cahaya yang berada jauh di atas sana – di mulut jurang tempat dimana aku memenjarakan diri dan putus asa. Kucoba mengulurkan tangan, meraih setitik cahaya yang sangat jauh hingga terlihat seperti sebuah bintang dalam kisah kehidupan nyata yang indah. Namun kemudian aku tersadar dan merasakan lututku yang menjadi lemah. Aku terduduk, lalu berteriak sekencang yang kubisa. Sayangnya sakit itu takkan mudah lepas. Ia begitu nyata dan terasa lebih memilukan dari yang pernah terjadi padaku sebelumnya.

Mereka saling bersahutan – dendam dan ketulusan bergumul dalam jiwa ini – menjadikanku merasa lebih lelah lagi. Kubiarkan mereka saling menyalahkan sementara dengan lemahnya, aku kembali tergeletak. Bahuku bergetar, dadaku mulai bernafas sesak. Aku berbaring dan mulai merintih. Kurasakan pendar-pendar air mata di antara wajahku. Kulihat mereka mulai berjatuhan…melengkapi kesendirianku yang makin pilu berkat mereka. Tak terdengar apapun lagi dalam tebing itu selain tangisanku sendiri.

*       *       *

Hatiku yang enggan disapa

          Tiba-tiba ingin pula ceritera diri

          Kembali damba akan suaramu

          Dalam angan sendiri

Aku masih terkulai dalam keangkuhan sekaligus ketidakberdayaanku melawan garis hidup. Padahal aku ini adalah seorang pembangkang sejati yang selalu mampu memungkiri kenyataan, bahkan perasaanku sendiri. Di balik lemahnya ragaku, tak sedikitpun aku berhenti memikirkan ketidakadilan ini – tentang kemarahanku, tentang rasa benci ini – kenapa semuanya seolah sedang menyalahkanku? Padahal aku sendiri dibuatnya terdampar, berada di sudut paling curam dan dalam, tapi kenapa pula mereka masih berusaha menyudutkanku?

Aku makin tak berdaya ketika kenyataan menuntunku pada kidung penantiannya pada dewi itu. Ungkapan-ungkapan cinta yang menenangkan, bait-bait ketulusan…mengalir begitu saja dari mulutnya. Tanpa ada yang tersembunyi, diungkapkan seluruh perasaannya. Suara-suara itu bersatu padu dan bergema agung di sekitar penderitaanku, terdengar sumbang dan menyakitkan. Namun tak ada hal lain yang kuingat selain kemalanganku sendiri. Tubuh yang selalu utuh ini tak mampu menyembunyikan jiwa yang kotor dan rapuh.

Lagi-lagi hati ini tak mau bicara

          Dan dunia enggan pula dirayu

          Terserah..!

          Seakan semua itu tak peduli

          Dan aku bernyanyi tanpa nada

*       *       *

Tanpa dia tahu, aku mulai meninggalkannya. Bukan keinginanku untuk mundur selangkah demi selangkah. Tapi siapa yang akan tetap bertahan dalam keadaan menyedihkan seperti ini? Aku tidak ingin berkecimpung lebih lama lagi di antara cinta orang yang kukagumi pada orang yang kubenci. Aku juga tidak ingin menjadikan cinta dan takdir sebagai korban dari konspirasi ini. Mereka bekerja bersama Tuhan dan rahasia-rahasia-Nya.

Aku menertawai diri yang masih belum bisa menerima kenyataan yang baru saja kuterima. Lalu apa? Rasa sakit ini tidak akan hilang dengan semudah itu. Kebencian yang tersimpan bukanlah rasa yang kutanamkan dengan sengaja, ia tumbuh begitu saja karena salahnya – ‘dewi’-mu itu – walaupun memang aku sendiri yang tidak pernah mencoba ikhlas menerima perkataan-perkataan yang menyakitkan dari seseorang yang dulu pernah menjadi sahabatku itu. Tapi lelaki itu – dirimu – yang sanggup kau katakan hanyalah pembelaan untuk pihak yang kau cintai. Dan aku? Tentu saja diabaikan, tanpa dia peduli seburuk apa hidup yang kujalani selama ini bersama rasa pahit menggenggam kebencian. Ataukah dia pikir hidupku berjalan normal dengan penuh bahagia?

“Jika kamu cukup bodoh untuk meninggalkanku, semoga aku cukup pintar untuk merelakanmu.” Tiba-tiba dia datang bersama kalimat itu.

Apalagi kali ini? Kupikir kehadiranku tidak lagi menjadi keinginannya. Meski belum sepenuhnya mempercayai ini semua, aku tak kuasa menahan diriku untuk menyapanya. Aku benar-benar merasa rindu hingga tersenyum karena suara itu terdengar lebih nyata dari sebelumnya. Apa yang kau rasakan? Bukankah kau juga menginginkanku?

“Bukan itu maksudku, masih terlalu dini untukmu bisa mengerti. Bisakah pikirkan kembali? Kali ini pikirkan lagi dengan hatimu. Pahami aku, pahami perasaan, juga keinginanku. Jangan terlalu buru-buru. Hati ini butuh waktu, beri dia waktu. Hati ini butuh ruang, beri dia sedikit ruang. Untuk tersenyum, lalu tenang, hingga benar-benar sanggup melupakan semua hal yang menyakitkan.” Seketika kuucapkan semua kemarahanku itu untuk menyambut kedatangannya.

Dia tertawa, dan kubayangkan senyumannya setelah itu. Aku ikut tersenyum dan kembali mendengar kisah-kisahnya lagi. Tapi rasanya kegembiraan itu amat canggung jika aku mengingat kembali bagaimana isi dalam hatinya.

“Aku ingin tidur, tapi kegelisahan terus menakutiku.”

Dia-kah yang ingin kamu ceritakan?”

“Jika ‘ya’, kamu akan membenci ini?” tanyanya.

“Jika ‘ya’ kamu tetap takkan peduli.”

Hening sejenak.

“Aku sedang berusaha untuk tidak membencinya.” Ucapku lagi.

“Aku mendengarnya…dia menangis.” Suaranya berubah, terdengar lebih sayu dari sebelumnya.

“Lalu apa yang kamu lakukan? Bukankah kamu bisa mengobati luka siapa saja?” tanyaku, lalu kembali teringat pada petuah-petuah yang diucapkannya untukku dulu.

“Ya, kecuali dia.”

Jurang istanaku kembali menjadi hening.

“Aku begitu peduli tentang dirinya. Tapi aku merasa salah jika harus terus-menerus membayangi dia. Dalam masa-masa sulit, tentu saja dia selalu menanti perhatian dan pengertian dari seseorang, sayangnya bukan aku orang yang dia inginkan untuk memberikan itu semua. Aku jadi lumpuh.”

“Rupanya kita berdua sama.” Ucapku dalam hati.

Aku mendengar kalimat-kalimat yang dia kisahkan. Aku tersenyum sesekali dan melontar tanya meski hanya sepatah kata. Batinku mulai heran tentang kenyataan dan garis takdir-Nya. Seperti air yang mengisi sungai-sungai, kami mengalir begitu saja mengikuti likuan arahnya. Seperti pula halnya sebuah kotak dadu, tak ada yang tahu berapa titik yang akan muncul setelah ia dilambungkan dan jatuh.

Berhari-hari dia terus bercerita. Meski seringkali aku ingin tahu tentang bagaimana perasaannya, pada akhirnya semua itu hanya menjadi sebuah pertanyaan. Kadang aku berpikir, mungkin seperti itu akan lebih baik. Tetap tidak tahu apa yang dirasakannya, daripada harus mendengar penjelasan itu dan membuat ruang hidupku makin sesak. Tetap diam atau mengetahuinya, kita takkan pernah untuk saling memiliki.

Aku tetap setia mengikuti setiap naskah yang sudah menjadi bagianku. Kadang aku merasa terhibur karena suara indahnya yang menyapaku. Tapi seringkali aku mengalami detik-detik dimana aku merasa dicambuk oleh emosi dan perasaanku sendiri. Namun aku tak ingin berada lebih lama lagi dalam tempat yang menyedihkan ini. Aku enggan menelan luka yang lebih pahit dari ini.

Aku pun berlalu tanpa beranjak dari tempatku. Aku menyerah pada pertanyaan yang masih ingin kucari jawabnya hingga kini. Tapi biarlah, biar saja menjadi teka-teki. Supaya aku bisa dengan setulus hati mengakhiri apa yang belum dimulai terlalu jauh. Supaya aku bisa dengan setulus hati menertawai kekalahan dan perasaan ini.

-lk.. (Dec 6, 2011 – latepost)