Coffee…helping to make a friend

Weekend ini adalah salah satu dari beberapa weekend yang paling mengesankan yang pernah saya lewati. Ditemani salah seorang yang special menghabiskan waktu jalan-jalan dan bercerita — meskipun semua gadget harus saya sita dulu sebelum akhirnya kami bisa fokus bicara. Bersyukur karena saya seolah memiliki teman langganan…teman kontrak yang siap melangkah pergi berpetualang ke tempat yang sama. Untungnya dia punya hobi yang sama. Bermusik, photography, berwisata, olahraga (walaupun malas), dan…kopi
Hanya beberapa hal kecil dari puluhan hal yang kami berdua senangi.

Sayangnya sebuah komitmen membuat saya sedikit -hanya sedikit- membatasi dan memilih dengan siapa saya pergi. Bukan sebuah peraturan yang dibuat oleh sebelah pihak, tapi saya sudah terbiasa setia dengan komitmen tidak tertulis yang saya ciptakan sendiri. Meskipun terkadang saya rindu melakukan banyak hal sendirian; berjalan sendirian di Braga, mendapatkan satu tiket nonton film action sendirian, ngopi sendirian, bengong sendirian, menjelajah Semarang sendirian, dan semua hal yang aneh-aneh yang biasa saya lakukan sendirian juga. Kadang juga saya rindu dengan teman-teman baru yang saya dapat dari kesendirian itu… Teman baru saat camping di Pulau Semak Daun-Kepulauan Seribu yang menjadi teman menatap langit dengan musik ombak lautan, teman baru saat saya mengunjungi Gedung Kesenian Rumentang Siang yang juga menjadi teman ngopi dan bercerita ini itu, teman satu organisasi sukarelawan yang jadi teman saya mendaki Gn. Burangrang, teman sesama jomblo yang selalu siap siaga menjemput saat saya pulang kerja kemalaman… Pergaulan yang luas dan saya tidak pernah membuat batasan apapun.

Berawal dari rasa penasaran teman saya untuk mencicipi manual coffee yang prosesnya menggunakan teknik Vietnam Drip *katanya*, akhirnya salah satu teman pecinta kopinya merekomendasikan sebuah tempat yang akhirnya kami datangi. Awalnya hanya berdua hingga si rekomendator *bener gak sih istilahnya?* itu datang.
Setelah beberapa lama bicara ngalor ngidul, baru hari ini (lagi) saya seolah mendapatkan satu teman baru yang juga menyenangi hal yang sama. Ini membuat saya lebih bersemangat selain karena kami mencoba rasa kopi ‘hasil percobaan’ di salah satu coffee house di Bandung: Cultivar Coffee House, dari barista nya langsung *eh barista kan ya? Tolong koreksi kalau salah. hehe*
Bercerita banyak pula tentang bagaimana saat dia -yang kebetulan juga- pernah belajar membuat kopi; tentang mesin-mesin yang digunakan untuk bla bla bla… Ah…saya paling suka bertanya dan bangga saat bisa mendengarkan penjelasan dari apa yang saya tanyakan.

Senang karena hari ini tidak hanya kami berdua yang tertawa, melainkan ada satu dua tiga orang lain juga. Menyadari bahwa dunia tidaklah sepi, saya bersyukur masih ada orang-orang yang asik (dalam tanda kutip) dan tidak alay di mata saya.

Tulisan pendek ini hanya salah satu bentuk kesuka-riaan saya untuk sore ini. Berharap semua orang juga bisa menemui hari-hari special mereka sendiri dan menandai bahwa hari itu adalah hari yang sangat berharga.

Saya menyenangi hal baru, karena itu membuat pandangan kita bertambah luas
-lk..

Advertisements

A Storytelling: Sebuah Pertemuan

Tidak pernah ada dalam sejarah, Tuhan tidak pernah mendikte setiap langkah dalam gerak kita. Semua jalan yang kita tapaki adalah karena Dia memilihkan jalan itu untuk kita. Seperti halnya aku…disini…bercerita…

Suatu hari di tempat kerja saat aku mau tidak mau harus lembur untuk ikut memonitor hasil print produksi. Aku bekerja di sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan beberapa perusahaan garment yang mengeksport beberapa brand pakaian ternama. Kalau tidak salah hari itu adalah hari ke sepuluh mesin automatic yang baru kami beli, beroperasi. Seperti halnya bayi yang baru bisa berjalan, mesin ini harus selalu diawasi cara kerjanya, termasuk pula operator yang mengatur kerjanya mesin. Memang lelah saat harus ikut memonitor kualitas hingga larut malam, tapi toh lebih baik mencegah daripada memperbaiki hasil print yang rusak.

Hari itu kebetulan turut pula beberapa teknisi mesin untuk lembur. Meski begitu jam lembur tetap terasa membosankan. Sampai aku tahu ada seseorang yang mulai menarik perhatianku. Salah satu teknisi yang, ehm, ‘kutandai’ ternyata datang kembali untuk ikut lembur. Hehehe. Tentu jadi penyemangat tersendiri dong. Namun saat itu mungkin karena aku belum terlalu ‘gimana’ jadi semua yang kurasakan bisa terkontrol oleh akal sehat.
Beberapa kali aku balas menyapa saat ia terlebih dulu menyapaku. Hanya sapaan biasa dari seorang supplier pada customernya. Belum terasa lebih.

Kadang kami berbicara sedikit melenceng tentang ini dan itu. Bukan masalah, karena aku pun biasa begitu dengan customer maupun supplierku yang lain. Hanya salah satu bentuk hospitality yang biasa kami -para marketer- lakukan.

“Jadi biasanya teteh ini yang cari order sendiri?” tanyanya di tengah kegiatan kami yang mengawasi berputarnya mesin. Dia tetap memanggil ‘teteh’ meskipun tahu bahwa aku lebih muda darinya.

“Saya nggak terlalu sih…dari awal saya masuk, semua customer memang sudah ada… Tinggal berjalan aja.” jelasku.

“Ohhh, tapi kalau ada order atau semacamnya bisa langsung contact siapa? Teteh? Kali aja saya ada bakal order gitu.. Hehehe.”

“Boleh boleh…”

“Oiya, ada kartu nama gitu nggak?” tanyanya seolah tau seorang sepertiku selalu memiliki kartu nama untuk memudahkan orang menghubungiku.

“Ada ada…” ucapku sambil melangkah pergi menuju sebuah meja dimana kusimpan notebookku yang terdapat beberapa kartu nama persediaan disana.

Semenjak menjadi seorang marketer, aku mulai membiasakan diri untuk menyimpan beberapa buah kartu nama di dalam dompet, notebook, bahkan tasku. Supaya kalau satu barang lupa terbawa, aku masih bisa mendapatkan kartu nama dari tempat penyimpanan yang lain. Hehehe.

“Ini..” ucapku saat aku kembali.

Dia menerimanya dengan sikap yg normal seperti customer-customerku yang lain.

“Oiya, mau pin bbm? Kalau mau biar ditulis sekalian.”

“Oh boleh boleh teh..” diserahkannya kembali kartu namaku untuk ditulisi pin bbm.

Entah kenapa aku sendiri menawarkan pin bbm, padahal biasanya aku tidak pernah senang ada orang yang tidak kukenal memiliki kontak pribadi denganku.
Mungkin aku hanya sedikit penasaran dengan pria ini. Mungkin…

to be continue..

story & posted by : elkafeni

Review : Gadget – Cahaya yang Membutakan

Wohoo! Dari headline-nya aja udah…hmmm…

Bicara tentang cahaya unik ini memang sulit. Apalagi kalau kita sebagai pengguna sudah mulai membicarakan tentang manfaat dan kekurang manfaatan (mari kita jangan disebut kerugian) dari gadget ini. Saya sendiri kalau ditanya mengenai peran gadget dalam kehidupan sehari-hari pun akan menjawab ‘sangat penting dan sangat dibutuhkan’. Apalagi bagi kita yang sudah terbiasa hidup bersama gadget pasti akan sangat sulit jika satu hari saja -satu hariiiii saja- harus tidak menggunakannya untuk beberapa alasan (misal hilang atau rusak, dsb).

Gadget sudah menempati urutan pertama dalam kehidupan sehari-hari dan memang kalau ditanya manfaatnya pun banyak sekali. Bagi kita yang sering pergi keluar kota, akan sangat rumit jika harus membawa-bawa peta dalam bentuk lembaran kertas berwarna-warni, membuka lembaran besar itu di dalam mobil. Belum lagi harus menghentikan kendaraan saat kita akan kembali melihat jalanan dan hal-hal lain yang membuat kita merasakan betapa tidak praktisnya menggunakan peta. Sebenarnya menyediakan peta di dalam mobil tidak masalah dan menggunakan peta sebagai penunjuk jalan pun bisa dijadikan satu pilihan, tapi kalau gadget kita memiliki fasilitas yang lebih praktis, kenapa tidak gunakan saja gadgetnya?

Awal saya bekerja sebagai marketing saya sering pergi keluar kota. Mengunjungi Bogor, Jakarta, Bekasi, Tangerang dan beberapa tempat di sekitarnya untuk silaturahim dengan customer. Daerah yang ‘mana saya tau’ karena saya tidak pernah tinggal disana. Memang tidak nyetir sendiri, karena ada driver. Tapi setidaknya ada gadget yang biarpun saya hanya dibekali alamat dari selembar kartu nama, saya toh bisa juga bertatap mata dengan customer.
Pernah suatu waktu saya dan driver salah belok dan membuat kami muter-muter di sekitar daerah Setiabudi
-Jakarta, tau sendiri Jakarta, salah belok nyasar deh (buat yang nggak tau jalan). Beberapa kali kami tanya penduduk sekitar mengenai arah menuju tempat tujuan kami, tapi ya ehm, beberapa orang yang ditanyai jawabannya kurang ramah. Merasa tidak ada pilihan lain, akhirnya saya keluarkan jurus terakhir, handphone… Waktu itu sebenarnya nggak langsung buka Map yang merupakan salah satu aplikasi milik Google, tapi nelpon bos yang lebih sedikit tau jalanan Jakarta. Tapi jawaban yang saya dapat nggak kalah kecutnya dari jawaban beberapa orang sebelumnya, “Ribet amat sih lu? Buka Google Map aja.”

Ok. Dan akhirnya jurus terakhir (serius, ini jurus terakhir) saya adalah menggunakan Google Map.
Begitu leganya kami saat sampai di tempat tujuan sampai driver yang mengantar bicara, “Untung ya mbak, ada itu…” katanya tanpa tahu aplikasi ajaib apa yang sudah mengantarkan kami ke jalan yang benar.

Itu adalah salah satu manfaat besar dari gadget atau secara luas saya lebih senang menyebutnya teknologi, hanya salah satu dari banyaaaak sekali manfaatnya; stalkingin mantan, stalkingin gebetan, stalkingin ibunya mantan, stalkingin ibunya gebetan, stalkingin tukang batagor sebelah, stalkingin website belanja online…banyak sekali.

Sebenarnya gadget ini apa sih?
Pengertian yang saya kutip dari , secara estimologi, gadget adalah sebuah istilah dalam bahasa Inggris yang berarti perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Tetapi dari penjelasan diatas akan membuat kita lebih bertanya, “Apa perbedaan gadget dengan perangkat elektronik lainnya?”. Yang paling mencolok dari perbedaan tersebut adalah unsur “pembaharuan”. Simple-nya. gadget adalah alat elektronik yang memiliki pembaharuan dari hari ke hari sehingga membuat hidup manusia lebih praktis.

Sampai di point itu sebenarnya sudah cukup jelas kan? Bahwa ‘gadget adalah alat elektronik yang memiliki pembaharuan dari hari ke hari sehingga membuat hidup manusia lebih praktis’
Menyenangkan bukan? Mungkin di masa depan gadget akan berperan banyak dalam membantu kita mencari pendamping hidup atau bahkan hanya sekedar pacar. Mungkin ya, mungkin. Untuk para jones tolong jangan berharap banyak soal ini.
Kembali lagi ke gadget, contoh yang saya gunakan di awal pembahasan mengenai peta dan Google Map jelas sudah sesuai dengan tujuan penciptaan gadget. Setiap orang -termasuk saya, lho- jika disuguhkan banyak cara untuk pergi Jonggol pasti akan memilih cara yang paling praktis. Nggak mungkin kan ada yang memilih naik bis jurusan Bandung-Solo untuk pergi ke daerah Jonggol? Maunya apa coba??? Kecuali salah bis, itu mungkin.

Ibarat kata mawar indah pun punya duri, begitu juga halnya dengan gadget. Setiap hal memiliki sisi positif dan negatif. Seiring pertumbuhan ekonomi dunia, gadget kini semakin mudah didapat dengan semakin menunjangnya provider yang mendukung akses sebuah gadget ke jaringan internet. Well, seperti Bandung misalnya, bahkan memiliki taman yang menyediakan fasilitas wifi gratis. Cafe-cafe dan hotel tidak ada yang tidak dilengkapi fasilitas wifi. Tidak mau ketinggalan, bis kota pun menyediakan fasilitas yang sama dalam armadanya.
Sebenarnya, jika dilihat dari segi sosialnya, hal seperti ini sedikit mengganggu perilaku sosial yang seharusnya bisa berjalan normal jika setiap pemegang gadget tahu batasan-batasan penggunaannya. Sangat disayangkan juga bahwa anak balita pun diajarkan untuk ‘mengkonsumsi’ gadget yang saya pikir belumlah waktunya untuk mereka tahu.
Begitu juga teknik-teknik pengajaran yang diaplikasikan pada pelajar sekolah menengah. Semakin banyak pelajar yang sudah dibekali oleh laptop sehingga tidak sedikit tugas-tugas yang diberikan untuk diselesaikan yang sebenarnya jika para pengajar itu sendiri tahu, para siswa hanya meng-copy-paste apa yang ada dari website sumber. Bahan tugas tersebut pun hanya diedit sekilas tanpa membaca atau mengkaji ulang konten di dalamnya. Saya lebih suka jika materi tersebut dirangkum sendiri oleh pengajar, yang copy-nya kemudian dibagikan kepada para siswa untuk selanjutnya mereka salin pada buku catatan masing-masing. Dengan teknik tersebut -yang juga menjadi cara yang saya aplikasikan pada saat saya sekolah dulu- siswa bisa membaca saat mereka menyalin konten dari rangkuman tersebut.

Juga tentang menjadikan gadget sebagai ‘pegangan’ hidup -yang membuat kita seolah menjadikan gadget satu-satunya fokus dimanapun dan kapanpun itu- membuat konsep sosial agak sedikit kacau. Kan nggak lucu saat orang sedang berkumpul lantas setiap dari mereka malah memperhatikan gadget masing-masing. Belum lagi kalau berhadapan dengan social media. Sedikit-sedikit update status; sedang sedih update, sedang sakit perut update, sedang sakit kepala update, banyak hutang update, banyak istri update, beli mobil baru update sampai-sampai dia dikira berubah jadi transformer. Sebelum makan foto sama makanan, sedang jalan-jalan foto kaki (ini termasuk saya), sedang hamil foto hasil usg, setelah melahirkan foto bayi, sedang tidur foto iler…semuaaa serba diupdate dan share ke media.
Pasti merasa sebal kan? Karena gadget ini pula akhirnya sedikit demi sedikit terjadi kesenjangan sosial yang bla bla bla detailnya mungkin bisa diterka oleh masing-masing orang.

Mengenai fungsi yang seperti itu, sebenarnya gadget tidak bisa dikambing hitamkan yang lantas membuat kita menutup diri terhadap gadget. Seperti istilah ‘menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh’, sebenarnya hal tersebut masih bisa dihindari mengingat bahwa kita memiliki kendali penuh terhadap gadget yang kita gunakan.
Tergantung seberapa pandai kita mengendalikan diri terhadap ego diri kita sendiri.

Semoga saja ya, kita selalu mendapat hikmah dari semua hal yang kita jalani.

-lk.. (August 25, 2015)

Kisah di Dasar Jurang

Aku adalah tokoh yang kalah dalam drama. Terhempas karena watakku sendiri. Terlalu dingin dan laif pada perasaan. Antagonis, berhasil mendamparkanku pada jurang tak berlandas. Kedua kakiku membelah dan mererobos angin di lubang yang buta. Sama butanya seperti aku. Semua warna yang pernah kulihat, bebauan yang pernah kucium, dan segala bentuk yang selama ini kuraba, hilang tanpa sisa, selain tebing dan bebatuan tajam yang menikam. Seperti orang hidup yang menjalani kehidupannya dalam peti mati. Jangankan masa depan, masa kini pun bayangan hidupnya masih abstrak. Tak ada keinginan, cita-cita, dan ambisi. Segala keindahan yang pernah kudapat, kulepas begitu saja demi menghanyutkan diri dalam curamnya masa lalu.

Aku menyerah pada bulan-bulan yang sendu. Hidupku seolah tiada masa. Malam dan pagi, hujan dan kemarau, semua meninggalkanku dalam ratapan. Sampai aku diguncang oleh suara indah yang alunannya menggema, menjalari bebatuan tajam yang membangun tebing ini.

“Bukankah kita pernah saling mengenal?”

“Betul, kita pernah saling mengenal.” Balasku dengan senyum yang terkembang begitu tulus dari kedua belah bibirku.

Aku gembira, hingga aku merasa bahwa kerumitan dan ketegangan ini akan segera berakhir. Meski tak ada wujud yang bisa kupandangi, aku tetap tahu bagaimana dirinya. Lembut dan sempurna, walau hanya suaranya yang nampak.

Aku yang mengaguminya, perlahan mampu mewarnai lembar-lembar hati yang abu-abu dengan warna merona darinya. Jingga dan biru mulai terlihat berbeda. Bebatuan runcing di antara tebing yang  menghimpitku, mulai terasa longgar. Pagi dan malam mulai kubangun kembali dalam hidupku.

Ada banyak macam hal yang mulai kupercayakan padanya. Tentang kebodohan, dan egonya seorang manusia; juga sebuah pengakuan tentang semua hal itu. Dan hal indah yang bisa kunikmati dari hal itu adalah tawa dan nasehatnya.

“Kekeliruan memang terjadi pada siapa saja. Suasana dan keadaan kadang mendorong untuk bertindak. Hati , kadang jangan terlalu diikuti. Hidup itu keras, jatuh itu sakit. Tapi yakinlah dan tegar, kita masih punya Tuhan untuk pegangan.”

Kalimatnya terdengar seperti nyanyian yang alunannya menggema ke seluruh tebing itu. Begitu merdu…dan bisa kurasakan senyumnya yang hangat dan menenangkan. Dialah kawan terbaik yang pernah dan ingin kumiliki – yang dengan lembut mampu mengembalikan ketegaran yang sudah lama pergi, hingga segala haru biru yang menggunjing jiwaku…semuanya hanyut dan larut. Dan ucapan ‘terimakasih’ ku mengantarkannya kembali pada malam dalam dunianya.

*       *       *

Aku memang manusia yang mudah menyerahkan diri pada cinta, yang ketika bahagia akan melupakan kesedihan, dan ketika menderita akan melupakan kesenangan. Tak pernah aku berpikir bahwa aku akan menaruh hati pada lelaki yang dia sendiri telah memberikan hatinya untuk dewi yang lain – dewi yang begitu ingin kucaci maki sepuas hati. Yang pernah menjadi anjing setia, lalu menjelma seperti singa yang mengancam.

“Sedekat apa kamu dengannya?”

“Awalnya begitu dekat. Kaki kami selalu berpijak di atas jalan yang sama, kami membangun mimpi dan harapan yang sama. Aku adalah bayangannya, dan dialah bayanganku – setidaknya aku dan dia pernah mengalami itu. Tapi kemudian kami begitu marah dan pernah ingin menghabisi satu sama lain.” Ucapku.

“Haruskah itu? Dia juga temanku.”

Suara merdu itu tiba-tiba menjelma jadi gelegar petir. Aku tertawa sendiri, tak percaya dengan apa yang kudengar. Namun hatiku terus bertanya…bertanya pada diriku yang juga tak mampu memberikan jawaban apapun. Mataku nyalang memandang ke seluruh penjuru tebing. Mencari-cari sesosok yang hanya bisa kudengar suaranya. Bisakah kau menatapku? Tidakkah kau lihat betapa pucat wajahku?

“Teman? Benarkah?” tanyaku dengan suara yang bergetar menahan marah yang entah tertuju pada siapa.

Aku mengharap bisa mendengar jawaban yang berbeda.

Tapi rupanya, “Ya” dan dunia ini benar-benar telah hancur rasanya.

Aku begitu tegang menghadapi kenyataan pelik itu. Benar-benar ingin marah, tapi pada siapakah kuarahkan semua itu? Takdir bukanlah lawan yang imbang untuk perdebatan ini. Dunia begitu angker, menyeramkan. Membuatku takut dan ingin segera mati.

Banyak kata yang berdesakan dalam hatiku. Amarah-amarah itu tak pernah bersuara, mereka semua hanyalah pengecut yang hanya mampu diam dalam damainya kebingungan.

“Mungkin dia akan membenciku jika kamu tidak meminta maafnya. Selain tentang hal itu, untuk sementara aku tidak ingin membicarakan apapun denganmu. Seburuk apapun keadaan  itu, tetaplah memandangnya dari segi yang positif. Bila pesan itu bisa kamu terima, aku akan bangga padamu – sampai mati.”

Suaranya hilang dan menjadikan tebing curam ini makin lengang dan mengerikan. Benarkah dia pergi dan meninggalkanku yang sungguh putus asa ini? Seorang diri dan tergeletak pada sebuah batu – tanpa segores pun luka, namun dengan hati yang berdarah dan pedih.

“Segini sajakah?” aku bergumam dengan tawa yang tertuju untuk diriku sendiri.

Tak ada jawaban. Aku tahu dia pergi, tapi aku menunggu.

Tidakkah dia lihat apa yang kurasakan dalam hatiku? Sosok seperti apakah dirimu, menghakimi lalu meninggalkanku tanpa kau tau apa yang terjadi? Kenapa harus dirimu? Kenapa bukan orang lain yang kutemui? Bisakah kau jawab pertanyaan ini?

Aku memandang cahaya yang berada jauh di atas sana – di mulut jurang tempat dimana aku memenjarakan diri dan putus asa. Kucoba mengulurkan tangan, meraih setitik cahaya yang sangat jauh hingga terlihat seperti sebuah bintang dalam kisah kehidupan nyata yang indah. Namun kemudian aku tersadar dan merasakan lututku yang menjadi lemah. Aku terduduk, lalu berteriak sekencang yang kubisa. Sayangnya sakit itu takkan mudah lepas. Ia begitu nyata dan terasa lebih memilukan dari yang pernah terjadi padaku sebelumnya.

Mereka saling bersahutan – dendam dan ketulusan bergumul dalam jiwa ini – menjadikanku merasa lebih lelah lagi. Kubiarkan mereka saling menyalahkan sementara dengan lemahnya, aku kembali tergeletak. Bahuku bergetar, dadaku mulai bernafas sesak. Aku berbaring dan mulai merintih. Kurasakan pendar-pendar air mata di antara wajahku. Kulihat mereka mulai berjatuhan…melengkapi kesendirianku yang makin pilu berkat mereka. Tak terdengar apapun lagi dalam tebing itu selain tangisanku sendiri.

*       *       *

Hatiku yang enggan disapa

          Tiba-tiba ingin pula ceritera diri

          Kembali damba akan suaramu

          Dalam angan sendiri

Aku masih terkulai dalam keangkuhan sekaligus ketidakberdayaanku melawan garis hidup. Padahal aku ini adalah seorang pembangkang sejati yang selalu mampu memungkiri kenyataan, bahkan perasaanku sendiri. Di balik lemahnya ragaku, tak sedikitpun aku berhenti memikirkan ketidakadilan ini – tentang kemarahanku, tentang rasa benci ini – kenapa semuanya seolah sedang menyalahkanku? Padahal aku sendiri dibuatnya terdampar, berada di sudut paling curam dan dalam, tapi kenapa pula mereka masih berusaha menyudutkanku?

Aku makin tak berdaya ketika kenyataan menuntunku pada kidung penantiannya pada dewi itu. Ungkapan-ungkapan cinta yang menenangkan, bait-bait ketulusan…mengalir begitu saja dari mulutnya. Tanpa ada yang tersembunyi, diungkapkan seluruh perasaannya. Suara-suara itu bersatu padu dan bergema agung di sekitar penderitaanku, terdengar sumbang dan menyakitkan. Namun tak ada hal lain yang kuingat selain kemalanganku sendiri. Tubuh yang selalu utuh ini tak mampu menyembunyikan jiwa yang kotor dan rapuh.

Lagi-lagi hati ini tak mau bicara

          Dan dunia enggan pula dirayu

          Terserah..!

          Seakan semua itu tak peduli

          Dan aku bernyanyi tanpa nada

*       *       *

Tanpa dia tahu, aku mulai meninggalkannya. Bukan keinginanku untuk mundur selangkah demi selangkah. Tapi siapa yang akan tetap bertahan dalam keadaan menyedihkan seperti ini? Aku tidak ingin berkecimpung lebih lama lagi di antara cinta orang yang kukagumi pada orang yang kubenci. Aku juga tidak ingin menjadikan cinta dan takdir sebagai korban dari konspirasi ini. Mereka bekerja bersama Tuhan dan rahasia-rahasia-Nya.

Aku menertawai diri yang masih belum bisa menerima kenyataan yang baru saja kuterima. Lalu apa? Rasa sakit ini tidak akan hilang dengan semudah itu. Kebencian yang tersimpan bukanlah rasa yang kutanamkan dengan sengaja, ia tumbuh begitu saja karena salahnya – ‘dewi’-mu itu – walaupun memang aku sendiri yang tidak pernah mencoba ikhlas menerima perkataan-perkataan yang menyakitkan dari seseorang yang dulu pernah menjadi sahabatku itu. Tapi lelaki itu – dirimu – yang sanggup kau katakan hanyalah pembelaan untuk pihak yang kau cintai. Dan aku? Tentu saja diabaikan, tanpa dia peduli seburuk apa hidup yang kujalani selama ini bersama rasa pahit menggenggam kebencian. Ataukah dia pikir hidupku berjalan normal dengan penuh bahagia?

“Jika kamu cukup bodoh untuk meninggalkanku, semoga aku cukup pintar untuk merelakanmu.” Tiba-tiba dia datang bersama kalimat itu.

Apalagi kali ini? Kupikir kehadiranku tidak lagi menjadi keinginannya. Meski belum sepenuhnya mempercayai ini semua, aku tak kuasa menahan diriku untuk menyapanya. Aku benar-benar merasa rindu hingga tersenyum karena suara itu terdengar lebih nyata dari sebelumnya. Apa yang kau rasakan? Bukankah kau juga menginginkanku?

“Bukan itu maksudku, masih terlalu dini untukmu bisa mengerti. Bisakah pikirkan kembali? Kali ini pikirkan lagi dengan hatimu. Pahami aku, pahami perasaan, juga keinginanku. Jangan terlalu buru-buru. Hati ini butuh waktu, beri dia waktu. Hati ini butuh ruang, beri dia sedikit ruang. Untuk tersenyum, lalu tenang, hingga benar-benar sanggup melupakan semua hal yang menyakitkan.” Seketika kuucapkan semua kemarahanku itu untuk menyambut kedatangannya.

Dia tertawa, dan kubayangkan senyumannya setelah itu. Aku ikut tersenyum dan kembali mendengar kisah-kisahnya lagi. Tapi rasanya kegembiraan itu amat canggung jika aku mengingat kembali bagaimana isi dalam hatinya.

“Aku ingin tidur, tapi kegelisahan terus menakutiku.”

Dia-kah yang ingin kamu ceritakan?”

“Jika ‘ya’, kamu akan membenci ini?” tanyanya.

“Jika ‘ya’ kamu tetap takkan peduli.”

Hening sejenak.

“Aku sedang berusaha untuk tidak membencinya.” Ucapku lagi.

“Aku mendengarnya…dia menangis.” Suaranya berubah, terdengar lebih sayu dari sebelumnya.

“Lalu apa yang kamu lakukan? Bukankah kamu bisa mengobati luka siapa saja?” tanyaku, lalu kembali teringat pada petuah-petuah yang diucapkannya untukku dulu.

“Ya, kecuali dia.”

Jurang istanaku kembali menjadi hening.

“Aku begitu peduli tentang dirinya. Tapi aku merasa salah jika harus terus-menerus membayangi dia. Dalam masa-masa sulit, tentu saja dia selalu menanti perhatian dan pengertian dari seseorang, sayangnya bukan aku orang yang dia inginkan untuk memberikan itu semua. Aku jadi lumpuh.”

“Rupanya kita berdua sama.” Ucapku dalam hati.

Aku mendengar kalimat-kalimat yang dia kisahkan. Aku tersenyum sesekali dan melontar tanya meski hanya sepatah kata. Batinku mulai heran tentang kenyataan dan garis takdir-Nya. Seperti air yang mengisi sungai-sungai, kami mengalir begitu saja mengikuti likuan arahnya. Seperti pula halnya sebuah kotak dadu, tak ada yang tahu berapa titik yang akan muncul setelah ia dilambungkan dan jatuh.

Berhari-hari dia terus bercerita. Meski seringkali aku ingin tahu tentang bagaimana perasaannya, pada akhirnya semua itu hanya menjadi sebuah pertanyaan. Kadang aku berpikir, mungkin seperti itu akan lebih baik. Tetap tidak tahu apa yang dirasakannya, daripada harus mendengar penjelasan itu dan membuat ruang hidupku makin sesak. Tetap diam atau mengetahuinya, kita takkan pernah untuk saling memiliki.

Aku tetap setia mengikuti setiap naskah yang sudah menjadi bagianku. Kadang aku merasa terhibur karena suara indahnya yang menyapaku. Tapi seringkali aku mengalami detik-detik dimana aku merasa dicambuk oleh emosi dan perasaanku sendiri. Namun aku tak ingin berada lebih lama lagi dalam tempat yang menyedihkan ini. Aku enggan menelan luka yang lebih pahit dari ini.

Aku pun berlalu tanpa beranjak dari tempatku. Aku menyerah pada pertanyaan yang masih ingin kucari jawabnya hingga kini. Tapi biarlah, biar saja menjadi teka-teki. Supaya aku bisa dengan setulus hati mengakhiri apa yang belum dimulai terlalu jauh. Supaya aku bisa dengan setulus hati menertawai kekalahan dan perasaan ini.

-lk.. (Dec 6, 2011 – latepost)

Film Review : Orange Marmalade (Korean Drama)

download

Sekilas inilah daftar cast pemeran utama dari serial drama Korea Orange Marmalade:

Yeo Jin Goo as Jung Jae Min
Seol Hyun as Baek Ma Ri
Lee Jong Hyun as Han Shi Hoo
Song Jong Hoo as Han Yoon Jae
Gil Eun Hye as Jo Ah Ra
Lee Il Hwa as Jae Min’s mom
Ahn Kin Kang as Ma Ri’s dad
Yun Ye Hee as Ma Ri’s mom

Drama bergenre romantic comedy yang diadaptasi dari sebuah komik karya bapak Seok Woo ini -hehehe- sungguh sangat menarik. Walaupun awal ceritanya bisa dibilang flat and bored, menceritakan tentang keluarga vampire yang hidup di antara manusia, untungnya karena drama ini hanya ada sekitar 12 episode, jadi saya putuskan untuk melanjutkan membaca -lho, bukan nonton?’ sinopsisnya. *anyway, untuk drama Korea yang bergenre seperti ini saya lebih suka baca sinopsis saja

Nah, lalu? Ternyata di pertengahan episode, dengan tokoh dan karakter yang sama, kita dibawa kembali ke jaman kerajaan Korea dimana di jaman kerajaan ini, tokoh dan karakter menjadi bagian dari sebuah masa lalu -ini sisi menariknya-. Pertama mungkin kita akan berpikir “nyambungnya dimana?” tapi jangan berhenti sebelum menemukan titik terang ya.
Ceritanya tetap sama, Seol Hyun serta keluarganya menjadi vampire dan kaum rendahan sedangkan Yeo Jin Goo adalah anak dari salah satu menteri kerajaan. Walaupun berada di kehidupan yang berbeda, namun hidup mereka diadili dengan adat dan masyarakat yang tidak berubah.

Sedikit berbagi mengenai salah satu scene yang paling dalam yang saya ingat. Adalah ketika Seol Hyun sebagai Baek Ma Ri pasrah saat akhirnya identitasnya sebagai vampire terbongkar. Ma Ri yang awalnya bertekad untuk menetap di sekolah terakhirnya sampai lulus (fyi, sebelumnya dia dan keluarganya berpindah-pindah tempat tinggal dan sekolah saat identitas aslinya diketahui) harus menerima kenyataan bahwa tidak ada satupun orang yang mau menerima dirinya sebagai vampire. Sampai pada suatu ketika saat pulang sekolah teman-temannya terus menggunjingkan dia. Ma Ri yang awalnya ingin bersikap masa bodoh dengan memakai handsfree di telinganya, kemudian mengurungkan niatnya itu dan memutuskan untuk menghadapi sikap teman-temannya dengan berani. *tepuk tangan
Hal ini -salah satunya- membuat saya sadar bahwa diciptakan sebagai apapun kita, rasa bersyukur tidak boleh ketinggalan. Ma Ri tidak pernah membenci dirinya yang terlahir sebagai seorang vampire, juga tidak pernah menyalahkan kedua orang tuanya dengan keadaannya itu, bahkan dia selalu tersenyum seolah semua baik-baik saja saat orang tuanya mengkhawatirkan dia di sekolah. Part ini juga mengajarkan kita tentang betapa besar peran saling menghargai dalam kehidupan kita. ‘Menjadi berbeda bukanlah sebuah dosa’. Point berharga ini yang mungkin benar-benar ingin disampaikan penulis.

Hidup ini terlalu berharga jika kita gunakan dengan membuang tenaga memikirkan perbedaan atau hanya sekedar mengkambing hitamkan takdir atas situasi kita yang tidak baik.
Kesempurnaan ada setelah kita dengan sabar menyatukan potongan-potongan yang terserak secara random, sama halnya dengan perbedaan…every piece of it can be an important part of the whole world. Begitu juga dengan diri kita…jangan dengan mudah menjudge atau ‘menunjuk’ sesuatu yang secara fisik atau cara berpikir berbeda dari kita adalah sesuatu yang harus dijauhi atau dimusnahkan. Perbedaan tidaklah ‘mengganggu’ seandainya kita juga dengan tulus bisa mencintainya. *untuk point yang satu itu saya juga masih harus belajar lagi ^^

Seandainya happy ending, saya lebih suka dengan part dengan setting latar dan waktu kerajaan ini karena pointnya ‘bener-bener dapet’, sampai membuat air mata saya merinding dan bulu kuduk bercucuran (*abaikan) walaupun hanya dengan baca sinopsis saja. *terima kasih untuk penulis sinopsisnya juga
Alasannya kenapa? Biar gereget bisa baca langsung sinopsisnya di link yang sudah saya share di akhir posting ini.

Deeply apreciate kepada semua crew film, cast, producer, writer dan tentunya si pembuat komik yang dengan kreatif dan magically bisa mengemas film ini semanis mungkin hanya dengan 12 episode. Tidak lupa juga dengan original soundtrack yang manis-manis, sampai membuat saya mendengarkan ‘Memories About You’ (salah satu ost) dari awal sampai akhir saya menulis postingan ini. Entah kenapa saya nggak berharap episodenya ditambah. *biar greget

Saya harap di kemudian hari akan banyak penulis yang mengadaptasi great story seperti ini sebagai bahan pembelajaran untuk pembaca atau penontonnya.

Oke readers, di akhir postingan ini saya bagikan link menuju makna (*hahahaha) bagi kalian yang mau ikutan baca sinopsisnya juga. Atau yang lebih suka nonton boleehhhh, tinggal beli dvd nya di toko dvd terdekat.

http://barusinopsis.blogspot.com/2015/04/sinopsis-lengkap-orange-marmalade.html

Happy reading, happy watching, and find your own meaning.
Saya tunggu reviewnya juga bagi yang sudah baca sinopsis, komik, atau bahkan nonton filmnya…bisa sharing disini.. ^^

Dan terakhir, karena ini drama Korea, saya ucapkan hatur nuhun… *eh, kamsha hamnida

-lk..

Untuk Dilar : “Walaupun bersamanya adalah hal yang sangat penting, namun dengan siapa dia bersama adalah hal yang lebih penting lagi…”

Sudahkah kamu merasa lebih baik? Kurasa belum.

Terasa sama seperti sebelumnya. Kenapa? Tidak tahu. Hanya berjalan begitu saja. Tapi terkadang aku merasa bahwa semua kecanggungan ini berjalan seperti biasanya. Atau aku yang terlalu terbiasa menghadapi rasa canggung. Mungkin aku kebingungan. Entah karena apa. Hanya saja sebuah prahara tidak mudah dipadamkan. Seperti api yang menyambar minyak, ia tahu tempat mana yang paling mungkin dia datangi.

‘Dia ingin melangkah jauh, disaat sebagian dari dirimu belum sanggup melakukannya. Terlalu timpang perbedaan hingga akhirnya jalan yang dipilih jadi terbelah. Aku tersadar bahwa harusnya kalian terpisah bukan disaat kalian tidak saling cinta lagi.’

Tapi aku bingung. Karena semua berjalan seperti apa adanya.

Bisakah kubaca satu persatu dari isi hati mereka? Terlalu sulit jika aku  harus menelisik ke dalam tatapan yang aku tak tahu harus seperti apa kuartikan.

Sebenarnya saat ini aku tidak sedang memikirkan diriku sendiri.

Walaupun bersamanya adalah hal yang sangat penting, namun dengan siapa dia bersama adalah hal yang lebih penting lagi…

 

-lk.. (May 31, 2015 – latepost)

Untuk Dilar : Tentang Masa Lalu

Ada banyak hal yang bisa membuat orang berpisah…juga banyak alasan yang membuat orang bisa bersama.

Kita salah satunya, pernah dibuat terluka dan hanyut dalam rasa kecewa. Sempat beberapa waktu tidak ingin lagi menghadirkan cinta dalam hati kita, tapi cinta memiliki mahadayanya sendiri sehingga akhirnya kita bersama.

Dalam fase ini, Dilar…aku mengerti bagaimana beratnya kamu saat berusaha untuk tidak mempedulikan sebuah kisah masa lalu yang tidak ingin kamu ingat lagi. Kamu bukan ingin kembali, hanya saja mungkin terkadang kamu merasa sesak dan takut jika mungkin kamu tidak bisa merasakan bahagia seperti yang orang itu rasakan.

Saat ini kamu sedang berusaha mencari pembenaran atas sikapmu dulu. Kamu sedang mengingat-ingat bagaimana dulu kamu tidak pernah menyesal telah meninggalkan masa lalumu. Kamu sedang berusaha meyakinkan dirimu sendiri bahwa jalan yang kamu pilih adalah jalan yang kamu inginkan meskipun itu bukan berarti jalan yang sudah benar.

Just do it, Di…

Aku mengerti. Akupun pernah mengalaminya. Jangan takut. Kamu tidak akan hanyut lagi…ada aku.

Setiap macam dari manusia akan selalu saling menemukan…tapi juga akan selalu ada alasan saat beberapa dari mereka untuk berpisah. Ini bukanlah tentang benar dan salah sayang…dalam pikiran manusia, kata salah dan benar adalah bergantung pada apa yang mereka pikirkan…hanya tentang sudut pandang. Dia benar dengan jalan pikirnya, begitu juga kamu. Semua hanya tentang waktu hingga akhirnya individu itu menemukan isi kepala yang hampir sama.

Aku tersadar bahwa melupakan dan berusaha meninggalkan masa lalu bukanlah hal yang pantas dilakukan pada ‘guru’ kita ini. Jadi mulai hari sekarang…ayo kita belajar…menghargai setiap bagian dari takdir kita.

Lagipula jika bicara tentang pakaian, kamu adalah ukuran yang pantas kupakai…walaupun masih sedikit kebesaran di bagian sini dan situ, ini bisa dijadikan sebagai model fashion yang baru. itulah yang membuatku jatuh cinta..

Kalau kita bisa…aku ingin pergi dengan kamu di hari itu..meninggalkan tempat ini…jauh…dan hanya berbicara tentang kita saja. Masih luas angit di atas sana untuk kita pandangi.

 

With love, always

-lk.. (May 25, 2015 – latepost)